
Kadang manusia begitu menggebu-gebu saat menginginkan sesuatu, mereka tak sadar kalau ada proses menyakitkan sebelum mendapatkan sebuah keindahan.
Malam itu juga mereka memutuskan untuk membuat tatoo couple di pergelangan kaki masing-masing. Gagasan itu terasa sangat menakjubkan bagi pasangan yang sedang jatuh cinta itu.
Pria pemilik tatoo parlor menyambut hangat kedatangan mereka seperti menyambut teman lama.
"Wow! Couple tatoos sound good." Pria itu ikut antusias terbawa semangat Tristan dan Crystal. Mereka berdiskusi tentang bentuk, dimana letak yang bagus dan juga warna.
"Nah! Jadi kalau lagi jalan bareng, keliatan banget kalau King and Queen should be together." ujar Crystal sambil tersenyum lebar.
Tristan antara antusias dan gugup, selama ini tak pernah terbersit dalam pikirannya untuk membuat tattoo.
"Kamu beneran udah yakin?" tanya Tristan lagi, kuatir kalau-kalau Crystal berubah pikiran ditengah proses. "Lagipula ini sakit, apa kamu bisa tahan?"
Crystal menoleh, mengangguk mantap dan mengacungkan jempolnya. "YES!"
"Tattoo ini nggak bisa dihapus lho. Permanent, gonna stay forever ini your body." Sekali lagi Tristan mencoba memberi pandangannya ke Crystal. Dia tak mau gadisnya menyesal kelak.
"Yup! Permanen seperti Kak Tristan yang stay forever in my life." Crystal melempar senyum termanisnya pada Tristan.
Dan, celetukan Crystal berhasil membuat jantung Tristan berdegup dua kali lebih cepat. Ya ampun, untuk kesekian kalinya dia jatuh cinta pada gadis remaja di hadapannya.
Crystal benar, tattoo ini tidak akan bisa dilepas meski dia bosan, tidak bisa sembarangan dihapus atau pun dibuang. Berbeda dengan barang-barang couple lainnya, yang bisa saja hilang atau dilepas kapan pun pemiliknya bosan. Ya, Tristan juga ingin Crystal permanen dalam hidupnya.
***
"Berapa lama kalian bersama?" tanya tattoo artist itu sambil bersiap memulai proses pembuatan tatoo untuk Crystal. Proses tattoo Tristan sudah lebih dahulu selesai dan dia sekarang hanya tinggal menunggu Crystal.
Hmm... Gimana hitungnya ya? Kapan resminya mereka bersama? Waktu first kiss? Atau waktu di pesawat ya? Crystal berpikir-pikir.
"Forever." akhirnya dia menjawab.
Ha? Sang tattoo artis tercengang dengan jawaban Crystal. Tapi, tak apalah. Dia hanya ingin mengalihkan perhatian Crystal sejenak.
"How long do you know him?" tanya orang itu lagi.
"I know him as long as I can remember." jawab Crystal dengan bangga.
"Aaargh!" pekik Crystal saat jarum mulai menusuk. Sang tattoo artist tertawa kecil, "Tahan sebentar ya."
"Haduuuh... Kak Tristan, tolong." rengek Crystal.
Tristan jadi serba salah. Dia ingin tertawa kalau ingat bagaimana si Crystal sok yakin dan mantap minta tattoo, tapi juga tak tega melihatnya menangis.
"Sabar ya... " Akhirnya Tristan cuma bisa mencium kepala Crystal dan membesarkan hatinya.
"Sakit Kak."
"Kan aku sudah bilang kalau bakal sakit." jawab Tristan kalem.
"Kenapa Kak Tristan nggak bilang kalau sakitnya pake banget?" Crystal protes.
"Kan aku juga belum pernah tattoo." Tristan mengulum senyum
Berkali-kali Crystal menghembuskan napas, sakitnya luar biasa. Dia menangis sepanjang proses. Tristan memeluk, dan berulang kali menghapus air mata Crystal yang terus mengalir.
"It's not fair. Kenapa Kak Tristan tadi nggak kesakitan kaya aku?" Crystal mencubit Tristan karena kesal.
Tristan tersenyum, "Sakit sih sakit, tapi kan bisa ditahan. Nggak kaya kamu. Malu dong udah gede masih suka nangis." goda Tristan.
"Aku kapok, nggak mau lagi bikin tattoo. Ini pertama dan terakhir." Crystal terus mengomel sambil menangis.
"Kayak aku dong?" Tristan mengedipkan sebelah mata dan tersenyum jahil.
"Apaan?"
"I'm your first and your last one." jawab Tristan.
"Iiiish... kepedean." Crystal sewot.
"Aaah... , ayolah. Kamu kan belum pernah pacaran dan ciuman jadi aku itu first and last." Tristan terus mengajak bicara Crystal.
Huh! Tristan memang benar, Crystal hanya bisa mendengus sebal. "Trus kalau aku gimana? First one and last one nggak buat Kak Tristan?"
"Nope." jawab Tristan cepat.
"Hah? Jahaaat!" Crystal mulai naik darah.
"Nggak, kamu bukan first one and last one. Tapi you are the one." Tristan tersenyum manis.
"Oke! Done!" kata tatoo artist.
Akhirnya proses tatoo selesai, Crystal tak terlalu merasakan sakit di akhir-akhir proses karena terlalu sibuk berdebat dengan Tristan.
"Ingat untuk mengganti kasa dan cling filmnya, pastiin tatoo dalam kondisi kering dan bersih. Jangan kena sinar matahari langsung, jangan digaruk kalau gatal. Oles krim dan pelembab." pesan tatto artist itu lagi.
Crystal hanya mengangguk-angguk, matanya masih sembab.
Mereka keluar dari studio tattoo diiringi lambaian tangan pemiliknya.
"Kak Tristan?" Crystal bertanya saat mereka sedang berjalan menuju ke hotel.
"Ya?"
"Jadi sekarang ini kita ini pacaran ya? Couple?" tanyanya polos. Dia bergelanyutan di lengan Tristan.
Tristan tertegun dengan wajah yang tak bisa digambarkan. Benar-benar anak kecil. Mereka sudah berciuman, membuat tattoo couple, bahkan Crystal pernah menggodanya dengan mengajak make love dan sering menciumnya secara tiba-tiba.
Dan sekarang dia malah menanyakan status mereka? Tristan tak tahu harus tertawa atau menangis.
"Menurutmu bagaimana?" Tristan bertanya balik, sengaja menggoda.
"Hah?" Crystal melepaskan lengan Tristan dan nampak sedikit terkejut. Tristan ingin tertawa melihat ekspresi Crystal yang bingung.
"Ya, kamu maunya gimana? Aku nurut aja sih, you're the queen. Mau pacaran, tunangan atau nikah? Kalau kamu minta nikah sekarang, aku siap."
"Apa? Nikah?" Pekik Crystal.
Melihat ekspresi Crystal yang nampak horor mendengar kata menikah, Tristan menggigit bibirnya, menahan tawa. Baru dengar kata menikah aja sudah takut, berani-beraninya mengajak yang "iya-iya". Dasar bocah! Tingkahnya benar-benar membuat orang geleng-geleng kepala.
"Jadi gimana? Maunya jadi pacar, tunangan atau istri?" Desak Tristan lagi.
Crystal terdiam beberapa saat lagi.
"Ehm... pacar aja, pacar. Iya pacar." Crystal mengangguk-angguk dengan ekspresi tak yakin. Bagaimana dengan kuliahnya kalau dia nikah sekarang? Apa pula kata Papa Mama?
Oh, No! Mendadak Crystal takut menghadapi perang dunia kalau sampai orang tua mereka tau. Dari kemarin dia benar-benar lupa dengan Mama Papa Harrison.
"Are you sure?" Tristan kembali bertanya dengan nada menggoda.
"Yes. I'm sure."
Tristan tersenyum.
"Kalau cuma pacar, artinya aku nanti nikahnya sama orang lain lho." Tristan mengerutkan kening dan memasang ekspresi sedang berpikir keras.
"KAK TRISTAN! Tadi bilangnya aku itu The One! Ingat nggak tadi Kak Tristan bilang gitu?
"THE!"
"ONE!"
"Belum dua puluh empat jam sudah lupa, payah bener."
Crystal marah-marah, berjalan menjauh sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
Tristan tak bisa menahan tawanya. Dia tertawa terpingkal-pingkal hingga wajahnya memerah. Melihat Crystal yang terus melangkah menjauh, Tristan buru-buru mengejar.
"Hey... Aku cuma bercanda. Jangan marah, oke?"
Crystal berbalik dan cemberut, tangannya terangkat.
"Eiiits, nggak kena!" Tristan berhasil menghindari pukulan Crystal, dia menjulurkan lidahnya.
Crystal mendengus tak terima, dia bersiap-siap menyerbu Tristan.
"Permisi, Tuan Tristan."
EH?
Sontak Tristan dan Crystal berhenti dan menoleh kearah suara yang menyapa mereka.
Bersambung ya....
Hari update 1 Bab aja ya...
Thank you for reading 🙏