
Bunga Lily memenuhi ruangan. Para tamu siap menikmati acara hingga akhir. Dinding dilapisi kain dekorasi putih juga bunga-bunga. Di sisi ruangan beberapa vas memperindah pemandangan hari itu.
Ada sepasang suami istri yang sudah mengenakan pakaian hitam dan putih sesuai kode di undangan. Keduanya nampak ... sudahlah! Suaminya mulai pusing melihat istrinya terus berdebat dengan kedua anak mereka.
"Kalian bisa diam apa tidak?" tanya Firli dengan nada membentak.
"Dia duluan, Mah!" protes Rio karena sepatunya diinjak Gio lalu marah dan balas menginjak sepatu Gio. Padahal adiknya tidak sengaja melakukan itu.
Gio manyun. Ia melipat tangan di dada. Kemudian dengan satu hentakan cepat tangannya memukul mulut kakaknya. Kontan Rio menjerit. "Mamah!" Air mata keluar dari mata Rio. Andrean kaget. Ia langsung meraih putranya. Meski saat itu para tamu tengah mengobrol, tangis Rio berhasil membuat perhatian mereka teralihkan.
"Aku dipukul Gio." Rio mengusap pipinya yang basah. Sementara itu Gio bersembunyi masuk ke dalam meja.
Firli menepuk jidat. Tak tahu kenapa, anak-anaknya selalu saja membuat masalah. "Gio!" panggil Firli dengan kerasnya. Andrean menarik lengan Firli lalu memintanya diam.
"Gio, sini Papah ingin bicara boleh?" lain dengan Firli, Andrean justru lebih sabar menghadapi kedua anak itu. Gio keluar dari meja dengan wajah ketakutan.
"Sebentar ke sini, dulu." Meski masih gemetar Gio mendatangi Papahnya. Rio tersedu-sedu saking sakitnya menahan pukulan Gio.
"Kenapa Kakak dipukul? Apa yang Gio rasakan sampai memukul kakak?" tanya Andrean lembut.
Gio menunduk. "Habis Kakak bilang Gio salah sudah menginjak. Padahal Gio gak sengaja. Gio minta maaf juga sudah," jawab anak itu.
Andrean memgangguk. "Kamu kecewa?" tanyanya. Gio mengangguk. Tadinya Rio ingin ikut bicara, tapi Andrean langsung menahannya. "Biar adik kamu yang bicara dulu, setelah itu baru kakak."
Rio menurut saja. Ia pernah melihat Papahnya marah meski tidak berteriak seperti Firli, tapi itu membuatnya takut.
"Dek, Papah tahu kamu kecewa dan marah karena permintaan maafmu tidak Kakak terima. Namun, ada cara untuk menunjukkannya. Tahu bagaimana?"
"Bicara dan minta Papah bantu?" tebak Gio.
"Lalu apa Gio pakai cara itu?"
Gio menggeleng. Ia menunduk dan menyadari jika ia salah. "Maaf, Kak. Nanti Gio janji gak pukul lagi."
Andrean berbalik pada Rio. "Papah tahu kamu sakit karena kaki kamu terinjak. Kamu dengar adik kamu meminta maaf dan bilang tak sengaja?"
Rio menggigit bagian bawah bibirnya. "Iya dengar. Cuman Rio kesel aja. Masa cuman maaf. Kenapa gak sama-sama diinjak lagi?"
"Kalau Papah beliin kamu sepatu, apa kamu harus beliin Papah sepatu juga?" tanya Andrean. Rio menggeleng. Punya uang dari mana dia, pikir Rio. "Kalau begitu, perbuatan salah tidak harus dibalas dengan cara yang sama, kan?"
Rio mengangguk. Ia membalas uluran tangan Gio. "Kakak juga salah, kakak minta maaf."
Mereka berpelukan lalu mulai baikan lagi. "Ayo main ke sana!" tunjuk Rio pada arena permainan yang memamg khusus untuk tamu yang membawa anak.
Firli mengerutkan jidatnya. "Kalau sama kamu mereka patuh banget ya? Kalau sama aku sih, belum kemoceng di tangan pasti masih ribut."
Andrean menoyor jidat Firli. "Mereka itu anak-anak, bukan musuh. Lagipula mereka darah dagingku. Seenak jidat kamu pukul mereka!" protes Andrean.
"Aku yang lahirin tahu!" Firli balas sewotnya.
πΏπΏπΏ
Tangan Briana gemetaran. Bahkan telapak tangannya basah gara-gara panik. Make up artist yang mendandaninya hari itu sampai pusing sendiri membenarkan riasan.
"Kamu mau perang, Bri?" tegur Nana yang akan menjadi pengiring pengantin hari ini.
Briana mengangguk. Seumur hidup dia selalu percaya diri. Namun, kali ini lain. Ia trauma, ia takut seperti Revan dulu, Rai juga tak terbangun dari tidur.
"Rai baik, kan?" tanyanya khawatir. Nana dan Elsa mengangguk. "Aku takut dia sakit."
"Kalau sakit kenapa? Takut gak malam pertama?" tanya Nana jahil. Briana manyun. Padahal sedang serius malah dianggap bercanda.
Gadis itu melihat ke arah pintu dan kaget melihat Bundanya Revan ada di sana. Briana bangun dari kursi pengantin di ruang tunggu dan menghampiri wanita yang sangat ia hormati itu. "Bunda," panggil Briana.
Anita tak bisa menahan rasa sedihnya. Matanya berlinang lalu ia peluk Briana dan mengecup keningnya. "Bunda bersyukur, akhirnya ada yang bisa menjagamu. Revan pasti akan tenang sekali di sana. Bunda harap pernikahanmu akan langgeng dan selalu bahagia. Kamu anak yang baik dan selalu membuat semua orang ceria," ucap Anita.
Briana mengangguk. Matanya juga mulai basah. "Briana janji, Bun. Briana akan selalu ingat Revan. Briana juga gak akan lupain Bunda. Aku pasti akan datang ke rumah Bunda untuk jengukin kalian semua."
Melihat mereka berdua, Nana dan Elsa ikut terharu. Mereka meneteskan air mata dan langsung mereka hapus dengan tissue.
Sementara itu Rai sama gemetarannya. Ia memandangi jendela dan mengatur napas. Ia takut saat mengucap janji pernikahan, malah bibirnya jadi kaku.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Rai melihat layar ponselnya. Ada pesan di whatsapp.
- Apa kamu tidak berubah pikiran? Aku nunggu kamu kembali. Aku cinta kamu (Gladis)
Itu pesan dari Gladis. Rai lekas menghapus pesan itu takut Briana membacanya dan semua menjadi buruk. "Maaf, Dis. Kamu masalalu yang hanya jadi pembelajaran bagiku. Sekarang Briana adalah segalanya. Aku ingin hidup dengannya dalam waktu yang lama," batin Rai.
Dari pintu Gama memanggilnya. Rai berbalik. Ia masukan ponsel dalam saku. "Waktunya keluar, Pangeran," ajak Gama.
Rai mengangguk. Ia memperbaiki jasnya lalu berjalan ke luar. Rai berbelok ke pintu utama gedung. Ketika melewati pintu, ia disambut tepukan dari para penonton.
Rai menghela napas lalu menghembuskannya perlahan. Ia mulai berjalan menuju altar di dampingi Gama juga Misyel. Begitu tiba di depan, Rai menunduk tanda hormat pada para tamu.
Andrean dan Firli terlihat bahagia melihat Rai di sana dengan gagahnya berdiri.
Tak lama terdengar lagu jaji suci mengalun. Sejalan dengan itu, pintu gedung kembali terbuka. Nana dan Elsa muncul dari sana menaburkan bunga mawar putih di atas karpet merah. Di belakang mereka pengantin cantik bermata coklat tersenyum sambil menunduk malu. Wajah Rai memerah. "Cantik sekali," batinnya.
Briana berjalan perlahan. Para tamu sampai terdiam melihat gadis itu begitu cantik mengenakan gaun panjang yang sampai menyapu lantai. Bunga di tangannya sampai kalah cantik dari pengantin.
Nana dan Elsa berjalan ke sisi. Mereka membiarkan Briana berjalan melewati mereka. Bunga masih mereka taburkan. Ayah Briana menyerahkan tangan putrinya pada Rai. Begitu tangannya menyentuh tangan Briana, jantung Rai berdebar kencang.
"Aku jatuh cinta lagi kalau begini caranya," pikir Rai.
**Seperti janjiku. Ini extra part sampai novel baruku dirilis di MT. Akan ada beberapa part ya ... Jadi tunggu saja π€§.
Upnya tiap hari kok π. Jangan lupa dukung novel baruku nanti ya**?