
"KETERLALUAN KAMU, TRISTAN!" Mata Nyonya Harrison berapi-api. "Bisa-bisanya kamu menyukai orang yang tak jelas asal usulnya."
"Tak jelas asal usulnya bagaimana? Jelas-jelas dia hidup dan besar di rumah ini." bantah Tristan.
Dia jelas tersinggung. Enak saja Mamanya berkata seperti itu. Tristan sendiri yang merawat, menjaga dan mendidik Crystal hingga hari ini.
"Tapi dia adikmu, Tristan!" Kata Nyonya Harrison masih dengan nada tinggi.
Tadi bilang tidak jelas asal usul, sekarang bilang adik. Tristan makin kesal.
"Sudah bukan lagi." potong Tristan tegas dan cepat.
Ha?
Wajah Nyonya Harrison seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya. Tuan Harrison duduk sambil memijit pangkal hidungnya menyaksikan pertengkaran Ibu dan Anak dihadapannya.
Tangan Crystal bergetar saat dia mengusap dahinya, ada darah yang merembes dari kulit kepalanya.
"Apa Mama lupa kalau Mama sendiri yang menyuruh Crystal untuk keluar dari Kartu Keluarga?"
Oh'ya! Tristan benar. Dan seisi ruangan pun kembali tertegun, seperti diingatkan kembali bagaimana waktu itu Nyonya Harrison bersikeras meminta Crystal keluar dari Kartu Keluarga.
"Om Ben!" panggil Tristan.
"Iya, Tuan Muda." Ben tergopoh menghampiri, dia membungkukkan badannya.
"Kasih ke mereka, semua dokumen Crystal yang baru!" Tristan memerintah Ben untuk menunjukkan berkas yang menyatakan Crystal sudah bukan anggota keluarga Harrison lagi.
"Baik, Tuan." Ben menjawab dan sekali lagi dia membungkukkan badan untuk permisi mengambil dokumen.
"Perintah Mama yang mana yang tidak pernah aku patuhi, Ma? Dari kecil aku selalu menuruti apa pun keinginan Mama. Semua sudah aku kerjakan dengan baik, dan aku selalu berusaha menjadi yang terbaik. Bahkan perintah Mama untuk mengeluarkan Crystal dari Kartu Keluarga ALREADY DONE!" Tristan mengatur napasnya sejenak, dadanya naik turun karena emosi.
"Sekarang aku hanya minta satu hal, biarkan aku memiliki masa depanku sendiri. Aku boleh kehilangan masa kecil dan masa remajaku, tapi aku tak mau kehilangan masa depanku." Lanjut Tristan dengan suara lebih pelan, tersirat kesedihan di dalamnya.
Tuan Harrison merasa ditonjok oleh kata-kata Tristan. Sebagai orang tua, memang bisa dibilang kalau mereka tak pernah hadir dalam hidup anak mereka satu-satunya itu. Masa kecil Tristan lebih banyak dihabiskan bersama Suster Anna, private teachers, dan pelayan.
Di saat teman-teman seusianya sedang bersenang-senang, Tristan justru belajar bisnis sambil kuliah. Tak pernah sekali pun Tristan protes atau mengeluh. Dia tahu apa yang menjadi tanggung jawabnya.
"Kamu ini... " Suara Nyonya Harrison sedikit tertahan, matanya melotot. Dadanya terasa sakit karena emosi yang meluap.
"KAMU SUDAH GILA!"
"Maafkan aku, Papa, Mama. Iya, benar. Aku sudah gila karena mencintai adik angkatku sendiri."
Tristan menatap Nyonya Harrison dengan sikap sempurna. Dia tidak berniat menantang, melainkan berdiri tegap siap menahan badai dengan Crystal yang bersembunyi di balik punggungnya.
Mamanya menoleh kearah Tuan Harrison yang duduk sambil membaca berkas dari Ben.
"Lihat kelakuan anakmu! Dia tak sadar posisi Crystal di keluarga kita."
"Posisi apa? Anak angkat? Aku tinggal menyuruh Om Ben membuat Kartu Keluargaku sendiri dan mencantumkan Crystal sebagai Istriku. Dimana masalahnya?" Nada suara Tristan terdengar sarkas.
Kepala Nyonya Harrison terasa semakin berdenyut hebat, otot-otot dari leher hingga kepalanya terasa saling menjepit satu sama lain. Darah tingginya kumat. Tangannya gemetar karena marah.
Bayangan-bayangan kekacauan yang akan timbul akibat gosip Tristan bermunculan di benaknya. Mulai dari relasi bisnisnya dan hubungan baiknya dengan Hartono Group. Bagaimana menghadapi para pemegang saham kalau reputasi Tristan hancur?
Tristan selama ini sempurna sebagai icon Harrison, tak ada hal negatif yang bisa dijadikan celah untuk menjatuhkannya.
Gengsi dan reputasi membuat Nyonya Harrison menaruh harapan terlalu tinggi, sehingga dia lupa pada kenyataan bahwa anaknya juga punya hati dan perasaan.
Nyonya Harrison tidak bisa menerima kenyataan Tristan menentangnya. Dadanya terasa semakin sesak, seisi ruangan terasa berputar. Dia masih ingin berdebat dengan Tristan, tapi tak mampu.
"MAMA!" Tristan bergerak cepat, dia menahan tubuh mamanya agar tidak jatuh ke lantai. Tepat dipelukan Tristan, Mamanya collapse.
Mendadak saja rumah keluarga Harrison ramai dengan mobil-mobil berdatangan dan juga ambulance. Dokter-dokter spesialis bergantian memeriksa kondisi Nyonya Harrison. Beberapa peralatan medis sengaja di datangkan ke rumah. Sebuah kamar dalam sekejap disulap menjadi emergency room dadakan.
Suster Anna membantu salah satu Dokter yang memeriksa dan membersihkan dahi Crystal di ruang keluarga.
"Sayang, I'm so sorry... " bisik Tristan yang duduk di samping Crystal, memandanginya dengan rasa bersalah. Tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Crystal.
Sementara Suster Anna berdiri di dekat mereka dengan tatapan prihatin.
"Mungkin ini harga yang harus dibayar untuk sebuah kejujuran." Crystal berusaha menampakkan senyum tegarnya.
Setelah semua usaha yang dilakukan Tristan tadi, Crystal menyadari satu hal. Hanya seorang wanita kuat dan tangguh yang sanggup hidup berdampingan dengan seorang penerus Harrison Group.
Tristan menghembuskan napasnya, "Tapi bukan begini caranya. Aku nggak nyangka aja Mama sampai seperti itu." Matanya menatap luka di dahi Crystal penuh penyesalan.
"Kak Tristan coba cek Mama dulu. Apa dia baik-baik saja?" Crystal berusaha mengalihkan perhatian. Dia sedih melihat Tristan yang terus merasa bersalah.
Tristan menggeleng, "Ada Papa, Om Ben, suster, dokter, pelayan dan banyak orang bersamanya. Aku harus bersamamu. You only have me by your side." Dia mengangkat tangan Crystal dan mengecup punggung tangan gadis itu.
(Kamu cuma punya aku disisimu)
Crystal memejamkan mata, menahan haru yang merebak di dadanya. Kak Tristannya tak pernah berubah, dari dulu hingga sekarang. Selalu ada untuknya.
Dokter selesai membersihkan dan menutup luka Crystal.
"Tidak apa-apa. Lukanya tidak dalam. Jangan lupa ganti kasanya secara teratur. Saya beri resep dan oleskan salep supaya lukanya tidak berbekas."
Tristan mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dan, Suster Anna pun berinisiatif untuk pergi membeli resep bersama Pak Supri.
Begitu semua pergi dan mereka tinggal berdua, Tristan langsung memeluk Crystal.
"Seharusnya aku yang terluka, bukan kamu. I'm so sorry." bisiknya.
"It's okay. King and Queen should walk together through the good and bad, right?" jawab Crystal lembut. Tangannya mengelus punggung Tristan.
(Nggak apa-apa. Raja dan ratu harus berjalan bersama melewati hal yang baik mau pun buruk kan?)
Tristan mengurai pelukannya, menangkup pipi Crystal dan menariknya mendekat. Kemudian mencium bibirnya lembut. Refleks Crystal memejamkan mata saat bibir mereka bersentuhan.
Ciuman yang hanya sesaat itu mampu meluruhkan seluruh ketegangan dan kecemasan dalam diri mereka.
A deal kiss.
(Sebuah ciuman kesepakatan)
Kesepakatan yang hanya bisa dipahami oleh hati Tristan dan Crystal.
Tristan menempelkan dahinya di dahi Crystal. Sebutir air mata lolos dari matanya.
"I love you, Crystal." Tristan tersenyum. Bulu matanya yang panjang mengerjap, menahan air mata supaya tak kembali menetes.
"TRISTAN!"
Bersambung ya....
Duh, siapa lagi yang datang panggil-panggil Tristanku?
Boleh dong Author ngaku-ngaku Tristanku 😝