
"Lee Suho siapa? Siapa nama Bapaknya?"
Ya ampun! Ternyata masih berlanjut.
"Suruh aja si David cari info, dia kan pintar kalau disuruh kepoin orang." Crystal menjulurkan lidahnya dan berlari keluar.
"CRYSTAL!!!" Tristan mengejar.
BLAM!
Pintu tertutup tepat didepan hidung Tristan.
Tristan geram.
Dibukanya pintu. Lalu, Tristan mengedarkan pandangan mencari Crystal.
Tak ada. Kemana anak itu?
Merasa dipermainkan, Tristan menuju ke dapur mencari Suster Anna. Biasanya jam segini, Suster Anna menyiapkan jus untuk Crystal. Suster Anna pasti tau dimana Crystal sekarang.
Eits! Langkah Tristan berhenti saat melewati living room. Ternyata yang dicari sudah asyik nonton salah satu drakor favoritnya. Duduk bersila diatas sofa sambil makan crackers.
Tristan berjalan mengendap-endap, pelan-pelan melangkah dari samping sofa.
"GOT YOU!"
"TOLOOOOONG!" pekik Crystal spontan sambil menghindar.
Mereka jatuh bergulingan di karpet tebal bertepatan dengan Suster Anna yang tergopoh datang.
"Ada tamu, Tuan." Suster Anna tergopoh sambil menepuk-nepuk bahu Tuannya.
Suster Anna mengelus dada melihat tingkah Tristan dan Crystal yang tak berubah dari kecil hingga dewasa.
Seketika perang gulat berhenti, Tristan dan Crystal serempak duduk dan menoleh. Seorang perempuan muda, modis dan cantik sedang berdiri dengan wajah tercengang seakan melihat keajaiban dunia.
CEO yang dingin dan ditakuti karyawannya itu sedang bergulingan di karpet. Memakai baju rumah dan sedikit berantakan. Ah, tapi tentunya tetap tampan.
"Bianca?" Tristan menggumam, berdiri dan merapikan pakaiannya. Tak lupa tangannya menarik Crystal berdiri.
"Ehem, aku kesini disuruh Mama untuk mengajakmu brunch."
"Oh!" Tristan hanya ber-oh, lalu berdehem untuk membersihkan tenggorokannya yang mendadak tercekat. Dia tak suka Bianca, tapi Tristan juga tahu ada Ibu Suri dibalik Bianca.
"'Crystal.... Apa kabar?"
Ugh, Crystal tak suka saat wanita itu tiba-tiba memeluknya erat. Padahal saat makan malam waktu itu, dia biasa-biasa saja. Kenapa sekarang jadi sok beramah tamah?
"Baik, Tante." kata Crystal sambil melepaskan pelukan itu.
Hampir saja Bianca mendengus kesal karena dipanggil Tante, untung saja dia ingat cerita Santi saat tadi mampir ke kantor.
Sebenarnya Bianca pernah mendengar desas desus kalau anak perempuan Harrison group adalah anak angkat, yang jarang muncul di depan publik. Namun Bianca tak pernah menyangka kalau hari ini dia bisa mendengar langsung dari Santi yang keceplosan.
"Tuan Tristan work from home, Nona. Dia menemani adiknya yang pulang dari Bali." kata Santi.
Bianca mengangkat alisnya tak percaya. CEO seperti Tristan, orang paling sibuk di perusahaan tidak bekerja hanya untuk menemani adiknya? Sungguh tak bisa dipercaya! Dirinya saja harus bersusah payah menemui. Kalau saja tak mendapat akses dari Nyonya Harrison, tak akan mungkin dia bisa disini saat ini.
"Apa adiknya berambut hitam dan bermata bulat? Masih remaja?" Bianca mengingat-ingat makan malam mereka.
Santi mengangguk sambil tersenyum.
"Beruntung sekali Nona Crystal, meski anak angkat tapi disayang banget sama Tuan Tristan." kata Santi pelan dengan nada iri.
"Hei... Apa maksudmu dengan anak angkat?"
Ups! Santi menutup mulutnya dan langsung menyibukkan diri dengan dokumen dan laptop di mejanya.
"Emmm... , maksud saya kalau Nona mau mendekati Tuan Tristan sebaiknya Nona mengambil hati Nona Crystal. Ehm... ibaratnya Nona Crystal itu nyawanya Tuan Tristan."
Santi mengumpati dirinya yang keceplosan. Nyonya Harrison sudah berpesan untuk mempermudah akses Bianca menemui Tristan. Tapi, bukan berarti dia bisa lancang mengatakan hal-hal yang bukan urusanya.
"Brunch dululah, baru ke kantor. Gimana?" Bianca tak putus asa.
"Crystal boleh ikut kok." Bianca tersenyum manis pada Crystal.
"Ok, setengah jam." Tristan mencatat dalam hati untuk komplain pada Mamanya, supaya lain kali tidak mencampuri urusan pribadinya.
***
Akhirnya, mereka brunch di sebuah ruang VVIP di restaurant mewah.
"Pesan apa saja yang kamu mau! Kamu suka kan?" kata Tristan yang duduk disebelah Crystal.
"Suka sih, tapi aku pengennya sushi." bisik Crystal.
Tristan mengulum senyum, kemudian balas berbisik, "Makan ini dulu. Nanti kita panggil chef sushi buat masak dirumah. Atau kalau mau, kamu boleh ikut aku ke Jepang bulan depan."
Crystal mengangguk sambil tersenyum lebar penuh kemenangan.
Bianca membelalak tak percaya, Tristan tersenyum dan nampak begitu lembut pada adikknya. Sungguh beruntung dia bisa melihat pemandangan langka ini termasuk senyum sejuta dollar Tristan yang jarang nampak. Sayangnya, senyum itu bukan untuk dirinya. Benar kata Santi, beruntung sekali menjadi Crystal.
"Tristan, bagaimana kalau kita pesan menu couple?" tanya Bianca, bertepatan dengan ponsel Tristan yang berdering.
"Sorry, aku harus menjawab ini dulu." Tristan berdiri, matanya memberi kode kearah ponsel yang ada di genggamannya.
"Sebentar ya, Sayang. Order dulu aja, aku makan apa pun yang kamu pesan." Tristan berpamitan sambil mengacak lembut rambut Crystal, membuat Bianca merasa seperti obat nyamuk.
Seketika, suasana didalam ruangan berubah. Rasanya seperti di kutub utara, dingin.
"Senangnya punya Kakak yang sangat menyayangimu." Nampaknya tak ada yang salah dengan kalimat Bianca, tapi entah kenapa terdengar tak menyenangkan di telinga Crystal.
Crystal tak bereaksi, dia menyedot minumannya yang baru datang.
"Kudengar dari Mama kalau Tristan terlalu sibuk hingga tak punya waktu untuk berkencan. Dan... kamu tau? Mama menjodohkanku dengannya." lanjut Bianca lagi.
Oh! Kenapa Crystal rasanya tak suka mendengar kata perjodohan, apalagi objek perjodohan itu adalah Tristan.
"Nggak tau, Tante." Crystal menjawab asal.
Cih! Bianca berdecih dalam hati untuk dua hal. Yang pertama karena terus dipanggil Tante, dan yang kedua untuk jawaban Crystal yang terkesan tidak bisa diajak bekerja sama.
"O'ya, panggil aku, Kakak. Lagipula sebentar lagi aku bakal jadi Kakakmu." kata Bianca dengan percaya diri.
"Tapi Kak Tristan nggak pernah ngomong ke aku." Nada suara Crystal terdengar mengambang.
"Maksudmu?"
"Kak Tristan belum pernah ngomong kalau mau nikah. Itu artinya belum ada rencana kan Tante?" Kali ini Crystal benar-benar menyebalkan di mata Bianca.
"Bukan gitu. Kata Mamamu sih, itu semua karena Kakakmu terlalu sibuk ngurus kamu."
Crystal mendengus dalam hati. Mamanya dan Bianca sama saja, mereka menyalahkan dirinya karena status Tristan yang belum menikah.
Untunglah, terdengar langkah-langkah cepat disertai bunyi pintu digeser. Tristan kembali.
"Setelah ini aku mau ketemu sama Tuan Dirgantara." Entah kata-katanya ditujukan kepada siapa, yang jelas Tristan ingin segera menyudahi acara makan ini.
"Tapi aku mau pulang." rengek Crystal sambil memasang puppy eyes andalannya.
"OK! Yuk pulang."
Apa-apaan ini?!?
Bersambung ya....
NOTE
Brunch adalah istilah yang digunakan saat anda makan diantara jam makan pagi dan siang. Biasanya konsep ini dilakukan oleh mereka yang tak sempat makan di pagi hari dan baru bisa makan pada jam 10 atau 11 siang.