
"Ma-ke lo-ve to me, Tristan." bisik Crystal.
WOW! THIRD STRIKE!
"What do you want me to do, My Queen?" tanya Tristan untuk memastikan dirinya tak salah dengar.
(Kamu mau aku ngapain, My Queen?)"
"All."
"All?"
"I want you to do all. Fly me to the sky, till I touch the stars." bisiknya kemudian di dekat telinga Tristan, menghembuskan napas yang menyalakan api di dalam diri laki - laki itu.
(Terbangkan aku ke langit, hingga menyentuh bintang - bintang.)
"Your wish is my command, sayang."
(Keinginanmu adalah perintah bagiku.)
Meski belum semua ilmu yang di dapatnya berhasil diterapkan, namun tatapan sayu dan permintaan Crystal membuat Tristan menghentikan praktek yang dilakukannya. Anything for his beloved wife.
Laki - laki itu mengangkat tubuh Crystal, menggendongnya di atas kedua lengan seperti seorang ibu yang menggendong bayinya. Kemudian Tristan langsung membalutnya dengan jubah mandi, membawa wanita itu menaiki tangga menuju ke tempat tidur mereka.
"Are you ready? Coz once I go, I can't stop." Tristan mendudukkan Crystal di atas tempat tidur putih empuk nan luas di kamar mereka. Dia juga duduk di samping Crystal.
(Kamu siap? Karena sekali aku melaju, aku nggak akan berhenti.)
Crystal tak menjawab, dia bangkit berdiri di ujung ranjang. Sebelah tangannya menarik kimono yang membungkus tubuhnya. Di kamar yang hanya mereka berdua itu, Tristan bisa merasakan perubahan atmosfer secara perlahan. Pelan tapi pasti, kimono yang dikenakan Crystal melorot dari tubuhnya. Menunjukkan lekukan indah seorang Mrs. Crystalin Harrison.
My goddess, she is pretty. Not only beautiful but also gorgeous.
Tristan menelan ludah, matanya menyusuri setiap inchi lekukan demi lekukan. Keindahan makhluk ciptaan Tuhan. Tadi di kamar mandi mereka sudah saling menatap, tapi saat ini sensasinya terasa berbeda.
How can she be so enchanting?
(Gimana bisa dia begitu mempesona?)
Menyadari tatapan suaminya, Crystal jadi canggung. Kedua lengannya menutupi dadanya, malu. Dia menunduk dengan wajah kemerahan, rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya.
Tristan bangkit berdiri dari duduknya, bergerak mendekat dari atas tempat tidurnya. Kimono Crystal menumpuk di tungkai kakinya. Tristan turun dari ranjang dan berdiri berhadapan dengan Crystal.
Jarinya, menarik dagu Crystal hingga mendongak padanya. Bibirnya sedikit terbuka, merekah.
"Don't be shy. Kamu cantik, my wife. K i ss me, please... "
'My wife'
Dada Crystal bergemuruh mendengar kata itu. Yes, they are husband and wife already. She is his. And he is hers.
Crystal berjinjit dan mengangkat wajahnya untuk memenuhi permintaan suaminya. Tristan sedikit menunduk, dan bibir mereka kembali bertemu.
Kecupan demi kecupan yang tadinya lembut berubah menjadi ciuman panas. Tristan menarik tubuh Crystal mendekat padanya. Menempelkan kulit mereka satu sama lain. Rasa panas berpijar dari setiap pori, memberi kejutan - kejutan listrik dari setiap sentuhan. Tak ada lagi halangan, menggelegak seperti lava, mengalir dalam setiap aliran darah dan desah napas.
Tristan memeluk Crystal yang berdiri, dan menghirup dalam - dalam, menikmati aromanya. Tangannya tak berhenti berkelana. It's excited him.
(excited \= membuat bersemangat)
Crystal memejamkan mata, mer- emas rambut Tristan. Dia ada di persimpangan, antara malu dan menikmati perlakuan suaminya.
Tristan bisa merasakan tubuh Crystal gemetar di pelukannya. "Relax, My Queen." Dia mengecup bahu Crystal.
"Hmm.... "
Suara 'hmm' Crystal membuat Tristan fly high on the sky. Dia berbisik. "Let me give you a love."
(terbang tinggi ke angkasa. Biarkan aku memberimu cinta.)
Saat kedua lengan Crystal melingkar di lehernya, Tristan mengangkat tubuh wanita itu dan merebahkannya di atas tempat tidur.
Terlepas dari segala tingkah liarnya, Crystal tetap innocent and fragile. Calm down! Dirinya masih punya banyak waktu untuk malam - malam lainnya, bahkan selamanya.
Tristan mengecup rona merah di pipi Crystal, mengulum senyum dan tangannya tak berhenti menggoda tubuh mulus yang pasrah di bawahnya. Crystal merapatkan kakinya, lagi - lagi dia malu.
Tristan hanya tertawa kecil, dia sangat memahaminya apa yang dirasakan Crystal. Wajah cantik itu membuang pandangannya ke arah lain, sikapnya yang malu - malu membuat Tristan gemas.
"I'll make it slow. Take a deep breath, baby." Perlahan Tristan membuka kaki Crystal cukup lebar, dia harus menyiapkannya. Tristan tak mau menyakiti wanitanya.
(Aku akan melakukannya perlahan. Tarik napas, Babe.)
Tristan bisa merasakan Crystal bersiap menerimanya, namun ada kilatan rasa takut di tatapannya. Tristan ingin membuat wanitanya nyaman, he doesn't want to force anything.
(Dia tak ingin memaksakan apa pun.)
Dengan lembut tangannya menyentuh sebuah tombol tersembunyi dibawah sana, yang bisa membuat wanita menjerit, terkejut sekaligus nikmat.
Crystal memekik. Dia merasakan sebuah rasa baru baginya, seperti sebuah kembang api melesat di dalam dirinya kemudian berpendar begitu indah.
"Tristan...!"
Hanya satu kata itu yang mampu disebutnya, otaknya sudah tak bisa lagi memberi instruksi kepada mulutnya untuk mengucapkan kata lain, selain suara - suara yang membangkitkan selera. Tristan semakin bersemangat dan terus bermain - main dengan tubuh isterinya.
"AH!"
Kepala Crystal terlempar ke belakang, punggungnya meliuk. Tristan tahu Crystal berhasil mendapatkan 'kesenangan' pertamanya.
Tristan melepaskan Crystal dan membiarkannya menarik napas. Napas Crystal pendek - pendek. Benar - benar tak bisa berpikir, semua inderanya lebih tajam berkali - kali lipat. Tristan terus melanjutkan agresinya, demi membuat Crystal semakin siap menerimanya.
"Let's start!"
Sebuah kalimat yang ditunggu dan sekaligus ditakutinya. Crystal menggigit bibir saat Tristan bergerak mendekat, wajahnya penuh antisipasi. Sekali lagi, Tristan mencium kening Crystal.
"Just tell me whenever it hurts you, whenever you feel uncomfortable." bisiknya.
(Ngomong aja kapan pun kamu kamu merasa sakit atau nggak nyaman.)
Ugh!
Good job. Tristan sukses menjalankan misinya dengan mulus. Crystal meringis, untunglah rasanya tak sesakit yang dia bayangkan. Tristan benar - benar berhasil membuatnya well prepared.
(well prepared \= dipersiapkan dengan baik.)
"Are you okay?" tanya Tristan, matanya terus memandang lembut seraut wajah cantik dibawahnya.
Crystal menggangguk, bibirnya bergetar saat dia mencoba tersenyum. Ada haru dan bahagia, dia merasakan cinta, cinta dan hanya cinta di setiap perlakuan Tristan padanya. Begitu hati - hati dan lembut.
Dan Tristan juga sengaja menekan tombol pause untuk session spesial mereka. Sejenak mereka berdiam diri, merasakan sensasi kalau mereka sekarang adalah satu. Berpandangan menyatukan rasa dalam satu tatapan.
"I am yours." ucap Tristan dengan penuh perasaan.
(Aku adalah milikmu.)
"You are mine." sahut Crystal.
(Kamu adalah milikku.)
Mereka berdua sama - sama tersenyum dan berkata. "Of this we are certain. We are one. We are locked, and the keys are lost. You should stay with me... forever."
(Kami meyakini. Kami adalah satu. Kita terkunci dan kunci hilang. Kamu harus tinggal bersamaku... selamanya)
Finally, they are no more two, but one.
(Akhirnya, mereka bukan lagi dua melainkan satu.)
Bersambung ya....