
London Heatrow Airport, waktu setempat.
Crystal celingukan, mencari seseorang yang katanya akan menjemput dia dan membawanya ke apartment yang akan di tinggalinya.
Begitu mendarat. Kak Tristan langsung menelpon dan berpesan kalau ada seseorang yang akan menjemputnya. Someone special dan pasti Crystal senang kalau bertemu dengannya.
"Hey, Nona. Masih ingat aku nggak?"
Seseorang menepuknya dari belakang. Crystal menoleh. Matanya mengerjap melihat sosok familiar di hadapannya.
Seorang gadis muda, ehm mungkin lebih tepatnya wanita muda berwajah manis dengan rambut sebahu sedang tersenyum lebar. Tangannya terentang menyambut Crystal.
"KARINA! Ya ampun kemana aja? Pekik Crystal. Perasaannya sedikit lega, setidaknya ada orang yang dikenalnya di negara asing ini.
"Apa kabar Princess?" Suaranya terdengar ceria. "Mulai hari ini, aku yang bakal temeni kamu selama kamu belajar disini."
Crystal mendengus. Dasar Kak Tristan! Ngomong suruh dirinya belajar mandiri tapi ada Karina yang siap menemani dan mengantarnya kemana - mana. Sama saja bohong. Tidak konsisten!
"Let's go home!" Ajak Karina sambil merangkul bahu Crystal protective. Tangan satunya menarik trolley bag yang tadi dibawa Crystal. Mereka berjalan menuju mobil.
"Demi Princess Harrison, aku batal balik Indo." Karina tersenyum menggoda.
Karina berumur sekitar tiga atau empat tahun diatas Crystal, dia sudah terbiasa magang diperusahaan Harrison sambil kuliah. Dan tahun ini dia akan lulus, dan menemani Crystal selama di London.
Ah, Princess Harrison. Hati Crystal terasa ngilu saat mendengarnya. Kalau dulu, sebelum tahu siapa orang tuanya, mungkin Crystal bisa sedikit berbangga. Setidaknya dia adalah adik Tristan, Prince of Harrison.
"Already miss him huh?" Karina membukakan pintu untuk Crystal. Perlakuan Karina dan Tristan padanya hampir sama, selalu memanjakan dan melindunginya. They're a brother and a sister for Crystal.
(Mereka adalah kakak kakak bagi Crystal selama ini.)
Beberapa kali melihat bagaimana perhatian dan lembutnya Tristan pada Crystal, Karina paham benar bagaimana dekatnya mereka. Bahkan pernah suatu hari Karina berkata pada Crystal kalau ingin mempunyai Kakak seperti Tristan.
"Jadi bener Kak Tristan yang suruh kamu kesini temeni aku?" tanya Crystal lagi, penasaran.
"Nope." jawab Karina sambil menggeleng.
Crystal mengernyitkan dahinya, mengamati Karina yang dengan tenang menyetir, membelah keramaian kota London.
Dulu Karina memang dekat sekali dengannya saat Tristan sedang belajar di kota ini. Setelah Kak Tristan kembali, Karina makin lama makin jarang datang. Dan tahu-tahu mereka lost contact begitu saja. Suster Anna bilang Karina tak bisa lagi menemaninua karena dia harus belajar rajin setiap hari.
*
"Sus, kapan Kak Tristan pulang?" Rengek Crystal untuk kesekian kalinya. Tangannya mengetuk-ngetuk counter dapur hingga berirama.
Suster Anna yang sedang asyik membuatkan pudding untuk majikan kecilnya menoleh.
"Sabar ya, Nona. Kalau libur pasti pulang kok."
"Hari ini kan hari minggu kenapa nggak pulang juga?" tanya Crystal. Wajahnya cemberut dan matanya berkaca-kaca.
"Kenapa nggak telepon aja kalau kangen sama Kakaknya?" Suster Anna mengelus rambut Crystal. Dia tahu kalau Crystal kesepian di rumah sebesar ini. Teman mainnya selama ini hanya Tristan, tapi saat itu Tristan harus belajar sekaligus mengurus perusahaan Harrison di London.
"Tapi kan beda, Sus. Lebih asyik kalau Kak Tristan disini." Crystal mulai menangis.
"Sus." Tiba-tiba suara pelan mengagetkan Suster Anna.
Crystal langsung turun dari kursinya dan menghambur.
"Om Ben..., kenapa Kak Tristan nggak pulang-pulang?" Rengekan yang sama kali ini ditujukan pada Ben. Pria itu tak bisa berkata - kata, tangannya menepuk - nepuk bahu Crystal dengan sayang.
"Princess."
Ha? Ada yang memanggilnya Princess selain Kak Tristan. Crystal menoleh. Seperti anak kecil lainnya, dia senang sekali disebut Princess.
Seorang anak perempuan yang lebih tinggi darinya sedang tersenyum ramah padanya.
*Crystal mengerjapkan matanya saat anak Om Ben menyodorkan telapak tangannya untuk bersalaman.
"Namaku Karina. Panggil aku Karin atau* apapun yang kamu mau."
"Ini anak Om, Sayang. Selama Kak Tristan belajar di London, dia akan menemanimu setiap hari. Bagaimana?" tanya Om Ben lembut.
Dan Crystal pun tersenyum ceria.
"Apa Om Ben yang menyuruhmu menemaniku lagi?" Sekali lagi Crystal mencoba menebak.
"Hampir betul." Karina mengulum senyum. Wajah Crystal yang penasaran begitu menggemaskan. Karina paham kenapa Tristan begitu menyukai gadis remaja dihadapannya. Dia yang sesama wanita saja terpesona dengan keimutannya.
Crystal memajukan bibirnya sambil berpikir.
Aha!
"Jangan bilang kalau Papa yang menyuruhmu kemari." tebaknya antara yakin dan tak percaya.
"Exactly. His words are our commands." Kata Karina bangga.
Mata Crystal terbelalak, memandang wanita. muda penggemar Tuan Harrison. Ben mendidiknya untuk selalu patuh dan loyal pada Bossnya itu hingga tertanam rasa kagum dan bangga di hati Karina.
"Hey, Papamu kelihatannya tak banyak bicara jadi terkesan tidak peduli. Tapi diam-diam dia memperhatikanmu." Karina mencoba membela Tuan Harrison saat dilihatnya Crystal tampak tak percaya.
"O'ya?"
"Yeah, he is. Hanya saja dia tak pernah menunjukkannya." keluh Karina. Matanya tetap fokus ke jalanan.
Ada haru yang terselip di hati Crystal, suatu hari dia harus berterima kasih pada Papa angkatnya itu. Crystal tak menyangka ada sedikit perhatian untuknya dari Tuan Harrison.
Setelah dipikir - pikir, selama ini Papanya itu tak pernah absen mengiriminya hadiah ulang tahun meski tak pernah mengucapkan selamat padanya. Hadiah - hadiah dari Om Ben, snack - snack impor yang dititipkan ke Suster Anna. Bukankah itu juga bentuk perhatian?
Yah, mau bagaiman lagi? Bagi seorang anak seperti Crystal love is time.
(Cinta adalah waktu.)
Ya. Bagi kebanyakan anak, cinta adalah waktu. Kalau kamu cinta, berikan waktu untuk anak - anakmu. Quality time is the best after all.
(Waktu yang berkualitas adalah yang terbaik dari semuanya.)
*
Begitu tiba di apartment, Crystal memandangi sekeliling tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya beberapa tahun ke depan. Bersama Suster Anna dan Karina, tanpa Tristan.
Mendadak sebuah ruang kosong tercipta dihatinya.
"Sus!" rengek Crystal.
Dan Crystal pun langsung berlari ke pelukan wanita dan menangis tersedu - sedu.
"Aku mau Kak Tristan, Sus."
Wanita yang sudah tak muda lagi itu hanya bisa menepuk - nepuk bahu Crystal.
"Belajar yang rajin ya, Nona. Biar cepet kumpulagi sama Tuan Muda." bisik Suster Anna sambil mengelus-elus rambut Crystal
"Tapi I miss him already, Sus." kata Crystal di sela - sela tangisnya.
"Nggak apa-apa. Kan bisa telepon, Non. Sekarang sudah bisa video call. Nggak kaya jaman dulu."
"Hm-hm." Crystal mengangguk - angguk di pelukan Suster Anna mengumpulkan segenap kekuatan untuk berjuang lulus lebih cepat.
Bersambung ya....