
Tristan menghela napas, dia tahu cepat atau lambat ini akan terjadi. Akan tiba waktunya dimana dia akan bertemu dengan Tuan dan Nyonya Hartono untuk membicarakan tentang hubungannya dan Bianca.
Dia melirik Crystal yang ekspresinya jelas terpancar dari raut wajahnya. Mulai dari rasa sebal, tak suka, cemburu, marah, kesal, Tristan bisa membaca semuanya dengan jelas. Diambilnya tangan Crystal, digenggamnya lembut untuk menenangkan hati gadis itu.
"Apa saat ini anda sedang berterus terang tentang perasaan putri anda, Nyonya?" Tristan sekali lagi make sure.
Mama Bianca tersenyum simpul.
Tristan berjanji dalam hati, kelak dia tak akan mengungkapkan perasaan hati putrinya atau putranya sekalipun. Apalagi dengan relasi bisnis terbaiknya, sungguh pilihan yang buruk.
"Apa Nyonya tau kalau saya mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap seorang adik? Saya bukan tipe orang yang bisa dengan mudah membagi fokus. Apa Nyonya tidak keberatan saya menikahi Bianca tapi saya tak bisa memperhatikannya?"
Alasan Tristan terdengar lemah, tapi sebenarnya dia ingin mengatakan kalau dia tak menyukai Bianca.
"Lalu kenapa kalau kamu punya adik? Itu justru nilai plus dari dirimu. Di usia semuda ini, berhasil membesarkan seorang anak gadis dengan baik. Dan aku yakin, seorang Tristan Harrison tak akan pernah menelantarkan istrinya."
Tristan menimbang-nimbang, dia tahu resiko terbesar apa yang akan langsung dihadapinya setelah ini andaikata dia menolak secara terang-terangan. Bukan hanya Papa dan Mamanya, tapi juga seluruh pemegang saham di perusahaan pasti akan menghakiminya habis-habisan.
Rumor tentang dirinya dan Bianca akan bertunangan berhasil membuat harga saham di perusahaannya melejit. Baru rencana saja sudah berhasil menaikkan pamor Harrison dan Hartono. Apalagi kalau kelak mereka menjalin hubungan kekerabatan melalui sebuah pernikahan, sungguh kerja sama yang sangat menguntungkan dan diharapkan oleh banyak pihak.
"Bianca sering bercerita bagaimana dekatnya kalian sebagai kakak beradik. Mengingat Tuan dan Nyonya Harrison yang jarang ada dirumah, hubungan kalian menjadi sangat dekat itu adalah hal yang wajar." Wanita paruh baya itu melihat kearah Crystal dan tersenyum tipis.
"Kalian masih bisa saling mengunjungi meski pun kamu sudah menikah. Persaudaraan kalian tak akan mungkin hilang begitu saja." Nyonya Hartono kembali tersenyum.
Tristan mengangguk. Benar sekali hubungannya dengan Crystal tak akan hilang begitu saja. Hubungan mereka sudah terikat kuat sejak Crystal masih bayi.
"Maaf, Nyonya. Tapi perlu Nyonya ketahui, saya tidak berencana untuk menikah dalam tahun ini, tahun depan atau bahkan beberapa tahun di depannya. Masih banyak yang harus saya lakukan." Tristan mengelus lembut kepala Crystal.
Dipandangnya mata bulat besar yang memandangnya polos itu. She is not a girl, not yet a woman. (Dia itu bukan gadis kecil lagi, tapi belum juga wanita dewasa.)
Dunianya masih ada ditangan Tristan, dia harus perlu memastikan segalanya baik-baik saja supaya mata itu tetap bersinar.
"Tolong katakan pada Bianca. Tak perlu menungguku. Maaf mungkin ini terasa menyakitkan tapi sebaiknya tak perlu berlarut-larut sehingga tak semakin menimbulkan salah paham." Tristan menghela napas.
Selesai sudah!
The war has begun.
(Perang sudah dimulai.)
"Saya berharap, hal ini tidak mempengaruhi hubungan kerjasama anda dengan Harrison group." Tristan berdiri dan membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat.
"Saya benar-benar minta maaf, Nyonya. Terima kasih makan siangnya."
Tristan mengulurkan tangannya pada Crystal yang hanya diam saja dari tadi.
"Ayo." Tristan tersenyum, tanpa sadar matanya menatap Crystal penuh cinta.
Crytstal berdiri dan menyambut uluran tangan Tristan. Keduanya nampak cocok dan chemistry di antara keduanya begitu terasa hingga ke hati Nyonya Hartono.
"Kami pergi dulu, Tante." Crystal berpamitan dengan sopan.
Nyonya Harrison mengangguk. Kemudian dia menghela napasnya dan menyipitkan mata melihat keakraban dua orang itu.
Baginya, keakraban kakak beradik itu terlihat terlalu dekat dan mesra.
BYUUUR!!
Crystal meloncat ke kolam renang yang ada di hotel tempat mereka menginap. Ada pasir-pasir di pinggir kolam serta riak-riak gelombang buatan, sehingga Crystal merasa seperti sedang di pantai.
Dia sangat menyukai pantai, pasirnya yang lembut, gelombang yang menyentuh pergelangan kaki dan deburan ombaknya seakan menenangkan jiwa. Dan juga, anginnya terasa asin dan lengket di kulit. Ah, nanti dia akan mengajak Tristan pergi ke pantai.
Crystal berbalik memandang ke arah Tristan yang berjalan mondar mandir di ujung kolam. Lelaki itu sedang menelepon seseorang, wajahnya begitu serius. Keningnya berkerut, beberapa kali tangannya mengusap rambut. Crystal bisa merasakan kegelisahan Tristan. Ada apa sebenarnya? Apakah masalah pekerjaan?
Crystal menghentikan kegiatannya yang menyenangkan, naik keatas dan perlahan berjalan mendekati Tristan. Sempat terdengar nada suara Tristan meninggi.
Teriakan? Benarkah Tristan berteriak? Crystal terkejut. Kalau Tristan sampai berteriak, pasti masalahnya gawat. Tristan tak pernah berteriak dan jarang sekali berbicara dengan nada tinggi.
"Enjoy your time. Aku harus handle sesuatu dulu." kata Tristan tadi begitu mereka sampai di hotel.
Kata-kata Tristan terngiang di telinga Crystal, dia menarik napas dalam-dalam. Tak tahu harus mendekat atau bagaimana. Di pandangan Crystal saat itu, Tristan seperti bom yang hampir meledak.
Detik berikutnya, tanpa sengaja pandangan Tristan berserobok dengan mata Crystal. Gadis itu merapatkan handuk yang menutupi tubuhnya. Tristan terperangah, dia kuatir Crystal mendengar pembicarannya. Buru-buru dia menyudahi percakapan, dan menghampiri Crystal.
"Crystal?"
Crystal mendekat, "Kenapa Kak Tristan marah-marah?"
Pertanyaanya terdengar begitu polos dan lugu, namun berhasil mengembalikannya Tristan ke realita. Tristan menghembuskan napas dan mencoba untuk mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih relax.
"I'm sorry you have to see me like this."
(Maaf, kamu sampe ngeliat aku seperti ini.)
Dia menghempaskan pantatnya ke kursi didekat situ, duduk dengan kepala menunduk berada diantara kedua tangannya.
"Are you okay?" Crystal menyentuh bahu Tristan.
Tristan mengangkat kepalanya, menatap wajah innocent Crystal, membuat Tristan semakin ingin selalu melindunginya. Tristan merentangkan tangannya. "I'm okay. A big hug to make it better, please."
(Nggak apa-apa. Peluk, please... supaya aku ngerasa lebih baik.)
"Tapi bajuku basah." Crystal ragu-ragu.
Tanpa aba-aba Tristan sudah menarik Crystal ke dalam pelukannya.
"Everything is okay, and always gonna be okay for you." bisik Tristan sambil mengeratkan pelukan.
(Semua baik-baik aja dan selalu akan baik-baik saja untukmu.)
"I can't promise you an happy ending, but I promise you to have the best life I can give."
(Aku nggak bisa menjanjikanmu sebuah happy ending, tapi aku janji kamu bakal dapat hidup terbaik yang sanggup aku kasih.)
Tristan mencium kening Crystal penuh perasaan, berharap waktu berhenti sejenak.
Bersambung ya....