I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 87 -- Memaafkan



Kalau ditanya apakah Crystal takut kembali ke Indonesia dan bertemu dengan keluarga angkatnya? Jawabannya jelas masih ada keraguan di dalam hatinya. Tapi dia tahu, Tristan yang akan terus menyayangi dan mensupportnya dengan tulus.


Mata yang sudah mulai keriput itu menatap dengan sorot mata tajam dan penuh haru, manik matanya menatap pasangan yang sedang berjalan kearahnya.


Pendiri Harrison Group itu menatap lelaki tampan nan gagah yang kelak akan menjadi pewarisnya. Anak satu - satunya. Tristan berdiri dengan tenang dan seperti biasa bersikap sopan.


Tuan Harrison mengangguk penuh wibawa, mempersilahkan mereka masuk ke ruang tamu rumah utama keluarga Harrison. Kedua orang itu berjalan dengan tangan yang bertautan, lebih tepatnya Tristan menggenggam tangan istrinya yang sedang menunduk. Tak berani menatap ke arah Tuan Harrison.


"Crystal... " panggil Tuan Harrison.


Crystal mengangkat kepalanya. "Ya... ?"


Ragu - ragu! Ya. Nada suara Crystal terdengar ragu - ragu, tak ada kepercayaan diri untuk menghadap pria paroh baya itu.


Crystal menggantung kalimatnya, lalu menoleh ke suaminya. Dia bingung harus memanggil apa kepada Tuan Harrison dihadapannya. Mau memanggil Papa, tapi canggung. Menyebutnya Tuan, Crystal teringat cerita Karina bagaimana sebenarnya Tuan Harrison diam - diam menyayanginya.


"Maafkan Papa." suara Tuan Harrison terdengar lebih lembut. Beliau merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut wanita yang sudah menjadi menantunya.


Papa katanya?


Crystal mendongak, ada sorot hangat terpancar dari pria yang diam - diam dikaguminya dari kecil. Matanya terasa memanas, sebaliknya hatinya terasa sejuk. Rasa haru merebak di hatinya.


"Let's go then." bisik Tristan. Tangannya mendorong lembut punggung Crystal.


Anak kecil yang kini menjadi wanita dewasa itu datang menghampirinya, masuk ke dalam pelukan hangat di bahu lebar seorang ayah. Air mata mulai meluncur dari mata bening Crystal.


'Ehm... , ternyata begini hangatnya pelukan seorang papa. Begitu ramah dan hangat.'


Tristan mengamati setiap micro ekspresi yang dipancarkan oleh kedua orang yang ada di depannya.


Tuan Harrison melepaskan pelukannya, dia membimbing Crystal untuk duduk di sebelahnua di sofa besar ruangan itu.


"Sekali lagi, maafkan Papa. Tau - tau kamu sudah besar dan berubah." katanya sambil menangkup tangan Crystal.


Crystal mengangguk. "Iya, Papa."


Uhm... , panggilan Papa yang meluncur dari mulutnya terasa berbeda saat ini. Terasa seperti melepaskan rasa rindu pada orang yang lama tak berjumpa.


Tuan Harrison mengelus lembut tangan Crystal, menyalurkan rasa sayang yang selama ini dipendamnya.


"Eternity." gumamnya sambil mengelus deretan diamond yang berbaris di cincin Crystal. "What's the reason?"


(Apa alasannya?)


Crystal menoleh pada Tristan yang dari tadi hanya diam dan mengamati.


"I promised her a never ending love. Our relationship's gonna be forever." jawab Tristan lugas, tanpa ragu apalagi malu.


(Aku menjanjikannya sebuah cinta yang tak berkesudahan. Hubungan kami untuk selamanya.)


"Dan kamu?" tanya Tuan Harrison lagi, kali ini ditujukan pada Crystal. "Kamu yakin saat memutuskan untuk menikah dengan Tristan? Padahal kalian ini.... "


"Tidak ada yang salah dengan keputusan kami, Papa." potong Tristan, sorot matanya mengatakan kalau dia meyakini setiap perkataannya. "Kami tidak ada hubungan darah sama sekali." Tristan menegaskan sekali lagi.


"Kamu harus menjaga baik - baik putriku satu - satunya, Tristan. Dan kita akan mengumumkan pernikahan ini."


Tuan Harrison mengerjapkan matanya, dari ekspresi wajahnya terbersit sebuah penyesalan akan banyaknya waktu yang hilang, dan juga kenangan yang terlewatkan selama ini. He needs no more fight. Berdamai dengan keadaan adalah yang diinginkannya.


"Baik, Papa." Tristan mengangguk setuju.


Crystal tersenyum, terharu dengan ucapan tulus Tuan Harrison.


***


Setelah pertemuan dengan Tuan Harrison, Tristan dan Crystal kembali ke aktivitas mereka. Bekerja sama menyelesaikan pulau, dan Tristan kembali ke Harrison Group. Meski begitu, tetap saja mereka tak mengurangi aktiviras pasangan pengantin baru di sela - sela kesibukan mereka.


Dan hari ini, menjadi ajang pembuktian Crystal sebagai Nyonya Muda Harrison. Sebuah acara makan bersama para pemegang saham dan client untuk merayakan proyek besar yang berhasil didapatkan baru - baru ini.


Secara penampilan, tentu saja Crystal ini sangat mempesona. Jangan lupa, dia dulu tumbuh dan dibesarkan di keluarga Harrison dengan kehidupan ala crazy rich.


Crystal dengan bangga berjalan bersama Tristan sembari tangannya merangkul lengan suaminya. He is mine. Dia benar - benar meng-claim pria di sampingnya.


Tristan dengan gagah muncul, laki - laki yang disebut - sebut the heirs of Harrison Group, akhirnya kembali muncul. Semua memandang kagum padanya, tak terkecuali para wanita yang terpaksa gigit jari melihat fakta sang pangeran telah menggandeng seorang istri yang mempesona.


Semua takjub pada Crystal, tapi bukan karena penampilannya melainkan nasibnya yang dianggap sangat beruntung. Di mata mereka, Crystal bagaikan cinderela masa kini. Seorang anak yatim piatu yang menikah dengan seorang pangeran tampan.


Setelah beberapa rangkaian acara, Tristan memperkenalkan Crystal kepada beberapa kolega. Tak ada kesulitan apa pun, Crystal bisa mengatasi semuanya dengan baik. Kehidupan kalangan atas bukanlah hal yang asing baginya.


Ehem... seperti biasa di dunia bisnis, selalu akan ada pertarungan yang muncul. Seorang lelaki paruh baya bersama putrinya datang menghampiri Tristan dan Crystal. Dia seorang pengusaha, bukan rival Tristan, tapi dia sangat mengharapkan Tristan menjadi menantunya.


"Tuan Tristan, selamat atas proyeknya. Dan saya yakin dengan kembalinya anda Harrison Group akan semakin cemerlang." Kata pria yang bernama Hendri berbasa basi.


"Anda ingat dengan putri saya? Clarissa?" Hendri menunjuk seorang wanita muda cantik di sebelahnya. Tristan hanya menanggapi seperlunya saja.


Melihat reaksi Tristan yang biasa saja, pria itu beralih ke Crystal.


"Nyonya, perkenalkan puteri saya Clarissa. Dia satu almamater dengan suami anda, baru saja menyelesaikan gelar magister di Oxford, London." Hendri dengan bangga memperkenalkan puterinya.


"Selamat malam, Nyonya." Sapa gadis itu dengan sopan.


"Selamat malam, Clarissa. Senang berkenalan denganmu." Crystal menanggapinya dengan sopan.


Clarissa tersenyum sumringah karena Crystal nampak lebih menyambutnya.


"Saya mengagumi anda, di usia yang muda sudah bisa menjadi istri seorang Tristan Harrison. Saya penasaran apa anda mengenal Tuan Tristan di college yang sama?"


Crystal terdiam sesaat, dia merasakan jika gadis dihadapannya memiliki maksud tertentu.


"Tidak. Kami tidak berasal dari college yang sama." jawab Crystal jujur. Memang mereka sama - sama kuliah di London tapi berbeda university.


"Oh'ya?" Clarissa pura - pura terkejut. "Lalu darimana anda mengenal Tuan Tristan? Apakah anda puteri dari pengusaha tertentu yang bekerja sama dengan Harrison Group?"


Crystal tersenyum tipis saat mendengarnya, jelas sekarang gadis itu bermaksud memprovokasi dan mempermalukannya. Semua orang disini tahu kalau Crystal adalah yatim piatu, Tuan Harrison sengaja memperkenalkannya seperti itu.


Bersambung ya....