
Perjalanan belasan jam menuju Paris benar-benar menguras tenaga Crystal, dia sangat lelah. Begitu sampai mobil, dia langsung tertidur. Padahal Tristan telah menyewa hotel dengan balkon menghadap menara eiffel, ikon kebanggaan kota Paris.
Keesokan paginya, Crystal terbangun saat Tristan sudah rapi. Sontak Crystal melompat dari tempat tidurnya.
"Kenapa aku sudah disini? Jam berapa ini?" Tanyanya dengan raut bingung.
"Ini jam delapan pagi. Kamu tidur dari kemarin malam, sampai nggak makan malam. Ayo siap-siap trus breakfast."
Crystal membelalakkan matanya. Jadi dia tidur sepanjang perjalanan? Bagamana bisa dia tahu-tahu sudah diatas tempat tidur yang nyaman?
Ah, dia tahu siapa yang menggendongnya sampai kamar. Diliriknya Tristan yang sedang serius membaca sesuatu di tabletnya.
Dan berikutnya, Crystal menyadari satu hal. Tristan berada di kamarnya sekarang! Apa artinya mereka semalam tidur sekamar?
"Kak Tristan tidur dimana semalam?" Tanya Crystal curiga.
"Aku tidur disebelah. Kenapa memangnya?" Dengan dagunya Tristan menunjuk ke arah connecting door yang menghubungkan kamar mereka.
Crystal menghembuskan napas lega.
"Untunglah." Katanya pelan.
Entah kenapa tiba-tiba saja dia sempat merasa malu saat tadi berpikir kalau mereka semalam tidur sekamar.
Tristan mengangkat alisnya, "Why?"
"Sekarang kita nggak boleh bobok bareng lagi Kak."
"Kata siapa?" Tristan mengulum senyum.
"Kata aku." Crystal berkacak pinggang.
"Aku kan udah gede, nggak boleh bobok sama sembarang orang lagi." tambahnya dengan tampang sok tau.
Tristan terbahak, "Awas ya! Kalau hujan petir dan lampu mati, dilarang menyusup ke kamarku. Nggak boleh ngambek kalau kamar aku kunci."
"Ha? Itu kan kasus khusus Kak, selalu ada pengecualian di setiap kasus." sahut Crystal cepat sambil ngeloyor ke kamar mandi.
Dasar Crystal! Dia selalu mau paling benar.
Keindahan disney land kota Paris belum bisa dinikmati oleh Crystal karena Tristan masih memiliki beberapa urusan. Begitu Crystal berpenampilan rapi, mereka segera mengisi perut.
"Yuk." Tristan mengulurkan tangannya begitu Crystal menyelesaikan sarapannya.
"Kemana kita sekarang?"
"Kerja." jawab Tristan singkat.
"Aku ikut?" Crystal bertanya heran.
Tristan tersenyum, "Aku nggak mungkin ninggalin kamu sendirian disini kan? Ini negara asing."
"Aku stay di hotel aja ya?" pinta Crystal.
"Nggak. Kamu harus ikut aku kemana-mana, lebih aman kalau kamu sama aku."
Tristan langsung menggamit tangan Crystal menuju rooftop hotel yang luas. Disana sudah menunggu sebuah helikopter dengan mesin menyala, baling-balingnya berputar menerbangkan semua yang ada di sekitarnya, rambut Crystal beterbangan segala arah.
Tristan segera membantu Crystal naik ke helikopter.
"Mau kemana?"
"Lihat lokasi proyek kita dari atas."
"Memangnya Kak Tristan mau bangun rumah disini?" tanya Crystal tak percaya.
Tristan hanya tersenyum menanggapi rasa ingin tahu Crystal yang tinggi.
Pintu helikopter ditutup, dan helikopter bergerak naik. Goncangannya lebih terasa daripada saat naik pesawat, Crystal merasa tak nyaman. Diliriknya Tristan yang nampak tenang duduk disampingnya.
Tristan tertawa kecil, "Nggak apa-apa, cuma sebentar." Tangannya menggenggam tangan Crystal.
Jantung Crystal berdegup kencang, entahlah bisa jadi karena ini adalah pertama kalinya dia naik helikopter. Atau mungkin juga karena ini juga pertama kalinya dia ikut Tristan bekerja.
Selama ini Crystal hanya tahu kalau Tristan adalah orang yang sibuk, dia bolak balik keluar negeri, meeting, berhubungan dengan orang-orang penting, dan melakukan banyak hal yang tak pernah bisa dimengerti oleh Crystal.
Dan hari ini, dia akan melihat bagaimana kerennya Tristan sebagai bussinesman. Bukan hanya sebagai kakak yang memanjakannya selama ini. Dia menemukan sisi lain seorang Tristan yang serius dan tak banyak bicara saat bekerja.
Ah, kekaguman Crystal makin bertambah saat melihat bagaimana Tristan melakukan negosiasi dan deal-deal serta mengambil beberapa keputusan penting. Tristan bahkan berbicara dengan bahasa setempat tanpa menggunakan penerjemah. Entahlah terbuat dari apa otak Kak Tristannya itu, Crystal sampai mencari-cari apa kelemahan Tristan. Nampaknya dia serba tahu.
Tristan menoleh.
"Mau bobok. Ayo balik hotel." Crystal merajuk. Dia mengantuk, mungkin karena efek jetlag.
"Oke. Nice to meet you, Sir." Tristan berpamitan. Mereka masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang sudah menunggu, siap membawa mereka balik ke hotel.
"Kenapa Kak Tristan bisa pinter banget?" gumam Crystal sambil menyandarkan kepalanya dilengan Tristan.
Tristan tertawa, "Aku tetap Tristan yang kamu kenal, Sayang."
"Sorry, kamu jadi kecapekan. Mulai besok kita main apa pun yang kamu mau." lanjut Tristan.
Tak ada jawaban. Crystal sudah terlelap. Yang kerja siapa, yang capek siapa.
***
Malamnya Crystal terbangun dan menikmati keindahan menara Eiffel dari balkon kamarnya. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
"Kak Tristan!" Seperti biasa Crystal langsung meloncat ke pelukan Tristan.
Tercium aroma sabun bercampur dengan parfum maskulin, harum khas Tristan.
"Putri tidur sudah bangun? Ayo makan!" Tristan mengecup pucuk kepala Crystal.
Crystal cengengesan, dia malu karena lagi-lagi tertidur dan saat tersadar sudah berada dikamarnya.
"Sini dulu!" Crystal menyeret Tristan menuju balkon.
"Keren banget kan pemandangannya?" Crystal menunjuk ke menara eiffel yang nampak jelas dari balkon, menyala terang di tengah gelapnya malam.
"I know!" Tristan menunjukkan pergelangan tangannya. "Sebenernya rencana awal aku mau kasih ini sambil bilang suka ke kamu disini."
"Wow! Ternyata jam tangannya couple?" pekik Crystal senang.
Tristan mengangguk. "Gara-gara terbawa suasana jadi salah skenario deh." Wajah Tristan memerah seperti ABG yang sedang jatuh cinta.
"Hah? Rugi dong kalau gitu... " Crystal mencebik.
"What?"
"Kalau Kak Tristan bilang sukanya disini... " Crystal menjeda omongannya. "I'll give you something more than a kiss."
Tristan terpaku. Wajah gadis remaja itu kemerahan, malu-malu tapi seolah menantangnya melakukan "sesuatu".
Hey! Sejak kapan Crystal berani menggodanya seperti ini.
Jantung Tristan berdebar kencang. Dia adalah seorang pria di usia matang untuk menikah. Kata-kata Crystal yang seduktif berhasil membangkitkan sesuatu yang sulit untuk ditahan.
Astaga Crystal! Apa yang kamu lakukan? Crystal mendekat pada Tristan, sangat dekat hingga tubuh mereka hampir bersentuhan.
"Katanya all that you want is me, jadi aku bakal kasih Kak Tristan sesuatu."
" I want you... "
"To."
"Make."
"Love."
"To me."
Ya Tuhan! What a gift...
Bersambung ya....
Heran Crystal kaya begitu? 😂
Hahaha... Author cuma pengen kasih gambaran gimana sih suasana hati ABG yang labil, sebentar marah, sebentar senang, sebentar ngambek, sebentar sayang.
Pagi bilang nggak boleh sekamar, eeeh malam udah ngajak make love. 😂😂😂
Lho kok minta make love? Crystal ga bener nih!
Hu-um, iya... itu interpretasi Author sendiri dimana ABG itu rasa ingin taunya tinggi, termasuk soal se -- k s coba-coba tapi nggak mikirin akibatnya.