I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 41 -- Masalah Sebenarnya



Meski sempat ngambek karena pulang lebih cepat, ternyata Crystal merindukan orang yang juga menyayanginya.


"SUS!!!" teriak Crystal, melompat dari mobil begitu Pak Supri menghentikan mobilnya di teras.


Suster Anna tersenyum lebar dan merentangkan tangan pada Nona kesayangannya, baru beberapa waktu tak bertemu rasanya begitu rindu pada sosok yang biasa membuat gaduh seisi rumah. Mereka berpelukan erat, seolah Crystal adalah anak Suster Anna yang telah lama berpergian dan kini pulang kembali.


"Permisiiii.... " Suara Mbak Tari mengganggu acara temu kangen Suster Anna dan Crystal.


"Maaf, Sus. Kemarin Sus bilang kalau saya disuruh mengingatkan. Begitu Nona pulang, suratnya harus segera dibaca." Telapak tangan Mbak Tari menunjuk ke dalam.


"Surat?" Crystal nampak berpikir, jaman now masih pakai surat? Meski heran, kakinya tetap mengikuti langkah Suster Anna masuk ke dalam.


Mbak Tari mengambil kotak dari atas meja. Crystal membuka surat yang di alamatkan kepadanya.


Mata Crystal membelalak, mulutnya sedikit terbuka karena kaget.


Dia menoleh ke Suster Anna, kemudian matanya kembali ke kertas yang dipegangnya. Surat penerimaan mahasiswa baru dari salah satu Universitas di London.


Air mata Crystal merebak. "Aku lulus, Sus." Suaranya sedikit bergetar.


"Ha? Bukannya memang Nona sudah lulus?" tanya Suster Anna heran.


"Bukan, maksudnya... aku diterima di universitas yang aku pilih!" Air mata Crystal mengalir untuk dua buah alasan yang bertolak belakang yaitu bahagia dan sedih.


"Waaaah...! Selamat Nona!" Suster Anna sekali lagi memeluk Crystal.


Dan, pelukan itu malah meledakkan segenap perasaan yang dari tadi ditahannya. Bahu Crystal bergetar, dia menangis sesenggukan untuk alasan yang dia sendiri tak tahu pasti.


"Lho bukannya senang, kok malah nangis?" Suster Anna mengelus-elus rambut Crystal dengan sayang. "Bukannya cita-cita Nona mau kuliah design di London?"


Suster Anna benar, dulu dia ngotot mau ke London. Tapi kenapa sekarang rasanya berat meninggalkan rumah ini.


"Seneng sih seneng, tapi kan juga sedih. Bakal jarang ketemu sama Suster Anna... sama Mbak Tari, Pak Supri... sama... " Crystal menggantung kalimatnya.


"Halaaah... bilang aja sedih karena bakal pisah sama Tuan Tristan." Suster Anna menepuk bahu Crystal.


"Nggak apa-apa, Non. Kalian kan pisah demi masa depan. Jangan gara-gara pacaran trus nggak jadi kuliah. Bisa-bisa madesu, Non!" Nasehat Suster Anna pada Crystal.


"Madesu?"


"Iya, Non. Madesu. Masa Depan Suram." Suster Anna terkekeh.


Crystal termenung.


"Yang penting Nona belajar rajin, biar bisa cepet lulus trus nikah sama Tuan Tristan."


Wait! Pacaran? Nikah? Crystal mendadak tersadar.


"Kok Sus tau?" tanyanya.


Suster Anna mengedipkan sebelah mata, "Tau dong. Apa sih yang Sus nggak tau?"


"Lha kan Tuan Tristan curhatnya sama Sus, gara-gara birthday cake itu tuuuh... " Suster Anna tertawa dalam hati.


***


"Crystal mana Sus?" tanya Tristan begitu sampai dirumah.


"Tadi habis terima surat langsung masuk kamar dan nggak keluar-keluar, Tuan. Kayanya lagi bad mood."


Suster Anna memberi kode pada Mbak Tari untuk mengeluarkan pisang goreng yang baru dimasaknya untuk Tristan.


"Kopi atau teh, Tuan?"


Tristan menggelengkan kepala, dia sedang tak ingin apa pun. Kepalanya terasa berat. Dia bimbang antara menjelaskan kemungkinan terbesar orang tuanya menentang hubungan mereka dan mengkhawatirkan apakah Crystal siap menghadapi semua bersamanya.


"Surat apa Sus?"


"Surat penerimaan mahasiswa baru, katanya Nona diterima di London."


Tristan menghembuskan napas berat, dia melangkah menuju kamar Crystal.


Tak ada jawaban.


"Aku masuk. Ya?"


Tristan membuka pintu pelan-pelan dan masuk, ruangan nampak sedikit gelap karena hari sudah sore.


Tristan tersenyum melihat Crystal yang tertidur dengan novel yang terbuka diatas dadanya. Kepalanya terkulai, melorot dari bantal dengan posisi yang tak nyaman bisa-bisa saat bangun nanti lehernya sakit.


"Crystal... " panggilnya pelan, tidak tega untuk membangunkannya tapi mereka tak punya banyak waktu. Tristan harus segera membicarakan tentang mereka. Dan juga, tentang orang tua mereka.


Crystal tidak bergerak, sepertinya efek jetlag sehingga tidurnya nyenyak sekali.


"Crystal... " panggil Tristan lagi, dia menunduk mengecup pipi Crystal.


'Wake up, Sayang." bisiknya di dekat telinganya hingga tercium bau harum shampoo khas Crystal. Tristan jadi ketagihan, dia berkali-kali mencium kepala Crystal.


Akhirnya Crystal bergerak. Hal pertama kali yang dilakukan saat kesadarannya kembali adalah Crystal segera memeluk erat Tristan sambil berkata, "I miss you."


Kemudian tangannya menangkup pipi Tristan dan menciumnya dengan penuh semangat.


Ah, Crystal paling pintar mengambil hati Tristan.


Seketika to do list yang sudah tersusun rapi di otaknya berantakan. Ada rasa bahagia dan dibutuhkan yang selalu muncul saat tahu kalau kedatangannya ditunggu-tunggu dan diharapkan. Tristan tersenyum dan mengelus pipi Crystal, "I miss you more."


"Ehem... , permisi Tuan."


Suster Anna dengan terpaksa mengganggu scene romantis yang sedang tayang dihadapannya.


"Tuan besar berpesan, malam ini Tuan dan Nyonya akan makan malam dirumah jadi sebaiknya Tuan dan Nona Crystal bersiap-siap."


Ekspresi Tristan langsung berubah, mulutnya terbuka sedikit hendak mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. Matanya bersirobok dengan Crystal, dan otaknya langsung mengingat kembali apa alasan utama dia membangunkan Crystal.


Crystal mengerutkan keningnya, tatapan mereka masih terpaku satu sama lain tapi Tristan tak berkata sepatah kata pun. Dia mencoba menebak apa yang ada di dalam pikiran Tristan. Tapi, percuma. Dia tak menemukan apapun selain fakta ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Tristan.


Suster Anna seperti memahami situasi yang ada di hadapannya, dia mundur dan memberi mereka kesempatan untuk berbicara berdua.


Crystal membetulkan posisi duduknya, "Ada apa?"


Tristan tidak merespons, dia memijit pangkal hidungnya.


"Kak?"


"Crystal... " Akhirnya Tristan memutuskan bahwa lebih baik Crystal tahu apa permasalahan yang sedang dihadapinya.


"Papa dan Mama mendesakku untuk menikah. Mereka bahkan merancang blind date dan juga sengaja membuka peluang bagi para wanita, terutama Bianca untuk mendekatiku."


Crystal mengangguk, dia sudah tahu soal perjodohan Tristan dengan Bianca.


"Bianca lagi, Bianca lagi... " keluh Crystal.


"Seperti yang kamu tau, aku terlahir sebagai Harrison. Segala apa yang ada di dalam diriku, sudah ditentukan dari awal." Tristan menatap Crystal dengan pandangan lelah.


"Jadi maksudnya, bahkan untuk pasangan Kak Tristan pun sudah ditentukan?"


"Setidaknya untuk saat ini, jawabannya adalah iya." Tristan mengusap wajahnya.


Crystal ternganga, rasanya seperti dihempaskan dari tempat yang tinggi.


"Apakah ini artinya aku tak boleh bersama Kak Tristan?"


"Bukan begitu... "


"Kenapa? Apa karena aku anak yatim piatu dan... " Suara Crystal tercekat. "Tak diketahui siapa orang tuaku?"


"Bukan itu, Sayang... " Tristan mencoba meluruskan maksud pembicaraannya saat ini.


Tapi percuma, Crystal menarik tangannya yang hendak dipegang oleh Tristan.


Bersambung ya...