I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
PENGUMUMAN KARYA BARU




Mike memejamkan matanya, dia ingin beristirahat melepas penat setelah pulang kerja. Perut kenyang dan suasana tenang di kamar, membuat pria itu merasa nyaman. Di saat mata terpejam, maka indera pendengaran pun terasa lebih tajam. Gemericik air dari shower di kamar mandi samar - samar terdengar di telinganya, Rosaline, istrinya, juga sedang menikmati waktunya di kamar mandi.


Semua terasa begitu menyenangkan bagi Mike saat itu, rasanya tentram. Hingga sebuah getaran notifikasi ponsel mengganggunya. Mike mengangkat bahunya, tak mau ambil pusing dan berusaha kembali tenggelam dalam ketenangannya.


Drrrrtt...


Dan kali ini, getaran ponsel di atas nakas sebelah tempat tidurnya, berhasil mengusik ketenangannya. Mike mendengus kesal, membuka mata dan melirik kesal ke arah sumber suara.


"F-U-C-K!" umpatnya kesal, tangannya menyambar ponsel Rosaline.


Matanya menangkap sebuah pop up pesan dari nomer yang tak dikenal. Tulisan yang tertera di layar benar - benar mengganggu mata Mike.


'S-a-y-a-n-g?'


Mike mengerutkan kening, mengeja huruf demi huruf dengan hati - hati, apa mungkin dia yang salah membaca ataukah...


Dada Mike bergemuruh, harga dirinya tersenggol. Siapa yang berani memanggil istrinya dengan sebutan sayang? Dengan sekali usapan jempol, pesan itu terbuka. Mike ingin memastikan apa saja yang tertulis disana.


Ternyata benar. Seseorang mengirim pesan kepada istrinya dengan panggilan sayang. Memang hanya satu kata itu yang tertera di aplikasi pesan pribadi milik Rosaline. Satu kata namun dikirimkan beberapa kali, mengesankan pengirim pesan sedang memanggil - manggil Rosaline.


Mata Mike menatap nanar layar ponsel yang ada di tangannya, darah mengalir deras ke kepala. Orang di seberang sana sudah melanggar teritorialnya. Dengan penuh emosi, jari - jari Mike pun bergerak cepat di layar ponsel milik Rosaline.


'Ada perlu apa dengan istriku malam - malam begini?'


Tanpa basa basi dan tak perlu pikir panjang, Mike langsung mengirim balasan pesan ambigu itu. Sekarang Mike duduk di tepi tempat tidur, dengan kedua siku bertumpu pada kedua lutut. Matanya menatap layar, wajahnya terlihat tak sabar menunggu jawaban dari pengirim pesan ambigu tersebut.


Di tempat lain, seorang pria membelalakkan matanya. "Dasar ceroboh!" desis Aaron kesal.


Alih - alih menyesali diri karena mengirim pesan pada istri orang, dia justru merutuki kecerobohan Rosaline hingga mereka ketahuan sedang berkirim pesan.


Otaknya segera berpikir cepat, dia harus melakukan sesuatu atau Rosaline dan dirinya akan ketahuan.


Sesaat kemudian, Aaron menjentikkan jarinya, dan segera menghubungi seseorang untuk membantunya menyelesaikan permasalahan ini.


Tawa renyah seorang wanita menyambut Aaron. "Selamat malam, Tuan. Akhirnya anda membutuhkan bantuan saya." sapanya dengan nada penuh kemenangan. Wanita itu tahu, cepat atau lambat Aaron dan Rosaline akan mencari dan menggunakan jasanya.


Aaron mendengus, sebenarnya dia tak ingin menghubungi wanita ini. Mau bagaimana lagi? Situasinya sedang urgent.


"Yes, Madame Ella." Aaron mengusap rambutnya dan langsung mengatakan tujuannya. "Sial! Kami ketahuan! Suami Rosaline baru saja membaca pesanku kepada istrinya." Dan, Aaron dengan cepat memaparkan kronologis kejadiannya, mereka harus cepat bertindak sebelum Mike benar - benar curiga.


Beda Aroon, beda lagi Madame Ella. Dengan santai Madame Ella menjawab. "Itulah gunanya ada aku disini, Sayang."


"Hey, lakukan sesuatu!" sahut Aaron kesal.


"Chill, Sayang. Berikan saja OTP ponselmu padaku. Aku akan mengatasinya."


"Hah? Itu privacy-ku!"


"Ini untuk kepentinganmu, hey! Atau kamu mau ketahuan? Aku akan menjaga privacy-mu asalkan sesuai perjanjian." Sahut Madame Ella lagi, suaranya tenang dan meyakinkan.


Aaron menghembuskan napas, dia harus memutuskannya saat ini juga. Tak ada jalan lain. "Baiklah. Jangan sampai kamu menyalah gunakan kepercayaanku, Madame. Dan satu lagi, aku mau semuanya rapi!" ucap Aaron pelan, tersirat nada ancaman di dalamnya.


Lawan bicara Aaron itu tak merespon, di seberang sana wanita itu tersenyum miring sambil mematikan ponselnya. Akhirnya, Aaron dan Rosaline membutuhkan jasanya. Welcome to the club!


Tak butuh waktu lama untuk memindahkan aplikasi pesan Aaron ke ponsel pribadinya. Beberapa menit kemudian, jari - jari lentik dan terawat milih Madame Ella itu langsung menari diatas layar ponsel. Dia menghubungi Mike ke nomer Rosaline.


'Ups! Sepertinya anda salah paham, Tuan. Saya Ella teman lama Rosaline, kami sudah lama tak berjumpa.'


Madame Ella menyipitkan matanya, memilih emoticon sedih dan tangan menangkup, lalu segera mengirimkan pesan itu.


"Done!" gumamnya, sambil bersiap untuk menghadapi serangan berikutnya.


Benar saja! Tak sampai satu menit, sebuah pesan dari Rosaline datang. Lebih tepatnya Mike yang membalas dengan menggunakan ponsel Rosaline.


'Setauku, istriku hampir tak mempunyai teman di kota ini.'


Terlihat jelas dari kata - katanya kalau Mike tak percaya. Madame Ella kembali tersenyum dan dengan tenang menghubungi Mike melalui panggilan video.


"BERANINYA KAU -- "


Suara Mike menggantung di udara, hardikan Mike seolah melempem. Matanya terbelalak saat melihat sebuah tubuh s-e-x-y seorang wanita yang terpampang di layar. Putih mulus dan proporsional terbalut pakaian tidur tipis.


"See? Apa ada pria yang mempunyai tubuh secantik ini?" suara lembut bernada menggoda terdengar di seberang sana.


Mike menelan air liurnya, tanpa banyak kata dia mematikan panggilan itu dan hendak meletakkan kembali ponsel Rosaline ke atas nakas. Bertepatan dengan Rosaline yang keluar dengan mengenakan kimono handuknya.


Bau wangi sabun masuk ke indera penciuman Mike, dia menoleh dengan tatapan tajam. Rosaline menanggapinya dengan sebuah senyuman yang justru membuat Mike semakin kesal. Senyum Rosaline seperti mengejeknya.


"Aku tak percaya kalau orang yang menghubungimu adalah seorang wanita." tuduh Mike kesal.


Rosaline terkesiap, sepertinya dia tahu kemana arah pembicaraan Mike. Dia menarik napas perlahan, mencoba untuk tak berekspresi berlebihan, lalu berkata. "Oh, sepertinya dia temanku." jawab Rosaline setenang mungkin. Dia berjalan kearah meja rias, menghindari tatapan mata Mike.


Terlihat Mike membanting ponsel Rosaline ke atas kasur. "Meski dia sudah menelponku untuk menunjukkan dirinya seorang wanita, tetap saja aku tak percaya!" desis Mike, dia menekankan nada bicaranya pada tiga kata terakhir.


Meski jelas - jelas dia melihat lawan bicara istrinya tadi adalah seorang wanita, tetapa saja dia tak percaya. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya, mengatakan kalau pengirim pesan bukanlah seorang wanita.


"Oh!"


"Oh?" sergah Mike semakin kesal. Respon Rosaline hanya satu kata yang tidak memuaskan. Tanpa penjelasan yang bisa menenangkan hatinya.


"Kamu cemburu?" tanya Rosaline kemudian.


Meski hatinya sedikit gentar, tapi sangat tidak mungkin dia mengakui siapa pengirim chat itu sebenarnya. Jadi biarlah dia ikuti permainan ini.


"Hey, ini bukan cemburu. Tapi territorial!" sergah Mike, emosinya sudah sampai ubun - ubun. Mukanya merah padam. Tersirat jelas kalau Mike mencurigai Rosaline berselingkuh.


Rosaline menghela napas dan memejamkan mata, dia akan bersandiwara sebaik mungkin. Wanita itu menatap sendu dan tersenyum sedih. "Apa kamu mau aku menelponnya untuk membuktikan kalau dugaanmu salah?" tanya Rosaline pelan.


Mike terhenyak, tatapannya meredup seakan tersadar akan sesuatu. Orang yang bersalah tak mungkin berani menantangnya seperti ini. Dia mengibaskan tangannya. "Tak perlu, aku sudah menelponnya tadi." ucapnya sedikit berbohong karena yang sebenarnya adalah Ella yang menghubunginya lebih dahulu. Dia menghempaskan tubuh ke tempat tidur, lelah.


"Kamu menelpon dia?" tanya Rosaline tak percaya.


"Hanya untuk memastikan kalau 'temanmu' itu benar - benar seorang wanita."


"Dan hasilnya?" Rosaline kembali bertanya untuk menyempurnakan aktingnya.


"Seorang wanita."


"Jadi case clear?"


"Hm-hm." Mike melengos, gengsi untuk mengakui kesalahannya.


Rosaline menahan senyum, dia berbalik ke meja rias. Deretan kuteks warna warni tertata rapi disana, tadi dia memang berencana untuk mewarnai kembali kukunya yang sudah mulai kusam. Dipilihnya warna merah terang dari deretan pewarna kuku koleksinya. Warna merah selalu berhasil membuat mood-nya membaik, terkesan berani dan kuat.


Case close tapi perasaan aneh terus menghantui Mike, ada yang tidak sreg di hati saat melihat istrinya asyik berdandan. Semakin hari istrinya semakin cantik saja. Dari dulu wanita ini memang sudah cantik, tapi sekarang ada aura berbeda yang terpancar dari diri Rosaline.


Wanita yang sedang diamatinya tampak asyik membersihkan kukunya dan menghapus sisa - sisa cat kuku lamanya. Lalu dengan telaten membubuhkan pelembab, memotong kuku dan mengikirnya.


"Kenapa akhir - akhir ini kamu berdandan?" Sebuah pertanyaan terlontar begitu saja dari mulut Mike.


"Ini bukan berdandan, tapi perawatan." jawab Rosaline. Dia mengangkat sepuluh jarinya di depan wajahnya sendiri. Memastikan kukunya benar - benar rapi, setelah ini dia akan memakai base coat dan mengecatnya. "Aku merawat diriku sendiri supaya mata suamiku terus tertuju padaku." Sindir Rosaline.


Mike mendengus, kata - kata Rosaline seperti menampar wajahnya dengan telak. "Good night!" ucapnya dan langsung membenamkan diri ke dalam selimut.


"Nite." balas Rosaline acuh tak acuh.


Bagi Rosaline, yang penting Mike tidak banyak bertanya lagi. Dia kembali fokusnya pada kuku - kuku cantik miliknya hingga waktu beranjak menjelang tengah malam saat Rosaline selesai dengan kuku - kuku dan skincare-nya. Dengkuran terdengar dari arah tempat tidur, pertanda Mike sudah terlelap!


Rosaline mengambil ponselnya dan tersenyum. 'Sampai jumpa besok di tempat biasa. Tak perlu membalas pesanku.'


Pesan terkirim, tanda berubah menjadi centang biru. Pertanda penerima sudah membacanya. Rosaline menghembuskan napas lega, setidaknya hari ini dia selamat. Seperti biasa dia langsung menghapus tulisannya sendiri.


'Ternyata begini cara kerja mereka. Tidak sia - sia aku bergabung di Club Love Affair.'


Senyum puas terukir di bibir cantik Rosaline, dia yakin kalau Madame Ella yang telah membantunya. Rosaline terkekeh pelan memandang suaminya yang tampak semakin lelap.


'Have a nice dream, Mike. Club ini akan membantuku menutup skandal. Yang penting aku tidak membuat namamu dan keluarga kita tercoreng.'


Rosaline melepas kimononya dan mengganti dengan baju tidur. Lalu bergabung dengan suaminya di tempat tidur.