I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 90 -- Nyonya Besar Harrison



Salah satu hal indah yang bisa dialami seorang wanita adalah tumbuhnya manusia baru di dalam rahimnya. Bukan tak mungkin, ada wanita - wanita yang depresi berat ketika tahu kalau mereka tak akan mengalami peristiwa itu. Dan juga, bukan hal yang baru ketika banyak perempuan rela merogoh dompetnya dalam - dalam untuk menggunakan kecanggihan tekhnologi supaya bisa mendapatkan janin yang bisa tumbuh di dalam tubuhnya.


Berbeda denganku, dengan adanya bayi ini berarti semakin memperkecil kemungkinanku untuk pergi dari pernikahan ini. Pernikahan bisnis. Tak pernah ada cinta di dalamnya. Satu gambaran untuk menunjukkan bagaimana rasanya menikah tanpa cinta. Setiap malam rasanya bagaikan diper -kosa.


Yang lebih mengesalkan adalah Richard, suamiku, selalu memastikan hidupku akan nyaman dan aman. Dia tak membiarkan aku takut terhadap apa pun. Aku bisa membeli apa pun yang aku mau, pergi kemana pun yang aku inginkan. Bahkan aku masih bisa terus mengerjakan bisnis yang aku tekuni sejak aku belum menikah.


Aku bebas melakukan apa pun yang aku mau.Dia hanya meminta satu hal padaku yaitu seorang anak. Aku terjepit, tak ada satu alasan pun untuk memintanya bercerai.


Akhirnya sembilan bulan bayi itu tumbuh di dalam kandunganku. Dokter mengatakan dia sangat sehat dan kuat. Entah kenapa tak ada sedikit pun rasa bahagia. Kelahirannya sangat dinanti oleh Richard, dia begitu tampan dengan kulit yang bersih dan rambut hitam.


Namun semua yang dimiliki Tristan tak juga menyentuh hatiku.


"Tugasku untuk memberi keturunan sudah selesai." kataku pada Richard.


Richard hanya mengangguk pasrah.


Dan dia menurutiku, tak pernah sekali pun dia menuntutku untuk mencintai anak ini. Richard menyediakan semua support system yang terbaik bagi Tristan. Mulai dari suster, guru pribadi, sekolah, sopir dan pelayan - pelayan, mereka semua adalah orang yang berdedikasi dan terbaik di bidang masing - masing. Dengan demikian, kami tenang meninggalkannya sendiri dirumah. Kapan pun aku mau.


Kadangkala kami pergi berdua, seringkali kami pergi sendiri - sendiri. Yang penting adalah setiap event - event tertentu aku bisa hadir bersamanya untuk menunjukkan keharmonisan kami.


Lalu untuk menutupi rasa bersalah Richard pada Tristan, dia mengabulkan keinginan anaknya untuk mempunyai adik. Richard tak pernah mengerti. Jangankan menyayangi anak angkatku, menyayangi anak kandungku saja rasanya begitu berat. Apalagi mengingat anak itu adalah dari teman wanita yang pernah 'dekat' dengannya.


Satu - satunya hal yang membuatku bersyukur sejak kehadiran Crystal adalah Tristan tak lagi mencariku. Setidaknya, Suster Anna tak lagi menanyakan kapan aku pulang. Aku semakin bebas dari tanggung jawabku sebagai seorang ibu.


Tristan tumbuh menjadi anak yang pintar dan berbakat. Sejak SMA, Richard sudah menyuruh Ben mengajarinya berbisnis. Kemampuannya sudah tak perlu diragukan lagi.


Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Teman - teman arisanku bergunjing kalau anakku itu kemungkinan memiliki orientasi se---ks yang patut dipertanyakan. Dia tak pernah mau berkencan, tak juga terlihat dekat dengan wanita mana pun. Hidupnya hanya rumah dan kantor. Orang yang dekat dengannya hanya David.


"Aku belum memikirkan untuk menikah, Ma." jawabnya saat kusinggung soal pernikahan.


"Usiamu sudah tiga puluh tahun. Semua temanku sudah menimang cucu. Aku juga ingin seorang cucu." kataku beralasan.


Tristan hanya tertawa sinis sebagai jawaban. Yah, aku paham apa arti tertawa anakku itu. Bagaimana mungkin aku ingin menimang cucu, sedangkan dengan anakku sendiri saja aku begitu dingin.


"Biarkan dia memilih pasangannya sendiri, Sonia." pinta Richard padaku saat aku berniat menjodohkan Tristan dengan Bianca.


"Hartono dan Harrison bukankan masa depan mereka akan baik?"


"Apa kamu mau hidup anakmu seperti dirimu? Seperti aku?" Richard balik bertanya.


"Sudah cukup kita menelantarkannya selama ini, biarkan dia memilih masa depannya sendiri. Itulah satu - satunya cara untuk membayar kesalahan kita." lanjut Richard sambil menghembuskan napas.


Aku hanya termangu mendengar kata - kata Richard. Baiklah, aku setuju padanya kali ini.


Ah, tapi kecurigaanku terbukti. Anak muda kebanggaan Harrison grup itu ternyata menyukai adik angkatnya.


AIB! Itu yang pertama terlintas di pikiranku.


Dan lagi, sudah cukup aku menerima Crystal sebagai anak angkatku. Haruskah aku menerimanya sebagai menantuku? Bukankah Richard berjanji akan mengeluarkan Crystalin dari Harrison saat usianya tujuh belas tahun?


Sayangnya, Richard memilih berpihak pada Tristan dan Crystal. Tetapi aku yakin, perasaan mereka bukanlah perasaan cinta. Mereka hanya terlalu dekat, sehingga tak mau kehilangan satu sama lain apabila salah satu dari mereka mendapatkan pasangan. Aku membiarkan saja Bianca melakukan apa pun sesukanya untuk mendapatkan hati Tristan.


Kalau kamu tanya apa aku menyukai Bianca sehingga lebih memilihnya menjadi menantuku? Jawabannya tidak. Aku tak menyukai siapa pun, bagiku gengsi dan harga dirilah yang lebih penting. Lagipula, aku dan Richard saja bisa bertahan dengan pernikahan dingin seperti ini. Kenapa mereka tidak?


Selain itu aku juga kuatir apa kata orang saat tahu kalau Tristan menikahi adiknya sendiri? Bagaimana reputasi Harrison bila istri CEO-nya bukan siapa - siapa dan tak memiliki prestasi apa pun. Apalagi ayah Crystal adalah buronan sekaligus duri dalam daging di Harrison group. Aku bahkan bersyukur dia meninggal di luar negeri saat mereka kabur dari polisi


Tapi ternyata, syarat yang ditentukan oleh Richard justru dipenuhi mereka. Saat aku mengusir Crystal, Tristan malah memilih keluar dari Harrison dan rela jatuh bangun hidup diluar Harrison demi mensupport gadisnya. Sedangkan Crystal? Dia berani keluar dari rumah tanpa membawa apa pun.


Aku tetap tak bergeming. Aku ingin melihat sampai sejauh mana Tristan mampu bertahan tanpa pengaruh Harrison. Tagihan menumpuk dan putaran uang yang terbatas. Sanggupkah dia meyakinkan investor saat dia bukan Harrison lagi?


Mobilitas tinggi, jam tidur yang kurang dan berbagai faktor lain, membuat Tristan mengantuk dan kecelakaan tunggal. Aku yakin karena peristiwa ini, dia akan kembali kepada kami.


Rupanya aku salah, kabar berikutnya yang aku dengar dari Ben justru adalah pernikahannya. Apa aku tak salah dengar?


Hari itu Richard menggandengku ke ruang makan, hal yang tak pernah dilakukannya selama ini. Di meja makan sudah tersedia makanan - makanan kesukaanku. Ternyata dia tak melupakan apa saja kesenanganku.


"Sonia, aku banyak berpikir. Banyak hal yang sudah kita lewatkan dalam hidup Tristan. Masa kanak - kanak, remaja dan saat dia memutuskan untuk menjalani masa depannya bersama seorang gadis. Tidakkah kali ini kamu mau memberinya kesempatan untuk berbahagia?"


Aku membuang pandanganku dari tatapan Richard.


"Ini tentang apakah kita orang tua yang baik atau bukan. Aku merindukan Tristan kecil yang mencariku saat pulang kerja. Entah kapan dia berhenti mencari kita. Dengan harta yang sebanyak ini, ternyata ada yang kosong disini." Tuan Harrison menunjuk dadanya.


"Aku ingin kita memperbaiki hubungan dan hidup bersama anak dan cucu - cucu kita." suara Richard mulai bergetar. Aku juga merasa mataku memanas.


Bersambung ya....