
"Heh, bengong aja!"
Tepukan di bahunya membuat Crystal terlonjak kaget.
"Sorry, ngagetin ya?" Karina yang baru datang membawa setumpuk dokumen meringis pada Crystal.
"Nih, dokumen penawaran dari Tuan Tristan yang baru. Coba cek." Kata Karina lagi.
Crystal mengangkat alisnya, "Harus ya?" Mulutnya mencebik, akhir - akhir ini mood-nya langsung buruk setiap kali mendengar nama Tristan
"Terserah." Karina meniup - niup poninya yang mulai memanjang dan jatuh diatas matanya. "Tuan Muda sudah coba call kamu, tapi katanya nggak diangkat. Pesannya juga kamu cuekin."
"O'ya?" Crystal menjawab asal, dia memandang tumpukan dokumen di mejanya. Laptop-nya pun masih menyala.
"Are you okay?"
"I am." Crystal mencoba menampakkan senyum baik - baik saja.
"Sampai kapan mau ngambek?" Karina duduk di sebelah Crystal.
Karina tahu kalau sudah sekitar hampir empat bulan Tristan dan Crystal lost contact. Lebih tepatnya, Crystal ngambek. Selama itu pula, Tristan bicara dan bertanya kabar hanya lewat Suster Anna dan Karina.
"Kasihan Tuan Muda lho, Non. Jangan gitu, nggak baik." Suster Anna yang dari tadi hanya mendengarkan ikut menyela. Air matanya meleleh, dia paling sedih kalau tahu Tuan dan Nonanya bertengkar.
"Ini ada yang deadline besok, Sus. Kalau udah kelar aku call Kak Tristan. Sus jangan kuatir." Kata Crystal sambil menampakkan senyum palsunya.
Pandangan Suster Anna bertemu dengan Karina yang tersenyum, menyuruhnya bersabar. Selalu saja begitu, Crystal selalu beralasan dan ujung - ujungnya tak pernah menelepon balik. Dia bahkan tak mempedulikan puluhan chat dan email dari Tristan.
Sebenarnya Crystal sedang berhadapan dengan ego-nya sendiri saat ini. Dia bertekad untuk ngambek sampai Tristan muncul dan menghiburnya.
*
Setahun lebih berlalu, mungkin kalau dihitung sudah empat belas bulan sejak deal terakhir mereka. Saat tersadar, tau - tau pembangunan resort hampir selesai dan Tristan tak juga menampakkan tanda - tanda akan mengunjunginya.
"NGGAK MAU! AKU NGGAK MAU TAU! POKOKNYA MAU KETEMU KAK TRISTAN! RIGHT NOW" Teriak Crystal dari balik kamera ponselnya.
Mukanya merah padam karena marah, perasaannya sudah tak terbendung karena rindu yang menggebu tapi terpisahkan jarak dan waktu.
Suara Crystal menggema di seluruh apartment, terdengar suara lembut Suster Anna sedang menenangkan Crystal.
"Be patient, sayang. Setelah launching, next week. How?" Suara Tristan terdengar sabar berusaha menenangkan.
Percuma! Crystal terlanjur ngambek, dia tetap keukeuh.
"NGGAK! NGGAK! KALAU NGGAK SEKARANG, NGGAK USAH SEKALIAN."
Suara Crystal kembali menggema, kali ini bukan hanya Suster Anna tapi juga Karina yang baru datang ikut kaget dibuatnya.
Telepon dimatikan sepihak oleh Crystal. Entah kenapa rasa rindu begitu dalam malah membuatnya emosi dan marah - marah. She is out of control. Dan juga menjadi kekanak - kanakan.
Bukan, bukan seperti ini kisah cinta yang diinginkannya. Dia ingin kisah cinta yang romantis dan bahagia seperti di drakor atau novel yang dibacanya.
Suster Anna memegang bahu Crystal dan memperingatkannya untuk tidak berkata sembarangan.
Karina merangkul bahu Crystal dengan lembut, dia paham apa yang sedang bergejolak di hati Crystal.
Jadwal kuliah yang padat demi mengejar lulus summa cumlaude dan pekerjaannya sebagai design interior membuatnya kehabisan waktu. Bahkan sempat lupa untuk merengek bertemu Tristan, dan saat tersadar waktu telah berlalu begitu cepat. Crystal merasa 'dicurangi' oleh waktu, dan juga Tristan.
"Kenapa seolah - olah cuma aku yang pengen ketemu?" rengeknya pada Karina dan Suster Anna.
*
No! No!
Crystal menggeleng - gelengkan kepalanya, ada yang lebih penting dari melamun. Segera dia mengembalikan fokus ke layar laptopnya, mengabaikan dua pasang mata yang memandangnya dengan sorot prihatin dan meninggalkannya sendiri di ruangan itu.
Jam sudah menunjukkan lewat dari jam sembilan malam, tapi dia bertekad menyelesaikan tugas akhirnya malam ini. The sooner the better.
(Lebih cepat lebih baik.)
Tak terasa jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam lewat saat Crystal bisa menarik napas lega karena pekerjaannya sudah selesai.
Dia menyandarkan punggungnya di kursi sambil menarik kedua lengannya tinggi - tinggi, meregangkan otot - ototnya yang kaku karena berjam - jam duduk di depan laptop.
Crystal meraih ponselnya dan melihat beberapa pesan masuk. Dia membalas satu per satu pesan, kecuali satu pesan dari orang yang sebenarnya dirindukannya. Pesan dari Tristan.
Suster Anna datang membawakan jahe hangat buatannya dan roti bakar.
"Nih, Sus buatkan jahe sama roti bakar. Dimakan trus tidur ya?"
"Lho Sus kok belum tidur?" tanya Crystal.
"Mana bisa tidur, Nona. Sus masih banyak pikiran."
"Mikir apa" Crystal menyeruput jahenya.
"Sus pengen balik Indo saja Non." katanya pelan.
"Kenapa?"
Suster Anna menghembuskan napas berat. "Sus kepikiran sama Tuan Tristan, Non. Nggak ada yang urus."
Seketika Crystal termangu, roti yang hendak dimasukkan ke mulut berhenti di udara. Ada sebersit rasa bersalah muncul di hatinya. Dia masih punya Karina dan Suster Anna, sedangkan Tristan? He's practically alone.
"Hm... iya, ya Sus." lirih Crystal, sorot matanya meredup.
"Your final project done." Karina datang mendekat dan duduk di dekat Crystal. "Gimana kalau kita go home?" tanya Karina lembut.
Ha?
Crystal tak menyangka Karina juga belum tidur, lebih tak menyangka lagi ajakan buat pulang Indo. Hampir saja Crystal bersorak girang, tapi buru-buru ditahannya rasa senang itu.
Ehm, tidak semudah itu dia pulang.
"Why?" tanyanya saat melihat reaksi Crystal yang datar.
"Kak Tristan bilang we don't have any house now."
"Tristan is your home."
"Aku nggak tau dia dimana sekarang."
"Just call and send him a message. It's easy, jangan dipersulit." kata Karina. Nada suaranya terdengar sebal.
(Tinggal telepon dan kirim pesan ke dia. Gampang, jangan dipersulit.)
Crystal menarik napas perlahan dan menghembuskannya. Dia bingung harus bagaimana saat pertama bertemu nanti, apalagi dia terlanjur ngambek. Biasanya Tristan langsung datang setiap kali dia ngambek. Tapi kali ini berbeda.
"Oke, sekarang aku mau nanya. Kenapa kamu sampai betah ngambek berbulan - bulan? Kalau kondisi normal, Tristan pasti langsung terbang kesini. Tapi something happened jadi dia batal datang kesini."
Crystal mengerjap. "O'ya?" Dia terkejut saat mendengar something happened.
Karina mengangguk. Sekilas mata Suster Anna nampak berkaca-kaca.
"Nanti kalau ketemu, Nona harus minta maaf. Ya?" Tangannya mengusap - usap punggung Crystal.
"Ada apa sih?" tanya Crystal penasaran.
"Sebaiknya Nona pulang ke apartment hadiah ulang tahun Nona. Tuan muda disana terus, sudah tiga bulanan ini." kata Suster Anna.
"Apartment? Kok Sus tau?"
"Ya tau dong, apa sih yang Sus nggak tau soal Tuan Tristan?" Suster Anna mendadak genit. Dia mengedipkan sebelah matanya.
"He? Ngapain disana?"
"Come on, don't ask to much." erang Karina tak sabar. "I miss my parents too!"
(Ayolah, jangan nanya terlalu banyak.)
Crystal tak sadar kalau gara - gara dirinya, Karina malah berlama - lama di London.
Bersambung ya....