I Love You, Sis!

I Love You, Sis!
Bab 16 -- Biarkan Aku Memilih



"Permisi, Tuan. Tuan Harrison menunggu di ruangan anda." Santi memberitahu Tristan yang sedang meeting dengan beberapa pemegang saham.


Tristan tercengang, tidak biasanya seorang Tuan Harrison datang mencarinya. Seumur-umur mereka bertemu hanya di meeting-meeting besar perusahaan, atau kalau bagus saat Papanya dan Mamanya mampir ke rumah. Apakah ada hal penting yang ingin dibicarakan? Terpaksa Tristan membubarkan meeting saat itu juga.


"Selamat siang, Pa." Tristan menyapa dengan sopan, bahkan terlalu sopan untuk percakapan seorang ayah dan anak.


"Aku dengar Crystal membuat masalah di sekolah. Gurunya mengirim laporan ke sekretaris Papa."


"Aku yang akan menanganinya, Papa tak usah kuatir." Tristan menarik napas dalam-dalam, bersiap mendengar kata-kata Tuan Harrison selanjutnya.


"Apa dia menyusahkanmu?"


"Crystal itu adikku, Pa. Aku yang meminta Papa untuk membawanya ke rumah, maka aku yang akan bertanggung jawab atas dia." Tristan menjawab dengan tenang.


Tuan Harrison duduk di sofa, matanya menatap lurus dan tajam kearah Tristan.


"Papa dengar kabar dari Mama soal Bianca."


Duh! Tristan lupa sama sekali soal Bianca. Sudah pasti Mamanya melapor soal rencana perjodohannya dengan wanita itu. Tristan menelan ludah.


"Jadi, bagaimana hubunganmu dengannya? Apakah berjalan lancar?"


Sial! Sial! Sial! Baru saja kemarin dia senang berhasil menghindari *bru*nch dengan Bianca. Sekarang dia bingung, bagaimana caranya mengatakan kalau dia menolak perjodohan dengan wanita manapun selain Crystal?


Eh? Ya ampun! Tristan terkejut dengan pemikirannya sendiri.


"Tristan!" kata Papanya dengan tegas sambil mengamati setiap gerakan Tristan.


"Eehm... begini Papa. Saya ingin bicara." Tristan berjalan mendekat dan duduk di dekat Papanya.


"Sepertinya hubungan kami tidak akan lancar, Pa." lanjut Tristan.


"Maksudmu apa? Kamu tau? Orang tua Bianca adalah partner sekaligus sahabat baik Mamamu." Tuan Harrison menatap dingin, wajahnya mirip dengan Tristan.


Tristan mengangguk. Dia tahu, kedua orang tua mereka pasti akan senang dengan perjodohan ini. Pernikahan bisnis semacam ini adalah hal yang lumrah dikalangan mereka.


"Maafkan aku, Pa. Tapi aku tak punya perasaan apapun padanya."


Tuan Harrison tak merespons, dia nampak berpikir.


"Aku mohon, jangan paksa aku menjalani pernikahan tanpa cinta. Dari kecil hidupku sudah ditentukan, mulai dimana aku bersekolah, jurusan apa yang harus aku ambil. Bahkan pekerjaanku dan dengan siapa aku berteman juga sudah ditetapkan."


Tristan memutuskan untuk jujur dan memohon pada Papanya, sama seperti dulu dia memohon untuk meminta seorang adik.


Tristan benar. Selama ini Tristan selalu patuh pada Papanya. Dia tak pernah membicarakan perasaan pribadinya, dan tak pernah memohon apapun darinya. Dan kali ini, Tuan Harrison tahu kalau Tristan sedang mengungkapkan isi hatinya.


"Aku tahu, dengan perjodohan ini harta kita akan aman dan saling menguntungkan." suara Tristan terdengar getir.


"Aku tak menyukai wacana tentang perjodohan ini."


"Jadi, apa maumu?" nada suara Tuan Harrison terdengar melunak.


"Biarkan aku memilih pasanganku sendiri." Tristan menatap Tuan Harrison dengan sorot mata penuh keyakinan.


***


Selesai mengantar Papanya untuk kembali terbang ke negara lain, Tristan bergegas menuju sekolah untuk mengurus masalah Crystal bolos sekolah dan pergi ke Bali.


"Kak Tristan." Crytal meloncat dan menyambut Kakaknya.


"Antarkan aku ke ruang kepala sekolah ya." kata Tristan dengan lembut. Dia menggandeng tangan Crystal dan melangkah menuju ruang kepala sekolah, sama sekali tak terpengaruh dengan bisik-bisik dibelakangnya.


"Ganteng banget!"


"Gila, kayak oppa korea!"


"Single"


"Iyesss, crazy rich!"


"Kayanya masih muda."


"Kudengar masih thirty."


"Tampan, single, kaya... so yummy!"


"Ada apa?" tanya Sky yang baru muncul. Dia heran melihat tingkah teman-temannya yang mendadak heboh seperti melihat artis.


"Ugh! Aku pastikan datang di party-nya si Crystal." Cristine tak menjawab pertanyaan.


"Of course!"


Oh! Seketika Sky tahu siapa yang dibicarakan saat melihat sosok Crystal keluar bersama Tristan dibelakangnya.


"Hey, Crystal." Sky melambai dan tersenyum ceria, lalu mendekati Crystal.


"Selamat siang, Om!"


Tristan tak membalas sapaan Sky. Dia mengenali remaja laki-laki yang mendekatinya, tidak mungkin dia lupa wajah dan nama anak yang dianggap rivalnya itu.


"Hai, Sky." Crystal menyapa ceria, merasa lega karena nampaknya pertemanan mereka tak berubah karena dia menolak Sky tempo hari.


Sebaliknya, Tristan tak suka melihat Sky. Apalagi Tristan ingat kalau remaja ganteng dihadapannya juga menyukai Crystal. Enyahlah kau, Sky!


"Crystal! Kamu masih ada pelajaran? Masuk ke kelas sekarang!" perintah Tristan dingin.


Meski heran dengan perubahan sikap Tristan, Crystal mengangguk. Kali ini dia akan menurut pada Kakaknya. Biar bagaimana pun, hukumannya berkurang berkat Tristan.


"Bye, Kak."


"See you after school, My Girl." kata Tristan.


Jantung Crystal kembali berdebar. Kenapa sebutan my girl terasa begitu posesif. Dan anehnya, Crystal merasa senang.


"Yuk, masuk!" Sky menarik tangan Crystal dan menggandengnya.


Oh! Mendadak Crystal merasakan hawa dingin menusuk dari balik punggungnya. Pelan-pelan dia menoleh. Jelas sekali terlihat tatapan Tristan yang tak suka melihatnya digandeng oleh Sky.


Crystal buru-buru melepas tangan Sky dan menjaga jarak aman darinya. Diam-diam Tristan tersenyum puas dengan sikap Crystal yang nampak mengerti dirinya.


Bersambung ya....