I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 9 -- Kabur!



"Nona, ngapain disini?" Suara Suster Anna terdengar heran.


Tristan menyipitkan matanya, mencoba menebak apa yang akan dilakukan Crystal.


Crystal berdiri dibalik counter dapur, rambut terikat tinggi, memakai celemek dan tangan satu memegang pisau sedangkan satunya memegang ponsel. Wajahnya serius memperhatikan layar.


Ya ampun! Tristan mengelus dada melihat kelakuan gadis remaja itu.


"Nona, please deh. Jangan macam-macam, Nona." Raut wajah dan suara Suster Anna jelas terlihat kuatir. Dia memandang putus asa kearah Tristan, mengharap bantuan.


Crystal tak menggubris kekuatiran Suster Anna. Diletakkannya ponsel dan pisau, kemudian sibuk mengeluarkan sayuran, udang dan telor dari kulkas. Hari ini, Crystal yang akan memasak untuk makan malam.


Tristan mendekat dan Suster Anne menyingkir sambil berdoa semoga Nona-nya tidak menghancurkan dapur mereka. Seumur-umur Crystal tak pernah masuk dapur. Memang dia pernah diajari menanak nasi di rice cooker dan menggoreng telor. Namun selebihnya, urusan isi perut adalah tanggung jawab chef.


"Ngapain?" tanya Tristan. Dia tak bosan-bosan memandang wajah cantik adiknya.


Crystal tak menjawab, bibirnya maju dan keningnya berkerut. Tak tahu bagaimana cara mengupas bawang bombay tanpa membuat mata perih.


"Kenapa mendadak masak?" tanya Tristan lagi.


Ah, penampilan Crystal dengan celemek pink nampak begitu imut dimata Tristan.


"Memangnya aku ga boleh masak buat Kakakku?" Akhirnya Crystal menjawab sambil tersenyum.


Wow! Senyumnya menggemaskan, Tristan ingin menciumnya sekali lagi.


"Hush! Dasar me---sum!" maki Tristan pada dirinya sendiri.


Hmm... tapi, apa kata Crystal tadi? Mau masak untuk dirinya?


Ya ampun! Hati Tristan seperti melayang, pikirannya terbang membayangkan Crystal sedang masak dan dirinya memeluk Crystal dari belakang.


No! No! Tristan buru-buru mengambil gelas dan menuang air dingin dari pitcher diatas counter bar. Diteguknya air dingin untuk menyadarkan otaknya dari pikiran-pikiran aneh.


"Auw!"


Pekikan kecil Crystal membuatnya menoleh cepat. Crystal meringis sambil mengangkat jarinya yang berdarah. Secepat kilat, Tristan lari kearah Crystal.


Dia menarik tangan Crystal yang terluka, jarinya berdarah. Crystal menoleh kearah Tristan dengan mata berkaca-kaca menahan perih. Perih karena terkena pisau, dan juga bawang bombay.


DEG!


Mendadak jantung Crystal seperti berhenti. Tristan menghi-sap darah dari jarinya.


Astaga! Padahal ini bukan pertama kalinya Tristan seperti ini, tapi jantung Crystal serasa jumpalitan.


"Sus, tolong kotak obat!" teriak Tristan.


"Ya ampun Nonaaa... , bikin jantung mau copot saja! Memangnya Nona mau makan apa sih? Sampe rela korban jari begini. Untung saja Nyonya sudah ga ada dirumah." omel Suster Anna saat mengobati jari Crystal.


"Sudah, nggak apa-apa. Asal nggak kena air, pasti cepat sembuh." hibur Tristan sambil mengusap kepala Crystal.


Crystal mengangguk, kemudian dia mendongak kearah Tristan yang berdiri menjulang dihadapannya. Tampan, atletis, cool!


"Benar-benar boyfriend materials. No! No! Kayanya lebih cocok hubby materials deh." Crystal bermonolog sambil cekikikan dalam hati.


Tuk!


"Lain kali nggak usah masak! Bikin orang kuatir saja!" Tristan menyentil pelan dahi Crystal dengan tampang kesal.


Melihat ekspresi Tristan, Crystal membatalkan niatnya semula untuk merayu Kakaknya supaya mengijinkannya ke Bali.


Lagipula setelah berpikir-pikir lagi, Crystal memutuskan untuk tidak meminta ijin pada Tristan. Namanya saja bolos sekolah, kenapa harus meminta ijin?


Pagi-pagi Crystal sudah siap dengan seragam sekolah dan backpack yang berisi baju ganti serta beberapa keperluan lainnya. Yang perlu dilakukannya adalah dia harus turun sebelum Tristan membangunkannya seperti biasa.


Setelah itu, tinggal minta Pak Sopir mengantar ke sekolah saat Tristan masih sarapan.


Crystal bergegas turun dan sarapan dengan cepat tanpa menunggu Tristan.


"Sus, aku diantar Pak Sopir ya. Mau bikin tugas yang belum selesai." pamitnya tanpa menunggu jawaban.


"Ayo, Pak. Nanti keburu telat." Pak Sopir sedikit heran, biasanya Tristan yang selalu mengantar di pagi hari kecuali dia sedang tidak ada ditempat.


"Iya, Non."


Mobil pun melaju.


"Pak, berhenti sebentar disana!" Crystal menunjuk sebuah coffee shop tempat dia janjian dengan teman-temannya.


"Ha? Kok mampir Non?"


Crystal hanya melempar senyum manis.


"Antar aja kesana, Pak. Saya mau beli minum."


Begitu mobil berhenti, Crystal segera mengambil backpack dan mencangklongnya.


Melihat gelagat Crystal yang kurang baik, Pak Sopir segera keluar dan mengekor Crystal.


"Pak Supri nggak usah antar ke sekolah. Aku nanti berangkat bareng Sky."


"Ha? Beneran? Kalau Tuan tanya bagaimana Non?"


"Nanya apa Pak? Kak Tristan nggak perlu tahu apa-apa, Pak." Crystal memasang senyum termanisnya.


Dan senyumnya berhasil meluluhkan hati Pak Supri, yang awalnya ragu-ragu.


Hmmm... , Crystal lupa mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan yang ini. Dia menggigit-gigit bibir bawahnya karena bingung harus beralasan apa.


"Gini, Pak... sebenarnya aku mau nginap dirumah teman, Pak. Jadi nanti pulangnya nggak usah jemput."


"HAH??!!"


Pak Sopir tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya. Dia tahu kalau sebentar lagi dirinya akan mengalami masalah.


"Nona... "


"Bapak nggak usah kasih tahu Kak Tristan kalau nggak ditanya. Ya Pak?" Crystal membujuk Pak Supri yang sudah mulai panik.


"Please, Pak... " rengek Crystal sambil menangkupkan kedua tangannya dan memasang puppy eyes.


"Aduh, Nona... bisa celaka Bapak... " Pak Supri benar-benar bingung.


"Aku janji nggak nakal, Pak. Cuma nginep sama temen-temen."


"CRYSTAL!!!"


Crystal dan Pak Supri menoleh pada gerombolan teman-teman Crystal yang semuanya adalah anak-anak orang kaya.


"Come on! Let's go!"


"Nona, Nona, sebentar. Tunggu Nona!" Pak Supri mengejar Crystal yang berjalan cepat menuju mobil Wenas.


Merasa tak enak pada Pak Supri, akhirnya Crystal menghentikan langkahnya.


"Maaf, Nona. Sebenarnya Nona mau kemana?" tanya Pak Supri.


"Aku mau ke Bali, Pak."


"Hah?" Pak Supri merasa seperti terkena serangan jantung.


"Iya, Pak. Nanti aku bawain Pak Supri sama Suster Anna oleh-oleh. Bye, Pak Supri!" Crystal langsung berlari menghampiri teman-temannya sambil melambai.


"Waaaduuh!!! Bisa dipecat saya, Nona!" Pak Supri setengah berteriak.


Tapi Crystal dan teman-temannya sudah menghilang.


***


Sementara dikantor, Tristan baru saja menyelesaikan briefing paginya saat Santy, sekretaris kantor, memberitahu kalau sopirnya Crystal sedang menunggu.


"Suruh masuk!"


Tristan bisa merasakan ada yang tak beres dengan datangnya Pak Supri.


"Ada apa?" Tristan langsung ke inti permasalahan. Matanya menatap tajam kepada pria separoh baya itu.


Pak Supri menundukkan kepala dalam-dalam, kalau saja dia tidak ingat anak dan istri yang butuh makan, sudah pasti dia kabur.


"Begini, Tuan. Maaf Tuan, tadi saya tidak mengantar Nona Crystal ke sekolah." Pak Supri berkata sambil gemetaran.


"Jadi Bapak antar Crystal kemana?" tanya Tristan.


"Nona bilang kalau dia mau ke Bali bersama teman-temannya." kali ini Pak Supri berkata sambil setengah menangis.


"APA!?"


Bersambung ya...


🌹🌹🌹🌹


Dear Readers,


Sebelum nulis I Love You, Sis! , rencana awalnya aku mau nulis Cinta Sebatas Waktu duluan. Tapi ternyata karya ini butuh proses panjang karena ikut event.


Finally, paling lama besok bakal update ya...


Untuk update awal mungkin cuma Bab 1-3 ya, Friends. Bab 4 - 20 nya lagi nunggu feedback, dll.


Mohon maaf sebelumnya kalau sedikit tersendat-sendat karena memang peraturan karya untuk event sedikit berbeda. 🙏


Judul : Cinta Sebatas Waktu


Author : EYN


Romance modern


#POVPelakor Event Konflik Rumah Tangga


🌹SINOPSIS


Sama-sama menyukai...


Sama-sama saling mencintai...


Sedihnya, Dimitri dan Cheryl juga sama-sama menyadari kalau tak ada masa depan untuk hubungan mereka.


Hanya sisa setahun kebersamaan mereka. Atau bisa saja kurang dari itu. Hanya menunggu waktu hingga Keysia, tunangan Dimitri datang ke kota ini.


Dan ketika saat itu tiba, mereka akan berpisah dan menjalani hidup masing-masing.