
Pertama kalinya setelah satu tahun lebih, akhirnya Nana, Ghea dan Elsa menginjak lantai marmer putih gading di kamar Firli yang berukuran 12 x 9 meter itu. Kamar yang sangat besar hingga gajah saja nyaman berguling di dalamnya. Belum ditambah walking closet dan kamar mandi serta toilet yang memiliki ruangan sendiri.
Ghea berdiri di hadapan pintu geser terbuka yang di dominasi kaca. Pintu itu satu-satunya jalan menuju balkon yang railingnya terbuat dari batu granit coklat muda. Sinar matahari begitu bebas masuk dari sana, menyinari ruangan kamar luas dengan cahaya yang lembut sore itu
"Tidur di kasur segede ini pasti bikin bangun kesiangan, ya? Nempel terus kayak magnet," Elsa mengusap-usap bed cover kasur king size yang berwarna coklat muda. Iseng ia mencari jahitan merk yang mungkin menunjukan 'harganya'. "Pantesan dingin-dingin lembut, buatan Gu**i."
"Mana?" Nana ikut-ikutan penasaran dengan merk yang Elsa temukan. Mulutnya terbuka lebar sambil menarik nafas panjang kemudian mengeluarkan suara wow yang cukup keras.
Ghea menghampiri kedua temannya yang masih menikmati nyamannya kasur Firli. "Harusnya dari awal gue tahu kalo dia anak sultan," celetuknya.
Tak lama Firli membuka pintu walking closet dan menunjukan dirinya yang mengenakan gaun berwarna putih dengan renda di lengan. Rok ballgown berwarna senada menutupi kaki pendek Firli tapi tetap terlihat indah.
"Nah gini dandan jadi kelihatan manusiawi," ledek Elsa. Sisi bibir Firli terangkat sebelah. Bola matanya melirik tajam ke arah gadis itu.
"Emang kemarin kayak apa?" sewot Firli.
"Lo gak tahu anak-anak manggil lo baby tweety?" ledeknya. Memang itulah julukan yang cocok untuk si pendek dengan pipi chubby ini. Untung saja kulitnya tidak benar-benar kuning.
Terdengar pintu kamar Firli diketuk. Bunda berdiri di sana bersandar sebelah bahunya ke daun pintu sambil melambai. Ia menegakkan badan kemudian berjalan mendekati Firli. Tangannya cekatan merapihkan rok Firli yang belum jatuh sepenuhnya sehingga terlihat kusut.
"Bunda, terima kasih banyak ya izinin Firli datang ke pesta itu." Firli ikut membantu Bunda merapikan gaunnya.
Pulang sekolah beberapa hari lalu tanpa sengaja Firli menyimpan undangan ulang tahun Rai di meja riasnya yang akhirnya ditemukan Bunda. Firli tak menyangka Bunda kemudian memanggilnya dan mengizinkan ia pergi ke acara itu.
"Hanya saja Bunda tak tega dengar kamu bilang pada Ayah ingin pergi hang out dengan sahabat kamu," jawab Bunda.
Bunda membantu Firli merias wajah dan menata rambut. Ia ingin melakukannya sendiri meski Mrs. Charlotte sudah menawarkan diri. Bunda memang sering melakukan hal itu. Jangankan untuk ke pesta, pergi sekolah saja Bunda akan menata penampilan Firli jika tidak sibuk. Ia sampai repot-repot datang ke paviliun pagi sekali.
"Hati-hati, ya? Tante minta tolong jaga Firli," pesan Bunda sesudah Firli duduk di atas kursi mobil Nana yang dibalas anggukan oleh ketiga sahabat Firli.
Firli memberikan salam perpisahan lalu menutup pintu mobil. Bunda masih menunggu di entrance paviliun sampai Nana mengijak gas dan mobil melaju.
Β
πππ
Β
"Lo bakalan biarin Rai jadian sama Gladis?" Nana memulai percakapan setelah mereka keluar dari gerbang rumah keluarga Freiz. Hanya anggukan kepala yang Firli berikan. Dari raut wajahnya saja bisa terbaca dengan jelas jika ia tak rela tapi tak bisa apa-apa.
Firli menggeser tubuhnya agar dapat menyandarkan dagunya ke kursi depan tempat Elsa duduk. "Tapi gue senang bisa main keluar sama kalian." Jari-jari Firli mengetuk bergantian pada bagian atas sandaran jok.
Sepanjang perjalanan mereka membahas banyak hal. Terutama dengan Ghea yang akhirnya mau mengurai rambutnya dan memakai rok. Jujur Firli iri. Jika dirinya sama sekali tak berbeda ketika dandan atau tidak, Ghea malah menunjukan perubahan signifikan. Gadis tomboy yang ke sekolah maksa memakai celana seragam ini malah terlihat cantik badai seperti gadis Thailand.
Butuh 20 menit dari rumah ke kediaman keluarga Abiyapta. Rumah berlantai dua itu terlihat jelas sedang ramai karena kedatangan banyak mobil.
Di pintu masuk seorang pelayan menanyakan undangan para tamu termasuk kwartet ini. Pesta ulang tahun yang megah karena yang merayakannya hari ini tepat berusia 17 tahun. Belum lagi mengingat keluarga ini memiliki lahan di Lembang yang menjadi tempat wisata.
Acara belum dimulai ketika Firli datang. Ia sempat menemukan Rai tengah berdiri di tengah ruangan untuk menyambut tamu. Dia sangat tampan dengan head to toe berwarna hitam. Rambutnya ditata rapi dengan belahan di tengah.
"Rai, selamat ulang tahun," ucap Firli sambil menepuk bahu Rai. Laki-laki itu berbalik menemukan Firli di depan matanya lalu tersenyum senang. Firli menyerahkan kotak kecil berisi jam tangan berwarna perak. "Panjang umur Kakakku!"
"Ya Tuhan, percis seperti Raya," Mami Rai hampir saja menjatuhkan gelas cocktail di tangannya.
Dulu Firli pernah melihat foto Raya. Mereka memang terlihat mirip walau Raya memiliki tubuh langsing. Sayang usianya tidak lah lama. Kepergian Raya membuat keluarga Abiyapta bersedih hingga menjual rumah dan pindah ke rumah ini.
Tak banyak yang Firli bahas dengan Rai dan Maminya. Acara segera dimulai dan Rai harus segera naik ke panggung.
"Fir, Angie ngapain sih nyari lo?" tanya Ghea khawatir. Baginya sudah cukup ia berhadapan dengan Arlitha, tak perlu Firli harus melawan Angie juga.
"Apalagi yang dia mau kalau bukan cowok paling ganteng di SMA kita," jawab Firli. Rasanya Ghea ingin menulis nama kedua wanita itu dalam dead note. Masalahnya lagu-lagi karena laki-laki. Arlitha tak ingin Putra dekat dengan Ghea karena mereka pernah pacaran dan sekarang Angie menginginkan Rai dari Firli.
"Mungkin mereka takut berubah buruk rupa kalau cowok ganteng di sekolah pacara sama cewek jelek kayak kita," celetuk Nana ikut dalam obrolan.
Β
πππ
Β
Seluruh tamu pesta menempati kursi yang tersedia pada setiap meja. Elsa duduk di samping Misyel sementara Firli, Nana dan Ghea sengaja membuat barisan kursi di dekat panggung tanpa mematuhi hasil kerja para WO mengatur tempat duduk tamu.
Acara pertama dibuka dengan sambutan dari Papa dan Maminya Rai, kemudian Rai sendiri seperti biasa hanya mengucapkan terima kasih. Wajah tampannya tak membantu memberikannya kepercayaan diri. Setelah itu acara puncak dimulai ketika MC meminta tamu pesta menyanyikan lagu ulang tahun dan Rai untuk meniup lilin.
Ketika itulah sayatan lain menghiasi hati Firli. Rai meminta Gladis naik ke atas panggung untuk menemaninya. Mereka berdua dengan serasi meniup lilin bersama dan seolah sudah direncanakan, keduanya memakai pakaian serba hitam. Linangan air mata membasahi mata Firli. Meskipun seminggu telah berlalu dan ia tahu hal ini bisa terjadi, Firli masih tetap merasakan sakitnya.
****oh mengapa tak bisa dirimu
yang mencintaiku tulus dan apa adanya
aku memang bukan manusia sempurna
tapi ku layak dicinta karena ketulusan ***
πΆπΆ Pazto-Tanya Hati*
Firli mengusap matanya dengan punggung tangan. Ia seperti berada di dimensi lain dimana tak bisa merasakan kebahagian yang bertebaran di ruangan ini. Nana menggenggam tangannya dan mengangguk seakan meyakinkan Firli bahwa semua akan berjalan dengan baik.
Rai memotong kue dan membaginya dalam beberapa potong, pertama ia menyuapi kedua orang tuanya kemudian Gladis. Wanita itu yang dulu terlihat seperti asing bagi Rai sekarang menjadi sangat penting. Dia berada di tempat yang bahkan tak bisa Firli raih.
Pesta dansa dimulai. Semua bersama dengan pasangan masing-masing. Seorang pria bernama Gama mengajak Nana berdansa. Hal yang mengejutkan karena Gama masuk daftar pria populer di sekolah. Elsa tentu dengan Misyel, mereka lengket seperti terkena cairan lem.
Tinggalah Ghea dan Firli di sana meratapi nasib mereka yang menyedihkan. Jujur meskipun ia sering bertengkar dengan Putra sebenarnya Ghea belum mampu menggantikan Putra dengan pria lain.
"Masa kita harus dansa berdua?" canda Ghea. Firli tertawa. Ia melihat ke sekitar ada beberapa laki-laki yang terus melirik ke arah teman tomboynya itu. Firli nyengir kuda, malam ini kecantikan Ghea benar-benar kelewatan. Jika saja ia mau dandan, sebenarnya ia lebih cantik dari pada Arlitha.
"Salah lo dari tadi ada yang ngecengin malah di pelototin!" Firli menoyor jidat Ghea.
"Nah lo diajak si Janed malah ogah-ogahan," balasnya. Tawa pecah diantara mereka.
Mata Firli terpaut ke arah Rai yang tengah berdansa dengan Gladis. Lebih baik laki-laki itu bersama wanita lain dibandingkan harus menjalani cinta terlarang dengan Firli. Semoga sikap Gladis berubah. Sekarang Firli percaya mitos cinta pertama memang tak pernah sampai. Ia merasakannya sendiri dengan Raihard Abiyapta.