I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 22 -- Aku Suka Crystal



Tristan menyelinap keluar saat Crystal menyuapkan potongan kuenya pada Sky. Sorak sorai penonton terasa memuakkan. Lebih memuakkan lagi bisik-bisik para remaja penggosip yang bersahutan disekitar Tristan.


"Udah kuduga Sky naksir Crystal."


"Hu-um mereka tuh kemana-mana berdua lho."


"Eh... aku dengar mereka pernah bolos berdua ke Bali loh."


"O'ya?"


"By the way, si Sky anak orang kaya, ganteng lagi. Pasti diterima tuh."


"Haha... kalau Sky mah aku juga nggak nolak."


***


Sepanjang kakinya melangkah, Tristan berusaha memahami semua yang terjadi. Tapi tetap saja hatinya menolak. Sebanyak apapun Tristan berusaha memberi pengertian pada dirinya sendiri, Tristan tetap merasa kecewa.


Tristan menghela napas sedalam mungkin, melepaskan sesak di dadanya. Malam ini adalah pesta ulang tahun adik kesayangannya, tentu saja dia harus ikut bahagia.


Tanpa sadar, Tristan sudah sampai di paviliun belakang tempat para pelayan biasa beristirahat. Suasana disana sedang sepi saat ini, mungkin karena penghuninya sedang ikut merayakan ulang tahun Nona mereka.


"Tuan?" Suara yang sangat familiar sedikit mengejutkan Tristan.


Tristan menoleh. Tampak Suster Anna berdiri tak jauh darinya dengan ekspresi sedikit heran.


"Kenapa Tuan disini?" Tanya Suster Anna.


Tristan tak menjawab. Dia menghembuskan napas berat dan tersenyum.


"Tuan?" Suster Anna mendekat.


"Aku cuma cari udara segar, Sus. Didalam terasa pengap." Jawab Tristan akhirnya.


Suster Anna menautkan keningnya. Alasan Tristan kali ini terdengar sedikit janggal, bukankah Tristan yang paling bersemangat untuk merayakan ulang tahun Nonanya?


"Kenapa Sus kesini? Pestanya belum selesai, gimana kalau Crystal butuh Suster?" Tristan bertanya balik untuk mengalihkan pembicaraan.


"Hehe... Sus ada perlu sebentar di kamar." jawab Suster Anna.


"O'ya, sebaiknya Tuan kembali ke dalam. Mungkin sebentar lagi Tuan dipanggil untuk menyerahkan potongan kue menggantikan Tuan dan Nyonya Besar." lanjut Suster Anna.


Tristan kembali mengulas senyum, kali ini nampak ironi.


"Acara potong kuenya sudah selesai, Sus." Tristan berkata pelan, lalu duduk di bangku taman yang ada disana.


"Apa Tuan baik-baik saja?" Suster Anna ikut duduk disebelah Tristan.


Tristan tak menjawab. Dia hanya mengangguk dan matanya memandang kejauhan.


Suster Anna mengamati ekspresi Tristan. Seketika dia menyadari Tuan Mudanya sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya ada yang membuat dia kecewa atau sedih atau entahlah apa itu.


"Tuan, apa sedang ada masalah?" Tanyanya hati-hati.


Lagi-lagi Tristan menghembuskan napas berat, kepalanya menengadah ke langit.


"Kalau Tuan ada masalah, boleh cerita sama Sus. Yaaa... mungkin Sus nggak bisa kasih solusi, tapi Tuan bisa sedikit lega." Kata Suster Anna lembut.


Tristan terdiam dan kembali tersenyum miris pada wanita yang sudah dia anggap ibunya.


"Apa Suster tahu kenapa aku minta Crystal untuk hadiah ulang tahunku?"


Suster Anna berpikir sejenak, lalu menggangguk.


"Karena Tuan dan Nyonya Besar terlalu sibuk. Tuan Muda mau ada yang menemani."


Tristan mengangguk setuju dan terlihat sedang menyusun kata-katanya.


"Dulu, waktu kecil aku sangat kesepian di rumah sebesar ini. Mama Papa terlalu sibuk untuk meluangkan waktu bagiku. Boro-boro meluangkan waktu, ketemu aja bisa dihitung jari dalam setahun." Tristan tertawa sumbang.


Suster Anna berkaca-kaca mengingat masa kecil Tuan Mudanya yang selalu makan sendiri di meja makan yang besar. Setiap hari selalu bertanya padanya kapan Mama dan Papanya pulang. Suster Anna memang menyayangi Tristan seperti anaknya sendiri, tapi tetap saja seorang anak pasti merindukan orang tuanya.


"Saat aku tumbuh menjadi remaja, saat teman-temanku mencari perhatian dari orang tua dengan cara yang tak benar, bahkan rusak. Ada Crystal yang selalu menganggapku super hero. Karenanya, aku selalu berusaha menjadi versi terbaik diriku."


Tristan menarik napas sejenak.


"Ketika aku dewasa, di saat semua rekan bisnis minum dan clubbing sepulang kerja, aku justru ingin cepat-cepat pulang. Kamu tau kenapa Sus?"


Suster Anna menggeleng, dia menahan tangis. Dia sudah bersama Tristan sejak bayi, hingga bisa menyadari kemana arah pembicaraan Tristan.


"Karena aku tau, ada seorang gadis remaja yang menungguku pulang. Di saat orang tuaku melupakan keberadaanku. Aku tau, ada sepasang tangan yang terbuka lebar untuk menyambut kedatanganku."


"Di saat semua orang memasang tampang palsu dan berbaik-baik padaku demi tujuan tertentu. Hanya dia, Sus. Hanya Crystal yang berani mendekat dengan segala tingkah usil dan menjengkelkannya."


"Dan hari ini, rasanya ada yang hilang di hatiku waktu tau Crystal kasih potongan kue itu ke Sky." kata Tristan pelan.


Tristan menunduk. Dan Suster Anna menelan ludah, tak tahu harus merespons apa.


"Sus." panggil Tristan, suaranya terdengar lebih tenang.


"Ya, Tuan?"


"Sus, ternyata aku suka sama Crystal."


Suster Anna memegang jantungnya yang berdegup kencang. Entahlah, apakah hal ini akan menjadi masalah baru atau tidak.


"Ternyata aku suka dia seperti laki-laki mencintai wanita."


Tristan diam sejenak, menunggu reaksi Suster Anna.


"Tolong simpan ini sementara waktu... " Tristan memohon sekaligus memerintah dengan suaranya yang berwibawa.


"Tuan... " kali ini suara Suster Anna bergetar.


"Ya?"


"Sus nggak salahin Tuan. Tapi... " Suster Anna menghela napas.


"Gimana dengan status Kakak Beradik kalian? Bagaimana dengan reaksi orang tua Tuan? Apalagi Nyonya yang tak begitu suka sama Nona. Dan lagi, apa Nona tau perasaan Tuan?"


Begitu banyak yang berkecamuk di pikiran Suster Anna. Dia sangat paham bagaimana biasanya keluarga kaya memilih pasangan untuk anak-anak mereka. Dia menyayangi Tristan dan Crystal, rasanya sungguh tak tega melihat mereka dalam kesulitan.


Tristan mengangguk. Dia paham kemana arah pembicaraan Suster Anna.


"Soal status Kakak Beradik, aku pasti menemukan jalan. Kalau Mama, sepanjang Crystal mau bersamaku, aku akan menghadapinya."


Suster Anna mendongak menatap wajah Tristan, dia terkesiap. Ekspresinya mengingatkannya saat dengan mantap dan yakin memberitahunya kalau dia akan memperoleh seorang adik.


"I love her, Sus. We're going to take care of her with all of our love." perintah pertama dari Tuan Mudanya bertahun-tahun silam.


Kali ini situasinya sedikit berbeda, kini Tristan mendeklarasikan cintanya pada adik angkatnya.


Tristan menghadap ke Suster Anna, dia merentangkan tangannya.


"Boleh aku memelukmu Sus?"


Air mata Suster Anna tumpah. Dipeluk dan ditepuk-tepuknya bahu Tristan dengan penuh kasih sayang.


"Sus nggak bisa bilang apa-apa. Kalau Tuan memang beneran suka Nona, Sus bisa apa? Tapi Nona masih labil. Tolong Tuan harus pastikan dulu perasaan Nona pada Tuan. Jangan sampai kalian saling menyakiti."


"Ya, Sus. Terima kasih.... " bisik Tristan menahan haru, ternyata ada orang yang bisa memahami dirinya.


Bersambung ya....


Thank you for reading 😘😘😘


Napa... napa... mataku terasa panas?


Thank you Suster Anna for loving Tristan.


...Like, vote and comment, please... 😇...