
"kenapa kau kemari? bukankah aku menyuruh mu istirahat di rumah? " tanya V menahan pinggang Zoe yang akan beranjak dari pangkuannya
"lepaskan aku, bagaimana jika orang lain melihat? " Zoe melihat ke arah pintu yang memang terbuat dari kaca, melihat karyawan lain sedang berlalu lalang
"mereka tidak akan melihat kita di dalam, itu kaca satu arah"
"V tolong lepaskan, aku merasa tidak nyaman" pinta Zoe
"katakan dulu alasan mu kemari, baru aku akan melepaskan mu"
Zoe mengambil nafas dalam lalu menghebuskan secara perlahan, kemudian mulai menceritakan alasanya datang ke kantor
"aku sehari tidak ke kantor kau sudah memandang wanita lain" jawab Zoe kesal mengrucutkan bibirnya
cup
V mengecup bibir Zoe "apa kau cemburu?" tanya V masih tersenyum melihat kecemburuan Zoe yang menurutnya sangat megemaskan
"a-aku bukan cemburu, hanya saja aku berfikir kau mempermainkan ku dengan memanfaatkan amnesia ku" dalih Zoe memandang kesembarang arah menyembunyikan kegugupanya karena kecupan tadi mampu membuat jantung Zoe memompa lebih cepat
"ini" V memberikan berkas kepada Zoe
"apa ini?" tanya Zoe bingung membolak balikkan amplop berwarna coklat
"bukalah" printah V
Zoe pun membuka amplop itu dan membaca selembar kertas di dalamnya
"apa ini? " tanya Zoe kembali, masih belum mengerti apa maksud V memberikan kertas hasil tes DNA
"iya aku tahu tapi maksudmu memberiku ini apa?"
"bukankan sudah aku katakan, aku akan membuktikan bahwa aku ini suami mu tanpa membuka kenangan mu dan hasil tes DNA ini membuktikan bahwa kau adalah anak Ibu Ellena yang aku nikahi dua tahun lalu " jelas V panjang lebar "apa sekarang kau percaya kalu aku ini suamimu?"
Zoe mengangguk tanpa suara ia sendiri masih bingung dengan statusnya saat ini. pertama kali yang teringat di dalam kepalanya, saat ia tersadar di rumah sakit lalu tinggal bersama keluarga Galih sebagai anak perempuan mereka, dirinya benar benar melupakan segala hal bahkan dirinya baru tahu kalo keturunan bagswan solo saat V memberitahunya
"sekarang, turunkan aku" pinta Zoe setelah tersadar. mengobrol tentang asal usul keluarganya membuat Zoe lupa jika dirinya masih duduk di pangkuan suaminya
"kenapa kau ingin turun sayang? bukankan kau nyaman duduk di pangkuanku?" goda V
"Ck, V! " kesal Zoe menukul perut V
"Agh" rintih V menahan sakit, sakit bukan karena pukulan Zoe melainkan maag nya sedang kambuh
"kau kenapa? " tanya Zoe khawatir berdiri dari pangkuan V
"perutku terasa perih, aku dari kemarin siang belum makan"
"ya ampun" tangan Zeo menutupi mulutnya yang mengaga karena terkejut "bagaimana kau bisa lupa makan? " Zoe meukul bahu V kesal. V selalu memperhatikan kesehatanya tapi malah mengabaikan kesehatanya sendiri
"Ayo kita makan di luar" ajak V
Zoe membawa V untuk makan tidak jauh dari kantor karena tidak ingin maag V tambah parah jika mereka mencari makan jauh dari area kantor dan mereka pun cukup jalan kaki untuk menuju sebuah kedai kaki lima di pinggir jalan
"kamu yakin kita makan disini? " tanya V menatap sekalilingnya, ini baru pertama kali bagi V makan di pinggirjalan
"kau tenang saja makanan disini di jamin bersih, enak dan tentunya murah" jawab Zoe santai