
Hello, Ladies... pastikan jantung kalian aman saat mendengar berita ini!
Tristan Harrison, the handsome CEO of Harrison Group! Tertangkap kamera sedang berpelukan dengan seorang wanita muda di lobby kantornya sendiri!
---- --- Sebuah cuplikan video singkat nampak di layar. Tristan dengan hangat memeluk Crystal di lobby kantor pusat Harrison Group. --- ----
Kaget?? Sama, aku juga!
Siapa sih yang nggak mau sama the most wanted bachelor of the year? Haha... aku juga mau.
Ups! Tapi... Apakah ini artinya kalau hubungan Tristan-Bianca sudah putus?
Gimana? Gimana? Penasaran siapa wanita muda itu? Dan apa hubungannya dengan Tristan? Kalau tak ada yang spesial, kenapa mereka berani terang-terangan berpelukan di depan umum?
Let's wait and see, Ladies.
Semoga tak ada pelakor diantara Bianca dan Tristan.
Stay tune for the next hot news!
"Rasanya aku perlu cari asisten baru yang lebih kompeten, nggak banyak omong dan nggak suka nonton gosip murahan."
Gawat! Pak Boss datang.
Merasakan suasana ruangan mendadak berubah dingin dan mencekam, David buru-buru mematikan penggalan video acara gossip yang dikirimkan anak buahnya semalam.
Dia memasukkan ponsel ke dalam saku. "Selamat pagi, Tuan."
Kemudian membungkuk, "Maaf, Tuan."
Dia tak mau menambah masalah pagi ini dengan bersikap santai seperti biasa. Lagipula, David tahu kalau Tristan paling benci dengan acara gosip.
"Ada berita soal Tuan dan Nona Crystal... " David berdehem. "Sedang berpelukan."
Tak ada reaksi dari Tristan.
"Tapi saya sudah suruh perintahkan untuk menghentikan tayangannya, Tuan." David langsung melapor untuk menunjukkan kesigapannya dalam menangani kasus.
Tristan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Selama beberapa saat, suasana hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Tristan berdiri di depan jendela ruangannya, kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Matanya memandang jauh pemandangan di luar sana.
"Crystal masih belum pulang juga?" tanya David dengan hati-hati. Berharap pertanyaannya bisa sedikit mencairkan suasana.
"Belum."
"Hari ini aku akan urus pengajuan laporan orang hilang ke polisi."
"Do your best." Tristan berbalik dan berjalan menuju kursinya dan duduk disana.
"Siap."
"Dia nggak pergi, but she is hiding." gumam Tristan.
Ha?
David duduk di depan Tristan dan memandangnya kuatir. Jangan-jangan temannya ini sudah gila karena ditinggal oleh 'adik kesayangannya'.
"Crystal nelpon kamu?" David menyodorkan satu kaleng minuman yang diambilnya dari kulkas di ruangan Tristan.
Tristan menggeleng.
"Hah? Trus?"
"She gave me the clues." Tristan memijit pelipisnya. Kepalanya terasa berat karena kurang tidur dan terlalu banyak berpikir.
(Dia memberiku petunjuk.)
"Apa clue-nya?"
Terdengar hembusan napas Tristan. David jadi merasa tegang seperti hendak mendengar kisah misteri. Dia duduk tegak siap mendengarkan.
Hening... , Tristan tak memulai pembicaraan.
"Dia diancam?"
Tristan menarik punggungnya, duduk lebih tegak. Wajahnya kusut, seperti orang kalah perang. "Ya."
"ARE YOU KIDDING ME?" pekik David kaget.
(Dia takut tapi dia harus pergi.)
David mendekatkan kepalanya dan berbisik. "Maksudmu ada yang mengancamnya supaya pergi?"
Kali ini dia cukup tahu diri. Dia teringat istilah 'tembok punya telinga' dan kita tak pernah tahu siapa yang akan berkhianat.
"Aku jadi kuatir sama Crystal." kata David lagi sambil mengepalkan tangannya.
'Me, too!"
Biar bagaimana pun David sudah lama mengenal Crystal. Dia ingat bagaimana dulu waktu masih sekolah, saat dirinya sering main ke rumah Tristan. Crystal selalu menempel pada Tristan. Anak yang ceria dan iseng, kadang menyebalkan tapi suka bikin kangen.
"Nggak ada clue apa pun selain surat Crystal. Itu pun naruhnya di counter dapur. Untung aja Suster Anna sakit kepala, jadi aku bisa nemuin surat itu."
Nah, ini! Sebenarnya dari tadi David sudah mau ngomong, tapi dia bingung harus mulai dari mana.
Sejak awal melihat rekaman CCTV, David sudah merasa ada yang janggal. Tidak mungkin seorang Crystal bisa pergi ke suatu tempat tapi tidak ada di list penumpang. Anehnya lagi, andaikata dia tidak jadi terbang, kenapa tidak ada rekaman saat dia keluar dari airport?
"That means we need a plan." Kata David dengan gaya dramatis seperti seorang detektif hebat.
(Itu artinya kita harus membuat rencana.)
"Already." Tristan menyodorkan dokumen. "Pertama ini dulu! Baca baik-baik!"
David membaca isi dokumen itu dengan teliti, matanya terbelalak.
"Ini dokumen asli?" desisnya tak percaya.
PLETAK!
Tristan melempar tutup pulpen tepat mengenaj jidat David.
"One more silly question, kita END."
(Satu lagi pertanyaan bodoh, kita selesai.)
David mengelus jidatnya yang sedikit sakit. Dia tak percaya dengan apa yang dibacanya.
"Jadi anak group Hartono banyak yg bermasalah?"
Tristan tersenyum miring, telunjuknya menunjuk ke David dan kemudian ke kepalanya. Matanya menyiratkan sebuah kata 'MIKIR'
David gelagapan.
"Menurutku nih ya,... " David berhenti untuk menyusun kalimatnya sejenak.
"Sementara biarin aja berjalan seolah-olah kita nggak tau apa-apa. Biarin mereka merasa tenang. Kita bikin Hartono yang jadi wajah perusahaan sambil kita keruk duitnya." David menutup dokumen itu dan menyerahkan ke Tristan. "Kita lihat beberapa waktu ke depan, setelah itu... " David mengangkat bahunya. "Kita bongkar!"
"Singkirkan mereka tanpa ketauan kalau kita ada ikut campur didalamnya. Aku nggak mau lagi berhubungan sama dia. Tristan berhenti sejenak.
" Oke. Sekarang kita atur rencana buat cari Crystal."
"By the way, tim investigasiku selalu mentok di cctv airport setiap kali nyelidiki." sahut David. Ada nada putus asa didalamnya.
"Tim kita yang ga bener? Atau... "
"Ada orang dalam?" kata Tristan dan David berbarengan.
"Tumben kamu pinter, Dave."
"Sialan!"
Bersambung ya....
Author Note:
Sorry kemarin ga ada update.
Dari kemarin pagi, Authornya lagi nggak PD sama cerita ini 😞 Bolak balik revisi dan edit, tapi entah kenapa ga ada yg mantap di hati.
Today, aku coba update ya. I've been trying my best. Semoga memuaskan Readers-ku yang baik 😊
Sorry for late update. 🙏