
Crystal menghembuskan napas sambil menyandarkan kepalanya di bahu Tristan. Dia tak pernah menyangka, hanya duduk bersebelahan seperti ini rasanya sangat nyaman dan tentram.
Efek jetlag ditambah lelah menangis, Crystal mulai menguap.
"Masih jetlag gitu kok sok - sokan masak segala." Sindir Tristan.
"Yaaaah, sebenernya aku kan mau minta maaf. Mau kasih surprise gitu... , malah gagal deh." Suara Crystal terdengar sedang mengantuk.
"Nggak ada yang perlu dimaafin."
"Next, I'll try to step on other's shoes. Sifatku jelek banget ya Kak?"
"Ya itu kan salahku juga."
"How come?"
(Kok bisa?)
"Aku terlalu manjain kamu. Yang bikin karaktermu begitu ya aku sendiri kan? So, nothing to worry about."
(Jadi, nggak ada yang perlu dikuatirkan.)
"Hm-hm." Sahut Crystal, matanya semakin berat dan lengket.
"Ngantuk banget ya?" Tanya Tristan pada Crystal yang matanya mulai terpejam.
"Hey, pindah ke kamar. Aku belum bisa menggendongmu." Tangannya menepuk - nepuk pipi Crystal.
Crystal memaksakan diri untuk bangkit dan berjalan dengan mata setengah terpejam menuju kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Tristan mengecup kepala Crystal. Sesaat dia berdiri dan memandangi gadis kesayangannya yang terlelap kemudian pergi keluar tanpa bersuara.
***
Efek jetlag Crystal tidur dari pagi hingga sore hari, seolah kelelahan yang selama ini ditahannya lepas begitu saja tidur di apartment Tristan. Benar - benar pulang ke rumah.
Tristan is her home sweet home.
Suster Anna yang sudah merasa cukup beristirahat juga sudah datang ke apartment Crystal, dia tinggal di lantai yang sama namun berbeda unit.
Begitu datang, Suster Anna langsung ke dapur, menyeduh teh dan memasak french fries. Dia juga menyiapkan nasi goreng kesukaan kedua majikan kesayangannya.
"Sus, kok dah dateng. Nggak capek?" Sapanya dari balik counter dapur.
"Sus kangen bikinin teh sama masak buat Tuan."
"Haha... aku ya kangen nasi gorengnya Sus."
"Nona belum bangun Tuan?" Suster Anna mengambil poci teh panas dan menuangkannya untuk Tristan.
"Belum." Tristan menggeleng. "Biarin aja, sejam lagi aku bangunin dia."
"Sus, makasih ya Sus."
"Sama - sama, Tuan."
"Maksudku makasih udah temenin dan jagain Crystal. Dan juga, makasih udah suruh dia pulang." Kata Tristan sambil tersenyum.
"Maksudnya Sus bocorin rahasia Tuan. Gitu ya Tuan?" Suster Anna merasa tersindir sekaligus bersalah.
"Lah, Sus? Kok jadi sensian gitu?" Tristan tergelak. "Swear, makasih beneran Sus. Kalau Sus nggak bocorin, mungkin dia masih ngambek sampai sekarang."
Suster Anna akhirnya tertawa pelan.
"Habisnya, Sus baru pertama kali ini nggak patuh sama Tuan. Kan takut, Tuan."
Tristan ikut tertawa. Ruang hatinya yang terasa kosong beberapa tahun ini seperti kembali terisi oleh cinta orang - orang yang disayanginya.
"Tuan, sepertinya Non Karin udah datang." Kata Suster Anna saat mendengar bell berbunyi.
Suster Anna meletakkan cangkir berisi teh di hadapan Tristan dan mendorong piring berisi french fries mendekat pada Tristan. "Silahkan, Tuan. Sus bukain pintu dulu buat Non Karin."
Tristan tersenyum sambil meminum teh herbalnya.
"Tuan Tristan, ini titipannya." Karina membawa satu ember besar berisi tumpukan mawar merah merekah.
"Waaah, pasti ini hasil panen dari tanamannya Mama ya?" Seru Suster Anna takjub.
Tristan berdiri dari duduknya. "Kamu bawa kertas pembungkusnya sekalian?"
"Of course. Nih!" Karina memberi kode ke ransel di belakang punggungnya. Kemudian dia memberikan ember berisi bunga mawar itu dengan kedua tangannya.
Senyum Tristan makin merekah, Crystal pasti menyukainya. "Let's make a bouquet."
Suster Anna langsung bergerak cepat menyiapkan apa saja yang diperlukan oleh Tristan. Karina membantunya memotongi duri - duri mawar supaya rapi dan bersih dari duri.
Suster Anna tersenyum bahagia melihat Tristan bersiul - siul saat sibuk menyiapkan buket bunga untuk Crystal. Hatinya terasa penuh, bisa bertemu Tuan Muda kesayangannya dalam kondisi yang sudah jauh lebih baik.
"Padahal beli saja bisa lho, Tuan. Kenapa repot - repot?"
"Kalau beli kan udah biasa, Sus." Tristan memilah - milah bunga yang mekar sempurna dan belum terlalu mekar.
Tristan selesai merangkai bunga - bunganya dan bertanya dengan bangga, "How? Cantik nggak? Cantik mana sama Crystal?"
"Hadeeeeh... Tuan!!!" Protes Suster Anna dan Karina sambil menepok jidat melihat kelakuan Tristan.
Tristan hanya mengulum senyum melihat reaksi kedua orang dihadapannya. Dengan senyum lebar, dia membawa buket bunga mawar hasil rangkaiannya sendiri ke kamar Crystal. Langkahnya terasa lebih ringan dan wajahnya berseri - seri. Atmosphere kebahagiaan itu begitu kentara, dirasakan oleh Suster Anna dan Karina.
"Syukurlah mereka bisa bertemu lagi ya, Sus." Komentar Karina sambil memandang punggung Tristan yang terlihat tampan.
Suster Anna mengangguk dengan ekspresi penuh haru. Kebahagiaan Tristan dan Crystal adalah kebahagiaannya juga.
***
Bau harum bunga merebak di kamar Crystal, menyelusup masuk ke indera penciumannya tanpa basa basi. Crystal mengerutkan hidungnya saat aroma mawar segar terasa begitu dekat dengannya. Perlahan Crystal membuka matanya, warna - warna merah langsung menyambutnya.
Mata Crystal terbuka sepenuhnya saat suara Tristan menyapa, "I love you, Princess." Dibelakang bunga - bunga itu nampak Tristan berdiri dan tersenyum padanya.
GOD! Tristan begitu tampan, bagaimana bisa Crystal tidak jatuh cinta lagi padanya.
"A bouquet of roses?" Crystal bangkit dan meraih bunga mawar dari tangan Tristan.
"Wow! Kapan Kak Tristan beli?"
Tristan duduk di sisi kasur. "Do you like it? Aku bikin sendiri barusan. Karina bawa dari kebun mamanya."
Crystal mengangguk, senyumnya merekah hingga matanya ikut berbinar. Dia mendekat ke Tristan dan mencium pipinya sambil berbisik. "Makasih ya. Me too. I love you."
Oh, My! Hati Tristan kembali berdebar, ciuman pertama yang ditunggunya sejak pertama bertemu tadi. Tristan menarik Crystal ke dalam pelukannya dan menciumnya lembut, melepas rindu yang selama ini tersimpan di dalam dada.
Crystal memejamkan matanya menikmati kecupan Tristan. Crystal bersumpah bersama Tristan hidupnya terasa utuh kembali. Perasaan mereka sama, tak lagi kosong.
Apalagi saat Tristan berbisik, "Welcome back to my life."
Tiba - tiba Crystal terkikik geli saat mendadak bulu di rahang Tristan menggesek pipinya. Dia mengelus janggut Tristan yang mulai melebat. "It's time for shaving."
"Ya... ya... ya... I'll shave it before our holiday." sahut Tristan sebal.
Crystal lagi - lagi membuyarkan moment romantis di angan - angan Tristan. Benar - benar tidak cooperative.
"What? Holiday?" Crystal langsung terlihat antusias.
"Yup. Aku mau kasih kamu surprise!"
"Surprise apa?"
"Rahasia." Tristan mengedipkan sebelah matanya.
"Yaaah... kasih tau dong." katanya sambil menggoyang - goyang lengan Tristan.
"Kalau dikasih tau bukan surprise lagi dong. Gimana sih?" Tristan buru - buru berdiri sebelum Crystal merangsek dan memaksanya berbicara.
"Lho? KAK TRISTAAAN, jangan pergi. Ngomong dulu mau holiday kemana?" teriaknya heboh.
Bersambung ya....
NOTE :
I'll try to step on other's shoes
Kalau istilah bahasa Indo-nya : cobalah melihat dari kaca mata orang lain.