
"kebiasan anak itu, jam segini belum bangun" Mom Fairus datang ke Apartemen sekitaran jam tujuh pagi tapi V masih juga di alam mimpi bahkan kadang sampai Mom Fairus pulang V masih nyenyak tidur
"apa perlu saya bangunkan Nyonya?"
"tidak perlu, biarkan dia istirahat"
"kalian semalam pulang jam berapa?"
"jam tiga dini hari nyonya"
Mom Fairus mengetahui jika anaknya itu suka lembur pulang larut malam dan kadeng pulang pagi tidak merasa curiga sama sekali
lalu Mom Fairus mengajak Vitto duduk di ruang tamu untuk melanjutkan percakapan masalah perkembangan V dan meminta bantuan Vitto untuk menjodohkan V dengan salah satu anak dari temennya
Prang
disaat Mom Fairus dengan Vitto sedang asik mengibrol terdengar suara barang jatuh dari dalam kamar V. segeralah Mom Fairus dan Vitto mengecek ke dalam kamar
"V!" pekik Mom Fairus terkejut mendapati anaknya sudah terlungkup di lantai dengan mulut yang mengeluarkan darah "sayang kau kenapa?" Mom Fairus gemetaran membalik tubuh V pelan-pelan "V bagun sayang ini Mommy" Mom Fairus menepuk-nepuk pelan pipi V berusaha membangunkan tapi nyatanya mata itu masih setia terpejam "Vitto laukukan sesuatu!" isak tangis Mom Fairus terdengar rasa panik dan khawatir tercampur jadi satu
"kita bawa ke rumah sakit Nyonya"
"cepat!"
Vitto yang juga panik langsung mengendon Taunnya itu di punggungnya untuk untuk membanya ke dalam mobil dan Mom Fairus mengikutinya dari belakang
di dalam mobil Mom Fairus tidak henti hentinya berdoa agar V baik-baik saja dan teteap berusaha menyadarkan V
"V bangun sayang, jangan tinggalkan Mom" Mom Fairus yang memangku V tidak berhenti menangis "Vitto cepat!"
"baik Nyonya"
*
*
V langsung di bawa ke ruang IGD, sementara Mom Fairus hanya bisa menunggu di luar sambil menghubungi Dad Wille dengan tangan yang gemetaran
Mom Fairus yang khawatir mondar mandir di depan pintu ruang IGD karena sudah hampir lima belas menit V berada di dalam. Dokter yang memeriksa V tidak kunjung keluar bahkan Dad Wille sudah sampai di Rumah sakit bersama Vallen
"sayang" panggil Dad Wille menghampiri istrinya.
Mom Fairus melihat kepada Dad Wille lalu memelukknya dengan erat seakan tidak mau kehilangan
"tenang semua akan baik-baik saja" Dad Wille mengusap lembut punggung Mom Fairus menenangkan istrinya "bagaimana keadaan V?"
"V masih di dalam, dokter juga belum keluar"
tidak berselang lama dokter yang memeriksa V keluar dari ruangan
"bagaimana keadaan anak saya Dok? apa dia baik-baik saja? apa sakitnya parah?" begitu banyak pertanyaan yang Mom Fairus lontarkan
"sudah saya katakan sebelumnya jika perut pasien sudah terdapat luka, jika terus menerus mengkonsumsi alkohol akan memperparah keadaannya" terang Dokter Eric, Dokter yang menangani V
"Apa?" pekik Dad Wille dan Mom Fairus terkejut, begitupun dengan Vallen. Karena selama mereka mengenal V, V paling tidak suka dengan namanya minum minuman keras
"lukanya sudah sangat serius, kita harus segera melakukan oprasi" lanjut Dokter Eric
"lakukan apa saja demi kesembuhan anak kami" jawab Dad Wille
"baik Tuan" Dokter Eric masuk lagi ke dalam ruangan IGD menyiapkan perlengkapan untuk melakukan oprasi
gleg
Vitto menelan siliva nya dengan susah payah saat seluruh anggota keluarga Willem mentapnya dengan tatapan tajam