
Waktu berlalu dengan cepat, hari kelulusan pun tiba. Tristan sudah pasti menyempatkan diri untuk hadir di acara penting ini, mewakili Tuan dan Nyonya Harrison.
Di salah satu sudut aula penuh dengan murid-murid yang mengenakan toga, mereka terliat serius mendengarkan briefing dari guru mengenai run down acara hari ini.
Akhirnya upacara kelulusan dimulai, wajah-wajah ceria maju ke panggung satu per satu untuk menerima piagam kelulusan mereka. Tepuk tangan dan bunyi suitan bersahutan mengiringi langkah setiap lulusan yang naik ke panggung.
Saatnya tiba bagi Crystal untuk menyampaikan pidato singkatnya sebagai perwakilan siswa. Dia menghembuskan napas, menenangkan diri sebelum naik ke panggung.
Dia sudah berlatih berlatih berulang kali dirumah, baik dari pelafalan maupun pilihan kata dipersiapkan dengan baik olehnya. Berulang kali, dia menanyakan pada orang rumah mengenai penampilannya.
"Bagus, Nona! Bagus!" Suster Anna, Pak Supri, Mbak Putri, Mbak Tari, beberapa satpam, dan chef bertepuk tangan saat Crystal berpidato menggunakan Bahasa Inggris yang tidak mereka mengerti sama sekali.
Wajah-wajah mereka terpana melihat bagaimana menakjubkannya Nona mereka berbicara sambil berdiri diatas bangku panjang.
"Memangnya kalian tau aku ngomong apa?" Mendadak Crystal meloncat dari bangku dan berkacak pinggang.
Para siswa gadungan itu saling menoleh dan menatap satu sama lain.
"Ehm... enggaaak Nona." jawab mereka serempak.
"Apaaaa??? Kalau nggak ngerti kenapa bilang bagus?" Crystal mencak-mencak.
"Kalau gitu dengerin sekali lagi, awas kalau masih nggak paham." ancam Crystal. Dia naik lagi ke atas bangku panjang.
"Sebentar Nona, sebentar. Tapi suster musti siapin toga sama baju untuk acara kelulusan besok loh, Non." Suster Anna sudah lelah dan bosan menunggu Crystal mengulang-ulang terus latihannya.
"Iya, Nona... kami mau masak dulu." kata Mbak Tari dan Mbak Putri hampir berbarengan.
"He-em, Tuan Tristan bisa marah kalau pos depan kosong kelamaan."
"Bapak juga harus cuci mobil, biar besok mobilnya cantik kaya yang naik."
Satu per satu penonton melarikan diri, meninggalkan Crystal yang berkacak pinggang diatas kursi.
Dan kali ini, Crystal melangkah mantap dengan penuh percaya diri naik keatas panggung. Lampu sorot yang menyilaukan menyorot padanya. Dia berusaha menganggap para penonton adalah para pelayan dan satpamnya dirumah.
"Hello teachers, parents, friends and everyone here, thanks for coming. Thanks for this occasion." Suaranya tenang, bergema di seluruh ruangan.
(Terima kasih sudah datang. Terima kasih atas kesempatan ini.)
"What do you think for today, Friends? Happy or sad? Our high school already done." Crystal tersenyum lebar saat mengucapkannya.
(Apa yang kamu pikirkan tentang hari ini? Sedih atau senang? Masa SMA sudah kita lalui.)
Tristan yang duduk di deretan paling depan, diam-diam merekam penampilan Crystal dengan ponselnya. Crystal sungguh memukau, membuatnya semakin jatuh cinta.
"And me? Personally, I am both happy and sad."
(Kalau aku? Secara pribadi, aku senang sekaligus sedih.)
"Finally, the day to say good bye come. Please, say thank you to the support system surrounds us. Parents, family, friends, brother, sister, and all of the teachers. Thanks for teaching, sharing, caring and loving us.
-- (Akhirnya tiba waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal. Ucapkan terima kasih pada semua yang sudah mensupport kita. Orang tua, keluarga, teman, kakak, adik, segenap guru. Terima kasih sudah mengajar, berbagi, peduli dan mencintai kita.)
-- (Setelah ini, kita akan membungkus semua kenangan masa remaja kita dan melangkah menuju sebuah fase hidup yang lebih bertanggung jawab.)
Ada haru dan bangga terselip dihati Tristan saat mendengar kata-kata Crystal. Haru karena bocah cilik yang manja dan suka menangis itu sekarang sudah menjadi gadis dewasa.
Dan Tristan juga bangga karena Crystal berhasil membawa penonton mengenang kembali masa-masa remaja yang telah mereka lalui.
"Times can fly, but the memories will remain in our heart. Don't forget these days, because today is the day we're gonna miss in the next days." Ada haru yang terselip melihat bocah kecil tukang nangis dan manja itu, kini sudah menjadi gadis dewasa.
-- (Waktu bisa berlalu, tapi kenangan itu akan selalu tersimpan di hati. Jangan lupakan hari-hari ini, karena hari ini akan kita rindukan di masa mendatang.)
Para murid menangis dan tertawa bersamaan mendengarkan pidato siswa lulusan terbaik sekolah mereka.
"And once again! It is sad to say good bye... I know." Mata Crystal berkaca-kaca, dia menarik napas dan melanjutkan. "However, we are ready to face the world, Guys. FIGHTING!!!"
--- (Dan sekali lagi! Memang sedih untuk mengucapkan selamat tinggal... Aku tau itu.)
-- (Tapi, kita siap menghadapi dunia ya Gaes. SEMANGAT!)
"Say it loudly to the friends next to you, and also to yourself.
-- (Katakan keras-keras pada teman-teman di dekatmu dan juga dirimu sendiri.)
"HAPPY GRADUATION!" Crystal berteriak penuh semangat sambi mengepalkan tangan keatas.
Gemuruh tepuk tangan dan teriakan happy graduation bergema. Mortarboard dilemparkan keatas mengiringi gegap gempita kelulusan para siswa.
***Mortarboard \= topi toga.
Crystal tersenyum diatas panggung dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. Rasa haru, bahagia dan sendu berkecamuk di dadanya.
Turun dari panggung, Tristan menyambut Crystal dengan sebuah bouquet bunga besar.
"Congratulations, Crystal." kata Tristan.
Dan Crystal pun menghambur ke pelukan hangat Tristan.
"Thank you for always there for me." bisik Crystal.
(Terima kasih selalu ada untukku.)
"It's a blessing to meet you in my life." balas Tristan.
(Adalah sebuah berkat bertemu denganmu dalam hidupku.)
Bersambung ya....
Happy weekend everyone, thank you for reading.
Haha... lagi-lagi inget jaman SMA. Siapa yang pernah badung waktu SMA?