I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 64 -- Mari Kita Bertemu



Two years later,


Saat itu Crystal sedang menunggu beberapa temannya di sebuah cafe di dekat campus. Mereka janjian untuk mengerjakan tugas akhir semester. Sambil menunggu, Crystal menonton acara yang tengah ditayangkan salah satu stasiun televisi yang terpasang di sudut ruangan itu.


Sebenarnya Crystal tak terlalu menyukai berita ekonomi yang ditayangkan, tapi yang menjadi perhatiannya adalah orang yang disebut - sebut dalam berita itu.


Berita tentang seorang new comers yang melejit di dunia property satu tahun belakangan ini.


Seorang pengusaha muda asal Indonesia, Tristan Harrison. Dia sempat keluar dari lingkungan yang membesarkan namanya dan berani merintis usahanya sendiri. Hebatnya, sekarang dia mulai melangkahkan kakinya menginjak pasar Asia dan bisa jadi kelak ke Eropa.


Saat profil Tristan ditayangkan, Crystal terpana. Meski sering telepon dan video call, rasanya semua tak pernah sama seperti dulu. Seandainya saja dia bisa menjadi time traveller sekali saja, pasti dia akan meloncati waktu untuk langsung bertemu dengan Kak Tristannya.


"Hei." Sebuah tepukan menyadarkan Crystal dari kekagumannya.


Cindy teman satu kelompok belajarnya tersenyum dan menggodanya.


"I know he is both rich and handsome. Every woman wants to be his spouse."


(Aku tau, dia tampan dan kaya. Para wanita ingin jadi pasangannya.)


Crystal tertawa pelan. "Kamu nggak akan percaya kalau kubilang dia dulu Kakakku."


"Siapa? Mr. Tristan?" Cindy balik bertanya.


Crystal mengangguk.


"Oh, aku percaya. Kalian satu negara kan? Yeah, of course. Kalian saudara sebangsa dan setanah air." kata Cindy sambil tertawa.


Crystal hanya mengedikkan bahu, dia tak ingin menjelaskan apa pun pada temannya itu. Sudah dua tahun dia tak memakai nama Harrison sebagai nama belakangnya, tak heran kalau teman - temannya tak mengetahui siapa dia dulu.


*


"Kak Tristaaaan." Suara melengking Crystal menyapa Tristan.


"Fiuh. Kok lama Sayang? Aku udah calling kamu dari tadi, sebentar lagi mau siap-siap dan berangkat." Wajah Tristan seperti baru bangun tidur, dia sedang berada di belahan dunia lainnya.


"Aku tadi bikin tugas di dekat campus. Trus pulangnya dijemput Karina, sekalian beli stock dapur. HPnya lupa kalau masih silent." Crystal berceloteh panjang lebar.


"Hmm... " Tristan mengusap wajahnya. "I miss you."


"Kalau kangen kenapa nggak datang kesini? Tadi aku lihat di berita kalau rancangan Kak Tristan sudah mau masuk Eropa." Crystal mendengus.


"Hampir itu artinya belum, Sayang. Sementara masih di Asia."


"Yaah... , masih lama lagi dong. Aku nggak suka sama Kak Tristan kalau gitu."


Haiizzz... Crystal sembarangan ngomong.


"Lho, jangan gitu. Buruan lulus, susulin aku. Oke?"


"Nggak mau! Jangan - jangan Kak Tristan udah punya pacar ya? Kak Tristan tinggal satu rumah sama siapa sekarang?" pertanyaan bernada menuduh keluar dari mulut Crystal.


"Ya ampun, Crystal... " Tristan mengerang. Dia berdiri dan mengedarkan ponselnya ke seluruh ruangan supaya menangkap keadaan apartment studio yang dihuninya saat ini.


"Nih, lihat. Seperti biasa aku sendirian, every day and night."


"Good." Crystal tersenyum puas dan mengacungkan jempol. "Hari ini Kak Tristan mau ngapain aja? Ketemu siapa aja?"


Haduh! Ini nih. Tristan langsung merasakan firasat buruk. Biasanya kalau sudah begini, bakal ada perang.


"Breakfast, meeting sama investor. Bikin rencana kerja dan malamnya launching penthouse. Selesai launching langsung ke Malaysia." kali ini Tristan memikirkan baik - baik jawabannya. Jangan sampai tuan puterinya marah dan ngambek.


"Kak Tristan itu kebangetan! Bisa pergi kemana - mana. Tapi visit ke tempatku aja belum pernah sekali pun. Dua tahun. DUA TAHUN lho, Kak. Hah!"


Nah! Salah lagi.


"Karena sekarang hari libur dan tanggal merah pun aku pakai untuk kerja. I spent 365 days and almost 20 hours a day for working. Please, understand me."


"Bohong."


"I don't. And will never." jawab Tristan mantap.


(Nggak. Dan nggak akan pernah.)


"I know that you don't miss me as much as I do." Crystal terlihat kecewa.


(Aku tau kamu nggak kangen aku sebesar aku kangen kamu.)


"I do miss you tapi... "


"Nggak ada tapi - tapian. Aku mau ketemu Kak Tristan. TITIK, nggak pake koma. Nggak pake lama."


"Sayaaang.... " Tristan meringis. "Last year is really like a kind of big mess for me. Aku janji I'll try harder dan ever." Tristan mati - matian membujuk Crystal.


(Tahun kemarin semua berantakan buatku. Aku akan mencoba lebih keras lagi.)


Crystal tak menjawab, matanya menatap tajam ke layar ponselnya. Fix! Dia marah.


"Crystal... please. Jangan ngambek, aku jauh. Nggak bisa ngerayu kamu." Wajah Crystal memelas.


"Masa bodoh." Crystal melengos.


Gini ini. Kalau Crystal lagi kumat keras kepalanya, Tristan benar - benar dibuat pusing karenanya.


"Gini aja. If you want to make it faster. Please help me." Suara Tristan memelas.


(Kalau kamu pengen lebih cepet. Tolong bantu aku.)


Crystal melirik ke layar ponselnya, nampak wajah memelas Tristan. Sebenarnya dia kasihan sama Tristan kalau ngambek lama-lama.


"Apaan?" Tanyanya masih dengan suara judes, pura - pura masih ngambek. Rasanya menyenangkan setiap kali melihat ekspresi panik Tristan saat dirinya ngambek.


"Kirim port folio design-mu untuk proyekku yang baru dong. Jadi aku nggak perlu lagi cari-cari design interior yang sesuai. Lagian design-mu bagus - bagus kenapa malah kamu kasih ke orang lain?" protes Tristan sebal.


Ha?


"Dari mana Kak Tristan tau aku bikin design?"


Tristan terkekeh. "I have my own resource."


(Aku punya sumberku sendiri.)


Ugh! Pasti Karina biang keroknya. Padahal Crystal ingin memberi kejutan pada Tristan. Diam - diam dia membuat website dan Karina membantunya bekerja sama dengan beberapa perusahaan konstruksi. Dan setelah dua tahun, hasil design-nya mulai dicari oleh orang.


Karina yang lebih berpengalaman di bidang bisnis akan melakukan deal - deal yang menguntungkan baginya. Tapi Crystal lebih suka berada di balik layar, dan Karina akan berperan sebagai wajah perusahaan milik Crystal.


Bagi Crystal tugasnya hanyalah menggambar dan menggambar saja, selebihnya Karina yang mengatur dan Sky yang mempromosikan lewat akun you tube-nya. Tujuan akhir Crystal tentu saja bekerja sama dengan Tristan. Hanya saja Crystal masih belum percaya diri untuk terlibat langsung dal pekerjaan Tristan. Dalam hal pekerjaan Tristan bisa menjadi sangat perfectionist.


"Let's make a deal. Selesai proyek terbaruku dan kalau rancanganmu masuk standardku. Kita bisa ketemu. Oke?"


"Are you sure?"


"Hm-hm. Let's us against the world."


"Ha?"


"Yes. You and me against the world."


"Aku ngomong ke Karina dulu. She is my manager now." kata Crystal sok jual mahal.


Tristan tersenyum lebar. Sekali lagi berhasil menyelamatkan dunia dari perang.


Bersambung ya...