I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 96 -- Garis Biru



Suster Anna memencet tombol - tombol di kunci digital yang terpasang di kamar Tristan dan Crystal. Demi menjaga privasi, Tristan memasang kunci yang hanya bisa dibuka oleh sidik jarinya, sidik jari Crystal dan satu orang lagi. Siapa lagi kalau bukan Suster Anna, orang yang selalu menjadi penjaga rahasia Tristan.


Wanita paruh baya itu menghampiri ranjang besar di tengah ruangan.


"Non, hari ini nggak ikut ngantor sama Tuan?"


Suara suster Anna hanya numpang lewat ditelinganya, dia berusaha membuka matanya yang terasa berat. Rasa malas menggelayuti tubuhnya hari ini, sampai - sampai tak mau bangun saat Tristan membangunkannya tadi. Badannya terasa remuk.


"Memang Kak Tristan sudah berangkat, Sus?"


"Udah, Non. Tadi bilangnya, udah coba bangunin. Tapi Non nggak mau bangun." ucap suster Anna, sambil menumpuk bantal guling di tepi tempat tidur.


"Sekarang sudah jam sepuluh, Non. Pak Supri sudah stand by dari tadi."


Crystal mengerang. Sial. Habis makan siang nanti dia harus ikut Tristan untuk meeting.


"Satu jam lagi aja, Sus. Badanku rasanya nggak enak."


Suster Anna melirik Crystal. "Apanya yang nggak enak?" tanyanya sambil memijit - mijit kaki Crystal.


Crystal menunjuk bahunya yang terasa pegal. Dia berguling dan tengkurap. Suster Anna memindah pijitannya ke bahu. Crystal mengangguk dan meringis.


"Kok kepalaku malah pusing." keluhnya, lalu kembali tidur terlentang.


Pandangannya berputar saat dia memandang langit - langit. Ada sesuatu yang menggelegak dari dalam perut.


HUP!


Crystal meloncat dari tempat tidur, tangannya menutup mulut. Dia berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan makanan yang dimakannya semalam ke dalam closet.


Mendengar suara muntahan, suster Anna bergerak cepat. Tangannya memencet intercom.


"Tari, tolong bawakan air jahe buat Nona Crystal. ke kamar ya." Suster Anna masih belum terbiasa memanggil Crystal dengan sebutan nyonya.


"Baik, Sus."


"Jangan lupa bawain minyak kayu putih sama potongan bawang. Kayanya Nona masuk angin."


"Perlu saya telepon dokter atau Tuan Tristan nggak sus?"


"Nggak usah dulu. Kalau siang demam, baru bawa ke Dokter. Tuan jangan diganggu dulu, kasihan nanti malah bingung."


Setelah selesai, suster Anna menghampiri Crystal.


"Gimana Non? Enakan?"


Crystal mengangguk, pipinya menggembung berisi air kumur. Suster Anna menghampiri Crystal dan menarug telapak tangannya dikening. Normal.


"Mungkin masuk angin. Istirahat aja dulu ya."


Crystal mengangguk, badannya benar - benar tidak enak. Dan lagi - lagi perasaan mual itu kembali datang. Dia menunduk ke wastafel dan kembali mengeluarkan sisa - sisa makanan yang ada dilambungnya.


Suster Anna memandangnya prihatin, dipijitnya tengkuk Crystal. Ah, Crystal jadi merasa sedikit nyaman. Dia kembali kumur, lalu mengelap mulutnya dengan handuk kecil.


Ketukan di pintu datang, Tari membawa sarapan, air jahe dan mangkuk berisi potongan bawang merah.


Bau bawang merah yang menyengat membuat Crystal kembali mual. Dia menutup mulutnya dan kembali berlari ke kamar mandi.


Suster Anna terpaku, dia berpandangan dengan Tari. Mata mereka terbelalak.


"Jangan - jangan.... "


"Cepat beli test pack, Tari." ucap suster Anna sambil mendorong tubuh Mbak Tari keluar dari kamar.


"Gimana, Non?" tanya Suster Anna, yang berdiri di ambang pintu kamar mandi.


Crystal menoleh pada suster Anna yang wajahnya penuh rasa ingin tahu.


Perlahan, Crystal mengangkat batang test pack ditangannya. "Ini bacanya gimana Sus?"


Suster Anna menyipitkan matanya yang sudah harus memakai lensa plus. "Waduh... , Sus kok nggak bisa lihat ya Non?"


"Dua garis, Sus."


"Yakin ya Non?"


Crystal mengambil kotak test pack dan membacanya. "Dua garis artinya hamil... " Crystal menoleh lagi ke test pack di tangannya.


"Ah, ini masih samar. Mbak Tari belinya yang murahan ya?" omel Crystal, menolak percaya.


"Ya udah. Sus suruh mbak Tari beli lagi sepuluh, merk terbaik. Masing - masing merk beli dua. Gitu ya Non?"


Heh?


"Beli sepuluh Sus?" sahut Mbak Tari yang dari tadi diam menonton kehebohan mereka. Dasar orang kaya, aneh - aneh aja. Pikir Mbak Tari sambil keluar mencari Pak Supri untuk mengantarnya ke apotek.


"Sus.... " Crystal menghampiri suster Anna, wajahnya nampak shock. "Kenapa aku bisa hamil?"


"Lah? Kok tanya Sus? Kan Non sama Tuan yang berbuat." jawab suster Anna polos.


Crystal terduduk di tepi tempat tidur, dengan wajah tak percaya. "Aku pikir, aku belum mau hamil dulu."


Suster Anna duduk di sebelau Crystal. "Memangnya Nona bilang ke Tuan kalau belum mau hamil?"


Crystal menggeleng pelan.


"Tuan Tristan nggak pakai pengaman kan?"


"Pengaman apa Sus?"


Suster Anna tersenyum menanggapinya.


"Kon - dom maksudnya, Non."


"Hah? Nggak, Sus. Mana pernah mikir sampai situ."


"Nona juga nggak pakai KB kan?"


Crystal lagi - lagi menggeleng.


"Ya udah. Berarti udah bener Nona hamil. Normal kok, Non."


Crystal menghembuskan napasnya, tubuhnya terasa makin lemas.


"Lho kenapa toh?" tanya Suster Anna heran.


Crystal memegang perutnya yang masih rata. "Tapi, gimana reaksi Kak Tristan?"


"Lah!"


Suster Anna tepok jidat. "Kalau Tuan sudah jelas pasti seneng, Non. Wong dia itu suka anak kecil."


Crystal menggigit bibirnya. "O'ya?"