
Setelah upacara penutupan, Crystal bergabung bersama teman-temannya untuk foto kelas, selfie dan berfoto bersama para guru kesayangan. Bersama orang tua murid, mereka menikmati beberapa snack dan makanan yang sudah disediakan.
Crystal pikir, setelah upacara kelulusannya Tristan akan mengajaknya pergi ke suatu tempat atau merayakannya. Tapi dugaannya meleset. Pulang dari acara graduation, Tristan hanya menurunkan Crystal di rumah kemudian dia langsung mengurus beberapa pekerjaan.
Crystal masuk ke dalam rumah melihat Suster Anna dan beberapa pembantu terlihat lebih sibuk dari biasanya. Suasana pun terasa sedikit berbeda.
"Ada apa Sus? Tumben siang-siang pada sibuk."
"Waaah... Selamat ya, Nona. Sudah lulus SMA. Sus rasanya bangga dan legaaaa... " Suster Anna tak menjawab pertanyaan Crystal, dia langsung menyambut Crystal diikuti beberapa pelayan yang lain.
"Crystal."
Suara dingin yang familiar, tanpa menoleh Crystal langsung tahu siapa yang datang. Pantas saja para pelayan nampak begitu tegang.
"Wah! Mama pulang?" Crystal sedikit membungkuk untuk memberi hormat dan Nyonya Harrison langsung memberi kode untuk mengikutinya.
Para pelayan menyingkir, kecuali Suster Anna yang memang selalu mendampingi Crystal setiap kali Mamanya datang. Biasanya dia melapor yang baik-baik supaya Nyonya Harrison bisa memberi sedikit perhatian pada Crystal.
"Kamu sudah lulus?" tanya Nyonya Harrison begitu mereka sampai di ruang keluarga.
"Ehm... iya, Ma." Crystal mengangguk dengan bersemangat, matanya berbinar. Mungkin saja Mamanya pulang hari ini untuk merayakan kelulusannya.
"Nona Crystal merupakan lulusan terbaik, Nyonya. Katanya dapat bea siswa keluar negeri." Seperti biasa Suster Anna mencoba mengambil hati Nyonya besarnya.
"Good! Dan kudengar dia juga sudah delapan belas tahun." kata Nyonya Harrison lagi.
"Iya, Ma." kata Crystal masih dengan senyum lebar di wajahnya.
Nyonya Harrison melangkah menuju sofa besar yang ada ditengah ruangan, dia duduk dan menyilangkan kaki kirinya diatas kaki kanannya.
"Crystal, kamu sudah delapan belas tahun. Itu artinya kamu sudah dewasa dan bisa hidup mandiri."
"Apa maksud Mama?" Senyumnya memudar.
Suster Anna mendekat kepada Crystal. Tangannya mere- mas satu sama lain, dia cemas. Perasaan tak enak mulai menyusup di hatinya, jangan sampai yang ditakutkannya terjadi hari ini.
Nyonya Harrison menyesap teh yang sudah disediakan di meja untuknya.
"Kamu sudah delapan belas tahun. Secara hukum, sudah bisa mandiri, sudah punya KTP dan sudah bisa punya KK sendiri. Jadi, kupikir tidak ada salahnya kamu keluar dari kartu keluarga Harrison."
Ada yang terhempas dari hati Crystal saat mendengarnya. Dia termangu. Apa ini alasan sebenarnya kenapa Tristan memberinya apartment dan mobil? Apakah setelah ini, dirinya akan tinggal sendiri di apartment itu? Apa memang anak usia delapan belas tahun harus keluar dari kartu keluarga?
Ah, Crystal benar-benar tak mengerti soal itu. Perasaan teman-temannya tak pernah membicarakan soal Kartu Keluarga, mereka hanya ribut soal bagaimana mendapatkan SIM.
"Maaf, Nyonya. Apa Tuan Tristan tahu mengenai hal ini?" tanya Suster Anna pelan.
"Dia sudah menemui Papanya di hari ulang tahun Crystal. Kami bahkan sudah membicarakan soal Kartu Keluarga." kata Nyonya Harrison dengan tenang.
Ha?
Crystal tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Jadi, Kak Tristannya menghilang malam itu dan terbang ke tempat Papa? Apa Kak Tristan berniat membuangnya? Sebenarnya ada banyak pertanyaan bermunculan di benak Crystal, tapi tak ada satu kata pun yang bisa keluar dari mulutnya.
"Kenapa?" lirih Crystal akhirnya.
Hanya satu kata itu yang sanggup diucapkan oleh Crystal. Dadanya terasa bergemuruh. Terbiasa dimanja oleh Tristan, membuat Crystal takut hidup mandiri.
"Nikah?" Crystal terperangah.
Ya Tuhan!
Konsep Tristan akan menikah tak pernah ada dibenaknya sama sekali. Sejak dia mulai bisa mengingat, selalu ada Tristan bersamanya. Seumur hidupnya dihabiskan bersama Tristan, dan Suster Anna tentunya.
Mamanya meletakkan cangkir teh ke atas meja dengan anggun lalu mengucapkan kata-kata yang paling tidak ingin didengar oleh Crystal.
"Dan kalau mereka nikah, kamu tak bisa lagi tinggal bersama Tristan." ucap Nyonya Harrison tegas.
Crystal menunduk, sedih. Suster Anna menggenggam tangan Crystal yang dingin, mencoba menyalurkan kehangatan bagi gadis remaja yang sedang bingung ini.
Lidah Crystal terasa kelu, pelupuk matanya mulai menghangat. Rasanya sesuatu yang sedang tumbuh dihatinya, dicabut dengan paksa. So sad...
"Tristan itu memang anakku yang baik." lanjut Nyonya Harrison.
"Maaf, Nyonya. Apa bisa kita bicara ini saat ada Tuan Tristan?" Suster Anna memohon.
Hati Suster Anna begitu cemas, ingin rasanya keluar ruangan sebentar dan menghubungi Tristan. Tapi lebih tak mungkin lagi meninggalkan Crystal seorang diri, menghadapi Nyonya Harrison.
"Terima kasih, Sus. Kamu sudah membantu merawat Tristan selama ini. Dan sekarang sudah waktunya kita memikirkan kebahagiaan Tristan." jawab Nyonya Harrison.
"Selama ini, dia terlalu berdedikasi pada anak yatim piatu yang tak jelas asal usulnya ini. Kalau bukan karena menuruti permintaan Tristan dan Papanya, aku tak sudi menampungnya disini hingga delapan belas tahun lamanya." Lugas dan tajam, hingga siapa pun yang mendengar tahu apa keinginan Nyonya Harrison sesungguhnya.
Suster Anna memperhatikan baik-baik kata demi kata yang diucapkan oleh Nyonya Harrison. Dia menyadari kalau suatu hari akan ada waktunya Crystal mengetahui kenyataan ini. Tapi, bukan begini caranya.
Suster Anna merasa pilu, melihat anak yang dirawatnya dari kecil seperti anak kandung sendiri, terpaku dan shock. Suster Anna segera memeluk tubuh kaku gadis itu.
Crystal anak yang cerdas. Kalimat-kalimat tadi tertancap dengan baik di hati dan pikirannya. Dia hanyalah anak yatim piatu! Dan yang menyakitkan adalah Mamanya tidak pernah menginginkannya ada di rumah ini.
"Aku? ... Anak yatim piatu?" Suara Crystal melemah, terdengar seperti keluhan sekaligus pertanyaan. Lehernya sakit karena menahan tangis, berharap semoga saja otaknya yang salah memahami kata-kata Mamanya.
"Belasan tahun yang lalu, anakku memungutmu dari sebuah panti. Maka, berterima kasihlah dan biarkan dia bahagia."
Oh! Ada yang terhempas dari hati Crystal.
"Nyonya... " Suster Anna menangis, dia benar-benar tak tega melihat wajah pucat Crystal. Seharusnya gadis itu bisa diberitahu dengan cara dan suasana yang lebih baik, bukan begini caranya.
"Maafkan aku, aku hanya mau anakku bahagia." Nyonya Harrison menutup pembicaraan.
Air mata meleleh di pipi Crystal.
"Orang pertama yang mengusap wajahku saat menangis adalah Kakakku. Tak peduli keras kepalaku begitu menganggu, dan bandelku membuatnya sakit kepala. Dia selalu tersenyum menghadapi tingkahku yang menjengkelkan."
"Kalau ada orang yang berbahagia atas prestasiku, hanya dia. Iya, dia Kakakku. Dia yang paling bersemangat saat aku berhasil melakukan sesuatu. Dialah yang tertawa paling bahagia di hari-hari terbaikku."
"Kak Tristan lah, orang pertama yang menangis saat aku sakit dan terpuruk. Bersamanya aku merasa dicintai, dan darinya aku belajar mencintai."
Bersambung ya....
Thank you buat like dan commentnya.
Lagi dong, like dan bintang limanya untuk Tristan. 😜