I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 104 -- Don't Fight!



Crystal yang sempat mengeluh lelah melihat tingkah si kembar yang super aktif, sekarang justru terikat dengan anak - anaknya. Dia lebih banyak di rumah dan mengurus mereka. Pekerjaannya dipegang oleh Tristan dan Karina, dia hanya mengambil maximal dua design per bulan. Sementara Tristan, dia memang lebih senang kalau istrinya menemani anak - anak. Dia tak mau anak - anaknya memiliki kehidupan masa kecil yang kesepian seperti dirinya.


Siang ini, Obey dan Faith baru pulang dari sekolah, mereka langsung melesat ke dapur mencari eyang Anna.


Crystal menyuruh kedua baby sitter mengikutinya, sementara dia ingin mengecek sesuatu di ruang kerjanya.


Belum juga pantat menempel di kursi kerjanya, suara lengkingan membahana sudah bergema dari arah dapur, menerobos masuk dari pintu ruang kerja yang setengah terbuka.


"Aku mau yang ini!"


"No, this is mine."


"But, I got it first." (Tapi aku yang dapat duluan.)


"NO! I got it first and you took it." seru salah satu dari mereka.


(Nggak, aku duluan tapi kamu ambil.)


Suara mereka kian riuh, bersahutan dan tak ada yang mau mengalah. Terdengar suara lembut suster Anna melerai.


Mendengar pertengkaran Obey dan Faith, Crystal membatalkan niatnya untuk duduk dan membuka email. Kemudian dengan kecepatan penuh, berlari dari ruang kerja menuju ke arah sumber suara. Dia langsung berkacak pinggang begitu sampai di area pertempuran.


"HEY!" teriaknya.


Si kembar terkejut, serempak mereka diam dan menoleh ke arah sumber suara.


"Mommy?" ucap mereka serempak.


"Mommy, aku tidak mau yang itu. Aku mau yang ini." Salah seorang dari mereka mengadu. Crystal. menebak kalau itu adalah Faith, karena biasanya Faith lebih cengeng dan tukang mengadu.


"Tidak! Itu punyaku. Aku nggak akan kasih ini ke kamu. Kamu punya sendiri di tanganmu. Jangan menginginkan milikku." balas Obey dengan suara yang lebih mirip teriakan.


Detik berikutnya Obey dan Faith sudah saling beradu pandangan. Mereka berdiri berhadapan dan melotot satu sama lain. Wajah mereka saat marah begitu mirip Crystal kecil. Tangan mereka memegang satu kotak snack yang sama, yang menjadi barang sengketa mereka.


"OBEY HARRISON! FAITH HARRISON!"


"Non, sudah Non. Bukannya nurut nanti anaknya malah tambah nakal." Suster Anna menepuk - nepuk bahu Crystal supaya Mommy muda itu berhenti berteriak.


Dua anak perempuan yang diteriaki itu melonjak. Mereka kembali berpandangan, lalu...


"KABBBBUUURRRRRR!!!"


Sejenak gencatan senjata terjadi, dan si kembar lari menghindari amukan Mommy mereka. Crystal memutar bola matanya. Kesal!


PRAK!!


KLONTANG!


"Begini ini, Sus. Mana bisa aku nggak marah? Bisa hancur rumah ini." omel Crystal, melampiaskan kekesalannya pada suster Anna yang berdiri di sebelahnya.


Dengan langkah lebar - lebar, Crystal bergegas ke ruang makan yang saat ini sudah berubah jadi arena pertempuran si kembar berikutnya.


Astaga!


Kedua anak perempuan yang imut dan lucu itu saling memukul dan menendang satu sama lain. Kunciran rambut mereka sudah berantakan, wajahnya sudah merah padam.


"Hey, hey, kalian berkelahi?" teriak Crystal heboh.


Tentu saja tak akan ada yang merespon Crystal, atau mungkin saja mereka terlalu fokus pada pertengkaran sehingga tak mendengar suara sang Mommy.


"Aku sudah bilang aku mau yang itu, from the very first! Kenapa kamu tak memberikannya padaku?"


(Dari pertama banget.)


"Ini punyaku. Nggak akan aku kasih. You have your own."


(Kamu punya milikmu sendiri.)


"Tapi aku mau yang itu. Ayo tukar!"


"Enak saja! Aku juga suka yang ini."


"Tapi aku juga suka. Dan aku mau itu."


"HEY! Listen to me! DON'T FIGHT!" teriak Crystal.


Percuma! Teriakan Crystal ternyata kalah dengan ramainya suara perdebatan Obey dan Faith."


Pukulan dan tendangan justru lebih bertubi - tubi, mereka saling menarik baju masing - masing, bergulat hingga bergulingan di lantai ruang makan. Crystal memijat pangkal hidungnya, pusing.


"STOP, KIDS! STOP IT!!" Crystal memperkuat suaranya, tangannya sampai membentuk corong.


Hasilnya? Sia - sia.


Tak satu pun dari mereka mendengar suara Crystal. Obey mulai meraung karena Faith sudah mencubit kakinya. Tak terima dengan perlakuan Faith, Obey ancang - ancang mau mencakar Faith.


Habis sudah kesabaran Crystal. Dia menghirup udara sebanyak yang dia bisa, menghimpun kekuatan dan berteriak sekuat yang dia bisa.


"STOOOOOOOP!!! STOP IT, EVERYONE! STOOOOOP."


Wajah Crystal merah padam. Dan berhasil, si kembar berhenti bertengkar.


"Tidak ada yang boleh berkelahi!" hardik Crystal.


Tetapi hardikan itu justru kembali membuka perdebatan baru. Obey berusaha mempertahankan miliknya, sedangkan Faith mencoba mendapatkan keinginannya. Mereka ternyata memperebutkan makanan yang ada di dalam kotak.


Suster Anna tadi memberikan mereka snack ternyata ada dua rasa berbeda di dalam box. Rasa yang berbeda itulah yang menjadi sumber pertengkaran mereka karena sama - sama menyukai vanilla.


"Tapi aku ingin vanilla." ucap Faith memelas.


"Mintalah lagi sama Eyang Anna."


"Tapi ini box terakhir." keluh Faith.


"Dan ini milikku." sahut Obey ketus.


Dan detik itu juga, pertengkaran kembali dimulai. Crystal memijit kepalanya yang terasa berdenyut, kemudian dia meloncat dan berdiri ditengah si kembar. Memisahkan kedua anaknya.


Ternyata kedua anak itu tak terima, mereka menatap Crystal dengan tatapan membunuh. Seakan sang Mommy membela salah satu dari mereka.


Obey dengan kakinya menendang Faith, kembarannya itu tak terima. Dia menghindar sambil berusaha meraih tangan Obey. Mereka bertengkar dengan Crystal yang berada di tengah - tengah.


"STOOOOOOP!!" teriak Crystal frustasi. Teriakannya lebih mirip dengan permintaan tolong dari pada sebuah perintah kepada anak - anaknya.


Dia tak sanggup lagi, jika suara kerasnya tak juga mampu menghentikan pertengkaran maka dia angkat tangan. Tak tahu lagi harus bagaimana.


Di saat genting seperti itu, terdengar suara langkah kaki dan suara hangat yang sangat familiar di hati dan telinga mereka.


"Kids! Daddy's home!"


Mendengar sapaan Tristan, si kembar langsung berhenti dan berlari ke arah sumber suara. Sampai di depan Tristan, mereka langsung memeluk Daddy mereka dan menghujaninya dengan ciuman.


Tristan memeluk keduanya bersamaan dan mencium satu persatu kening anak kembarnya. Kemudian menggendong mereka berdua sekaligus, kanan dan kiri.


"Ugh! Anak - anak Daddy udah besar, sebentar lagu Daddy nggak kuat gendong. How was your school?"


Mendengar pertanyaan Tristan, si kembar langsung berebut cerita. Satu kalimat Obey, disusul dengan kalimat Faith. Mereka berlomba bercerita tentang hari mereka.


Melihat adegan dihadapannya, Crystal ternganga. Dia berdecak kesal, tak ada yang percaya. Mudah sekali kedua anaknya berhenti bertengkar.


"Kemana pertengkaran kalian tadi? Tunjukkan ke Daddy gimana hebatnya kalian kalau bertengkar." perintah Crystal dengan kekesalan mencapai ubun - ubun.


Tristan yang menyahut. "Hmmm... , jadi anak - anak Daddy ini tadi bertengkar? Bikin Mommy marah?"


"Ah, nggak kok.... Iya kan, Fei?" tanya Obey dengan wajah tanpa dosa.


Sekali lagi Crystal tercengang, speechless.


"Lha tadi itu apa?" tanya Crystal semakin frustasi.


Obey yang menjawab sambil tersenyum manis.


"Tadi eyang Anna gave us a box of snack. Ada dua rasa yang berbeda di dalamnya. Aku mau vanilla tapi si Fei juga mau, Dad."


Lho, lho, kenapa jadi santai begini mereka bercerita ke Tristan? Kenapa dari tadi mereka tak bisa bicara baik - baik seperti ini? Hhh.... menyebalkan!


"Kalau begitu, gimana kalau kita minta tolong nanny kalian beli lagi aja sama Pak Supri?"


"Yeeeey!!!" si kembar bersorak senang. Mereka menghujani Daddy mereka dengan cium dan pelukan.


Crystal melipat tangannya sambil mendengus kesal, wajahnya cemberut.


🌹🌹🌹🌹


A bunch of love from EYN to All Readers,


I have no more beautiful word but thank you everyone.


Thanks readers for my experience in writing this novel. The feeling along my writing time is a precious one. I felt a different feeling from Your Officemate Time, the best happy feeling ever.


Thanks readers for the chance to improve my skill in writing I Love You, Sis!


Honestly, I can hardly move on from Tristan. However, the best thing is stop whenever it should stop. Let Tristan and Crystal be beautiful in our heart. 😝


By the way, karya ini diikutkan lomba dengan tema Cinta Terlarang dan harus revisi banyak. Untuk bonchap, masih bisa aku kasih tapi mungkin ga rutin. Yang penting today, aku harus ubah status ongoing jadi tamat dulu ya, Gaes...


(Napa aku sedih ya? Kaya ada yang ilang when it came to say good bye Tristan.) 😭


Thanks, Gaes for the happy time to grow with you and this writing.


Good bye, My first love Tristan.


Semoga bisa bikin a better character di karya berikutnya.


Note : Ini karya tamat kedua-ku, that's why Tristan is my first love. 😜