
Note :
Dear Readers,
Sorry bab 68 kemarin salah update. Saya copas yang belum revisian. Dan sekarang sudah direvisi. Yang mau baca ulang, dipersilahkan.
"Lho? KAK TRISTAAAN, jangan pergi. Ngomong dulu mau holiday kemana?" teriaknya heboh
Tristan terus berjalan keluar menuju ruang makan, berusaha tak mempedulikan Crystal. Senyum tak lepas dari mulutnya, tak bisa dipungkiri hatinya merindukan kehebohan Crystal yang seperti ini. Selama ini apartment terasa sunyi dan sepi.
"AYO NGAKU!" Crystal mengejar Tristan yang sudah keluar kamar lebih dahulu. Tristan terus berjalan.
BUK!!!
HADOOH!
Sesuatu yang berat menimpa punggungnya, hingga pria itu terhuyung ke depan. Tristan merasa sebentar lagi akan roboh.
"Hey! Hey!"
Bagaimana ini? Sekuat tenaga dia berusaha menahan beban dengan kaki yang mulai terasa nyeri.
"NONA!!!" Suster Anna dan Karina kompak memekik karena cemas dan kaget.
Tergopoh mereka menghampiri Crystal dan menariknya turun dari punggung Tristan.
"Ya ampun, Nonaaaa!" geram Suster Anna gemas.
Kalau saja yang di hadapannya adalah seorang anak kecil berusia lima tahun, telinga Crystal pasti habis dijewer olehnya. Jantung Suster Anna seperti mau copot melihat Crystal tiba - tiba meloncat ke atas punggung Tristan. Bayangannya Tristan jatuh tersungkur sudah berkelebat di mata Suster Anna.
"Hey, Nona. Apa kamu mau kaki kakakmu cidera lagi?" tegur Karina, matanya membelalak saking kesalnya.
Oh, ya ampun. Crystal menutup mulutnya. Sesaat dia lupa kalau kaki Tristan belum pulih benar karena terlalu terbawa suasana 'nyaman dirumah'.
Tristan meringis, lututnya terasa ngilu karena menahan beban yang tiba - tiba menimpa punggungnya. Tapi hatinya tak tega untuk membuat Crystal merasa bersalah.
"It's okay, Crystal." katanya pelan.
"Ummm... maaf, Kak." lirih Crystal penuh penyesalan.
Tristan langsung tak tega. "Hey, aku nggak selemah itu. Look!" katanya.
Tristan berjalan menuju sofa, dan bersikap seolah lututnya tak apa - apa. Memang dia sudah bisa berjalan tanpa tongkat, tapi masih sedikit tertatih - tatih. Lagipula, cedera tulang yang baru sembuh kadang kala menimbulkan rasa ngilu atau nyeri di waktu - waktu tertentu.
Kalau sudah begitu, Suster Anna dan Karina hanya bisa saling berpandangan sambil memutar bola mata mereka.
"Kak?" Crystal menghampiri Tristan yang duduk di sofa sambil meluruskan kakinya. Tangannya mengambil remote dan menyalakan TV.
"Hm?"
"Kak Tristan, beneran nggak bakal kasih tau kita mau holiday kemana?"
Ya ampun! Masih penasaran juga si Crystal.
Tristan tak menjawab, tangannya membuat gerakan mengunci mulut. Matanya fokus pada siaran berita ekonomi yang sedang tayang.
Crystal mengernyitkan dahinya.
"Jauh nggak?"
"Nope, paling 1-2 jam perjalanan." jawab Tristan tanpa menoleh.
"Singapore? Malaysia? Bangkok?"
Tristan menoleh. Dia menaik turunkan alisnya sambil memasang senyum menggoda.
"S - U - P - R - I - S - E." Tristan mengeja satu demi satu, kemudian fokusnya kembali ke berita.
Ah, Crystal makin penasaran.
"Jadi tempatnya masih di Asia?"
Tristan mengacungkan jempol.
"Apa perlu visa?"
Tristan menggeleng.
Crystal duduk bersila di karpet, wajahnya nampak serius dan berpikir. Tempat yang tidak membutuhkan paspor, lokasinya di Asia dan hanya satu sampai dua jam perjalanan. Tempat apa itu?
Melihat wajah Crystal yang serius, Tristan memilih untuk masuk ke kamar daripada mendapat 'serangan' mendadak lagi.
"Good night, Princess. Aku tidur dulu, jangan lupa makan malam." kata Tristan. Tangannya mengacak rambut Crystal sambil cepat - cepat mengecup kening gadis kesayangannya dan Tristan segera berlalu sebelum ada yang protes.
KLEK. Pintu kamar dikunci dari dalam.
"LHO!!!" pekik Crystal kesal.
***
Pesawat mendarat mulus di sebuah landasan kecil. Crystal berdiri diatas tangga pesawat dan terperangah melihat keindahan pantai yang tertangkap matanya. Matahari baru saja terbit dibataa cakrawala, cahayanya membias di atas permukaan laut yang jernih.
Crystal menudungi matanya dengan telapak tangannya.
"Amin aja deh dari pada ada yang nangis." ledek Karina yang berdiri dibelakangnya.
Crystal tak henti - hentinya mengagumi hamparan laut di depan mereka, anginnya terasa segar. Suasananya masih alami hingga terdengar kicau bersahutan.
"Ini Bali ya?" tanya Crystal sok tau.
"Almost." jawab Karina asal.
Crystal mengernyitkan matanya, ini sebelah mananya Bali ya?
"Eh, ngapain kalian berdiri disini? Ayo, turun." Tristan heran kenapa Crystal dan Karina malah berhenti di depan pintu pesawat, menghalangi langkahnya. "Kita sarapan dulu aja di villa. Aku laper."
"Villa?" tanya Crystal heran. "Ini dimana Kak?"
"Pulau."
"Iya tau kalau ini pulau. Siapa bilang ini gunung." Crystal mencebik, mulai berjalan turun melalui tangga pesawat.
Tristan tersenyum simpul. "Udah, turun dulu. Tuh, mobilnya udah nunggu."
Crystal menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Tristan. Ada sebuah jeep yang sudah menunggunya. Tristan memutuskan turun mendahului Crystal yang lebih banyak bertanya dari pada turun dari pesawat.
"Eh, Karin. Serius nih kamu nggak tau kita dimana?" tanya Crystal dengan tatapan curiga.
Crystal mengedarkan pandangannya, angin yang bertiup mengibarkan rambutnya ke segala arah. Karina hanya tersenyum penuh arti.
"Kuatirnya kita ini diculik, tau nggak sih? Dibawa kabur ke pulau tanpa nama." Crystal berjalan sambil menggumam tak jelas.
Karina tersenyum. "Kalau penculiknya Tristan mah, nggak usah diculik juga aku ikut sendiri. Iya nggak sih? So handsome."
"Idih... genit amat sih kamu, Karin." sahut Crystal sewot, mulutnya cemberut.
Karina tertawa terbahak, dia senang menggoda Crystal.
Seorang laki - laki memakai kaos tipis dan celana pendek menyambut mereka. Wajahnya begitu familiar, dia tersenyum lebar.
"Hai, Sunshine." David menyapa Crystal, dia mengedipkan sebelah matanya.
"OM DAVID!!" Crystal berteriak dan langsung menghambur ke pelukan David.
Eits!
Tangan Tristan dengan cepat menarik Crystal dari pelukan David.
Tristan mendengus kesal. "Happy sih happy, tapi nggak usah dipeluk Om Davidnya."
Dia masih kesal saat teringat pertemuan mereka pertama yang begitu canggung. Dan sekarang? Crystal langsung menghambur ke pelukan pria lain. Meski pun itu David, Tristan benar - benar tak terima. Enak saja!
"Om Dave holiday disini juga?" tanya Crystal. Sekarang tangannya sudah bergelanyut manja ke lengan Tristan.
"Aku sih nurut perintah Boss aja. Dia suruh aku disini, ya udah aku disini. Dia suruh aku kesono ya udah berangkat. Sesimple itu." jawab David seenaknya.
"Ish... Om ada-ada aja." Crystal mencebik.
Tristan membukakan pintu mobil dan mempersilahkan para wanita masuk terlebih dahulu.
"Ini pulau apaan sih, Om?" tanya Crystal pada David. Dia kesal karena Tristan tak juga memberitahunya.
"Pulau kalian kan?"
"Maksudnya?" Crystal memandang kearah Tristan meminta penjelasan.
Suster Anna dan Karina seperti biasa hanya diam dan mendengarkan kebawelan Crystal.
"Ini our next project, Sayang. Aku bakal bangun hunian dengan konsep eco living disini dan seperti biasa interior untuk villanya kamu yang pegang." kata Tristan sambil nyengir.
"Lah, kita nggak holiday dong?" tanya Crystal kecewa.
"Holiday sambil kerja, Sayang."
Bersambung ya...
Karya baru sudah update ya, Friends.
Mohon dukungannya karena ini untuk event atau lomba. 🙏
Jadwal update sesuai arahan editor.
Sementara update sampai baru sampai bab 3.
Sekarang lagi tunggu Acc bab 4-20
Mohon doa ya Sist / Bro ☺
Thank you before.
Please like, vote dan comment di karya ini 👇👇
karena mempengaruhi penilaian 😊🙇♀️