
Tak seorang pun menyadari ketidakhadiran Tristan di pesta itu. Acara berjalan lancar. Setelah potong kue dan tiup lilin, Crystal akhirnya bisa turun panggung dan bergabung dengan teman-temannya.
Selanjutnya panggung diisi oleh penyanyi dan grup band favorite anak muda. Para remaja itu asyik bergoyang hingga hampir tengah malam. Santy dan David mulai menyingkir setelah acara inti selesai, mereka membiarkan para anak muda bersenang-senang.
Crystal juga menyingkir mendekati David dan Santi yang sedang menikmati kudapan di dalam rumah.
"Om, liat Kak Tristan nggak?" tanya Crystal.
David menggeleng, Santy juga menggeleng.
"Lagi ada urusan kali, atau mungkin di dalam." kata David kemudian saat melihat wajah Crystal seperti kebingungan.
"Nggak ada, Om. Aku sudah cari kemana-mana, dikamarnya juga nggak ada."
"By the way, aku sama Tristan itu teman sekelas. Kamu nggak adil banget kalau panggil aku Om, sedangkan Tristan dipanggil Kakak." David menggoda Crystal yang nampak menggemaskan.
"Iisssh... Om David! Malah ngomongnya kemana-mana." Crystal mulai kesal.
"Wait... wait, aku cek dulu dia ada dimana." David mengeluarkan ponselnya.
"Atau coba tanya Suster Anna, biasanya Suster Anna suka tau duluan kalau soal Tristan." katanya lagi sambil mengutak utik ponselnya.
"CK!" Crystal berdecak kesal.
Tadi Crystal lewat kamar Suster Anna, tapi lampunya sudah mati. Sebenarnya dia mau masuk untuk bertanya soal Tristan, tapi merasa kasihan pada Suster Anna yang sudah pasti kecapekan. Akhirnya, Crystal mengurungkan niatnya.
"Panggilan tidak dijawab? Ngapain dia ya?" David menggumam sambil mengerutkan kening.
Crystal mulai merasa cemas, ada apa dengan Tristan? Kenapa dia tak ada dimana-mana? Padahal dia nampak paling antusias dengan acara ini.
"Ada apa?" Sky menghampiri.
"Kak Tristan nggak ada." lirih Crystal, ekspresinya seperti anak ayam mencari induknya.
"Ha? Coba kamu telpon dia." kata Sky.
Benar juga. Crystal bergegas meninggalkan pesta dan naik ke lantai atas untuk mengambil ponselnya. Dia mencoba menghubungi Tristan
Oh, ternyata Tristan menjawab panggilannya.
"Kak Tristan?"
Tak ada jawaban.
"Hallooo, Kak Tristan?"
"Ya, hallo... " Akhirnya suara Tristan terdengar dari seberang sana.
"Kak Tristan dimana?" Crystal langsung berseru lega.
"Sorry, aku lagi sibuk. Jadi nggak bisa ngobrol sekarang." Suara Tristan terdengar datar.
"Ha?"
Hati Crystal mencelos. Tak peduli bagaimana pun sibuknya Tristan selama ini, dia selalu meluangkan waktu untuk Crystal.
"Tapi... "
"Aku akan menghubungimu begitu aku bisa." potong Tristan sebelum Crystal sempat bernegosiasi.
"Kak... "
"Good Night."
Crystal tak terima telepon dimatikan sepihak. Dia mendial ulang nomer Tristan. Sayangya, ponsel Tristan sudah tidak aktif.
Dengan tak bersemangat, Crystal melepas dress dan semua aksesories yang melekat ditubuhnya. Malam itu dia hanya berguling-guling dikasurnya. Balik sana, balik sini. Tak ada satupun posisi yang enak untuknya.
Crystal terlelap ketika menjelang subuh.
***
"Nona! Nona! Bangun, Nona!" Suster Anna mengguncang tubuh Crystal pelan.
"Ha? Jam berapa Sus?" Crystal mengucek matanya.
"Sudah hampir jam sepuluh. Tumben kesiangan, Non."
"Aku nggak bisa tidur Suuuuuss.... " erang Crystal.
"Yaaah... maklumlah, orang lagi jatuh cinta pasti susah tidur." sindir Suster Anna.
Crystal langsung duduk "Siapa yang jatuh cinta? Sembarangan aja kamu, Sus." Dia mencebikkan bibir.
"Bukannya semalam suap-suapan sama cowok ganteng yang kaya bule itu Non?" Suster Anna berusaha mengorek isi hati Crystal.
"Aaah... Dia cuma teman, Sus."
"Tapi kayanya kemarin mesra banget gitu loh Non. Kaya orang pacaran, Suster sampe iri." goda Suster Anna lagi.
"Iisssh... Suster Anna nih nyebelin." Crystal cemberut.
"Bisa-bisa aku dimarah sama Kak Tristan masih SMA udah pacaran. Kemarin itu aku cuma kasihan sama Sky. Bisa-bisa dia malu kalau ditolak didepan umum, Sus." lanjut Crystal
"Ngomong-ngomong Kak Tristan kemana Sus?" Gara-gara menyebut nama Tristan, Crystal jadi ingat lagi soal Kakaknya.
"Katanya ada kerjaan mendadak diluar kota, Non." jawab Suster Anna kalem.
"Kak Tristan kok nggak ngomong kalau mau pergi?" Crystal bersedekap dan memasang wajah kesal.
OH! Sudut bibir Crystal turun ke bawah, kalimat Suster Anna membuatnya menyadari sesuatu. Apa benar yang dikatakan Suster Anna? Apakah memang dirinya yang keterlaluan? Mendadak Crystal disergap rasa bersalah, apalagi mengingat bagaimana manisnya perlakuan Tristan padanya. Setidaknya, sepotong kue tanda terima kasih akan menyenangkan hati Tristan.
"Sus, gimana kalau Kak Tristan marah?" rengek Crystal.
"Minta maaf kalau tuan pulang nanti. Ya?" Suster Anna mengelus kepala remaja labil itu.
Kak Tristan, dimana?
Let's go home.
Kapan pulang?
Crystal tiduran di sofa dengan posisi kaki dinaikkan disandaran sofa membentuk huruf L, dia sedang mengirim spam chat ke Tristan. Tak peduli ponsel yang dikirimi pesan sedang aktif atau tidak. Crystal juga tak mau tahu pesannya dibaca atau tidak.
Kak
GO.
HOME
MISS YOU
PULANG
P
U
L
A
N
G
Pulang! Pulang! Pulang!
Ya ampun! Rasanya tak pernah Crystal merasa gelisah seperti ini hanya karena Tristan keluar kota.
"KAK TRISTAN JAHAAAAT!!!!" teriak Crystal meluapkan rasa sesak di dadanya. Ponselnya dilempar ke sofa disebelahnya. Lalu melipat tangan masih posisi kepala masih terbalik.
"Awas! Kalau datang aku nggak mau liat Kak Tristan lagi." Crystal mengomel pelan sambil memejamkan mata.
Cup!
Eh... , sepertinya sebuah ciuman mendarat di kening Crystal. Dan harum parfum ini, Crystal sudah hafal luar kepala bahkan tanpa perlu melihat siapa yang memakainya.
Crystal membuka mata.
Benar! Ada sebuah wajah yang ditunggu-tunggunya dari semalam, sedang menunduk menatapnya dengan jarak tak ada sepuluh centi.
"Kamu lagi ngapain?" Tristan menunduk sambil menahan senyum melihat kelakuan Crystal yang absurd.
Yes! Seketika pesan Suster Anna untuk meminta maaf pada Tristan, menguap entah kemana. Crystal lupa pada kegelisahannya semalam.
Bergegas Crystal membetulkan posisinya dan langsung meloncat ke pelukan Tristan. Untunglah Tristan dengan tangkas menangkapnya.
"Jadi Kak Tristan nggak marah sama aku?" Tangannya bergelanyut di leher Tristan, kakinya melingkar dipinggang, seperti koala.
"Marah kenapa?" Tristan mengerutkan keningnya.
"Eemm... aku pikir Kak Tristan marah gara-gara... " Crystal melorot dari gendongan Tristan.
Tristan mengangkat alisnya.
"Gara-gara kuenya aku kasih ke Sky." Matanya menatap Tristan dengan pandangan tanpa dosa.
Good! Tepat sasaran.
Tristan memalingkan wajahnya, malu. Mendengar Crystal mengatakan secara gamblang alasan sebenarnya dia pergi sungguh membuatnya kehilangan muka.
Dasar Kekanak-kanakan! Makinya pada diri sendiri.
Bersambung ya....
Dear Readers,
Buat yang merasa terhibur dengan ceritaku, tolong bagi bintang buat aku yang banyak πππππ
Yang aku lingkar ya, Man Teman... βββ
Like, comment dan penilaian kalian benar-benar menentukan hidup kami para Author lho.
Buat yang nggak suka, nggak kasih bintang juga nggak apa. Please... jangan kasih bintang 4, 3 apalagi 2 dan 1...
Aku berterima kasih banget buat yang nggak kasih bintang 4 kebawah. πββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈ
Love you, All.
Doakan saya untuk terus meningkatkan skill menulis saya.
Semoga semua sehat dan bahagiaπ