
Sibuknya toko buku siang itu, Ghea terlibat di dalamnya. Ia lebih tertarik dengan novel-novel yang memiliki judul seputar percintaan anak remaja. Buku-buku yang konon telah dibaca oleh pengguna platform kepenulisan hingga jutaan orang dan menjadi pembicaraan diantara remaja-remaja muda yang masih duduk di bangku sekolah.
Seperti biasanya toko buku tidak seramai pasar. Hanya terdengar sayup-sayup lagu berbahasa Inggris menghangatkan suasana. Ghea terpikat pada sebuah buku yang bercerita tentang kisah percintaan seorang gadis dengan ketua OSIS. Nana dan Elsa sudah memiliki buku yang sama, hanya Ghea yang belum. Ia hanya terlalu malu mengakui jika dirinya menyukai buku teenlit semacam itu. Maklum selama ini Ghea hanya dikenal sebagai seorang perempuan yang menyukai olahraga.
Setiap kali berpindah rak Ghea selalu menyempatkan diri untuk memeriksa, takut seseorang yang mengenalnya menemukan ia disana. Apalagi di tangannya sudah ada 3 buku yang rata-rata dibaca oleh perempuan-perempuan muda yang sedang dimabuk cinta. Bisa jatuh harga diri Ghea sebagai wanita tomboy di sekolahnya.
" Ngapain lu di sini?" tanya seorang pria membuat Ghea terkejut. Hampir saja gadis itu menjatuhkan semua buku di tangannya. Belum lagi melihat wajah pria yang begitu dikenalnya kini ada di hadapan matanya.
"Suka-suka gue! Ngapain lu urus urusan gue!" protes Ghea sinis.
Namun Putra terpaku pada buku-buku yang berada di tangan gadis itu. Pria itu tertawa renyah. "Sekarang lu doyan baca yang begituan?" tanya Putra dengan nada meledek.
Ghea memanyunkan bibirnya sambil memandang Putra dengan tajam. "Emang masalah ya buat lo?" Kenapa juga dari sekian banyak murid di sekolahnya ia harus bertemu dengan pria ini.
"Bukannya Lo bilang cerita kayak gitu lebay?" Putra mengingatkan.
"Itu dulu lain sekarang!" Ghea tak mau kalah. Gadis itu menabrak Putra kemudian melangkah pergi. Namun Putra tak ingin melepaskannya begitu saja. Ya terus membuntuti gadis itu. "Ngapain sih ikut-ikutan gue?" tegur Ghea. Putra menggeleng.
"Sudah pergi sana! Lo Nggak kapok gua pukulin waktu itu?" usir Ghea.
"Jadi lo jadian sama si Evano?" tanya Putra tiba-tiba.
"Jadian atau nggak Apa urusannya sama lo? Lo 'kan bukan siapa-siapa," Ghea tidak terima.
"Gue kasih tahu dia bukan pria yang baik," tekan Putra.
Ghea memutar kedua bola matanya. Ia mendengus dan merasa geli mendengar ucapan pria itu. "Bukannya di sini lo yang gak baik?" Sindir Ghea.
Putra meraih tangan Ghea. Ia tatap kedua mata itu lekat-lekat. " Gue memang nggak baik dan gue memang salah. Namun kejahatan gue dan Kesalahan gue tidak sebesar dia," tekan Putra.
"Gue memang enggak bisa kasih tahu tapi suatu hari lo harus tahu. Sebelum itu lebih baik lo jauh dia," lagi-lagi Putra memberikan penekanan.
Ghea menggelengkan kepalanya. "Tidak ada penjelasan, tidak ada bukti artinya hoax," ucap Ghea tak percaya.
"Terserah lo Gue udah pernah ngasih lo. Jadi kalau suatu hari nanti lo kenapa-napa gue nggak akan terlalu merasa bersalah," balas Putra. Laki-laki itu berjalan pergi meninggalkan dia di sana dengan banyak pertanyaan. Ghea hanya bisa menatap punggung pria yang pernah ia cintai akhirnya menghilang di antara lorong-lorong yang tercipta oleh barisan rak rak buku.
Lebih baik Ghea fokus pada tujuannya datang ke toko ini. Putra dan pacarnya adalah jenis yang sama. Apa yang dia katakan pasti hanya berupa hasutan. Apalagi Ghea selama ini mengenal Evano dengan baik. Tidak mungkin Jika ia lebih jahat dari pada Putra yang notabene adalah seorang pria yang memutuskannya dan berselingkuh dengan perempuan lain.
Namun perasaan tidak sejalan dengan pikiran. Di saat pikiran Ghea berusaha untuk tidak percaya dengan perkataan Putra justru hatinya merasa akan sesuatu yang tidak enak. Ghea mengambil ponsel dari saku celananya kemudian mengecek chat room di mana ia dan Evano sering ngobrol. Terakhir kali tadi malam Evano mengiriminya pesan. Namun tidak lama ia berhenti menjawab pesan dari Ghea. Tidak jelas apa alasannya seperti itu. Hanya saja ketika Gheamenelponnya, Evano tidak mengangkat telepon itu.
Evano memang sering memutuskan obrolan tanpa berpamitan. Tidak lama ketika dia memulai obrolan lain dia akan beralasan Jika ia tiba-tiba sibuk. Kesibukan apa yang dialami seorang anak SMA hingga datang secara tiba-tiba? Belum lagi kejanggalan-kejanggalan lain yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Ghea berusaha berpikir positif, apalagi teman-teman pria lain menilai Evano sebagai pria yang baik.
Sudahlah Ghea ingin pulang. Gadis itu berjalan ke mesin kasir lalu membayar 3 buku yang ia pilih. Ketika berjalan ke pintu keluar Ghea dikejutkan dengan pemandangan hujan di luar sana. Jika ia menerobos tentu ia akan basah juga walau jarak pintu masuk dengan mobilnya tidak terlalu jauh. Hujan ini terlalu besar belum lagi ukuran angin yang datang bersamaan dengannya.
Ah, yang penting buku yang baru ya beli tidak basah. Akhirnya Ghea lebih memilih memeluk erat erat buku yang baru ia beli dan terbungkus plastik lalu berlari menuju parkiran tempat mobilnya beristirahat. Baru beberapa langkah Ghea dikejutkan dengan pemandangan sebuah jaket merah yang mengerudungi kepalanya.
Ghea pernah melihat jaket itu, jaket yang dipakai pria yang ia temui di dalam toko buku tadi. Ghea mendongak ke arah samping dan menemukan Putra di sana rela kehujanan demi memayunginya dengan jaket merah yang tadi Putra kenakan.
"Lo?" bibir Ghea rasanya kelu melihat semua itu. Adegan ini yang pernah terjadi di masa lalu, Ia pikir tidak akan pernah terulang kembali.
"Jangan banyak ngomong! Cepat buka pintu mobilnya, nanti lu basah kuyup!" titah Putra.
Lekas Ghea membuka kunci mobil dan menarik pintunya agar terbuka. "Masuk!" titah Putra. Ghea masuk ke dalam mobil dan tiba-tiba Putra langsung menutup pintu mobil itu sementara ia langsung berlari menembus hujan menuju mobilnya sendiri.
Ghea mengangkat sebelah alisnya. Ia heran dengan sikap Putra kali ini. Apa ini yang namanya taktik perang terbaru di mana musuh berpura-pura menjadi baik. Tidak juga, seingat Ghea Putra memang anak yang baik sebelum ia mengenak Arlitha dan tergoda oleh kecantikan gadis itu.
Ah, Ghea bingung! Rasanya hari ini seperti mimpi. Tiba-tiba mobil Putra berhenti di depan mobilnya. Pria itu membuka kaca mobil tak peduli hujan melewati jendela mobil itu dan masuk ke dalamnya. Ia melambai sambil tersenyum. "Dasar aneh!" umpat Ghea sambil memukul kemudi mobilnya.