
"Andrean?" panggil Tania melihat pria berdarah campuran itu tengah sibuk dengan bahan makanan di dapur.
Andrean berbalik. "Ada apa, Tan?" tanya Andrean. Tania menghampirinya dan melihat-lihat disekitar kabinet dapur. "Kamu mencari apa?" tanya Andrean heran dengan sikap Tania.
"Biar aku bantu kamu," tawar Tania. Akhirnya perempuan itu menemukan pisau di meja dapur. Ia mengambil sepotong daging dan mencoba memotongnya. Namun baru beberapa potong, Andrean yang melihat kontan tertawa. "Ada yang salah?" tanya Tania bingung.
"Kamu itu lucu sekali," komentar Andrean membuat Tania tersipu malu. "Jangan sok ingin membantu aku masak sementara cara memotong daging saja kamu tidak tahu." Sayang pujian itu ternyata disusul ledekan.
Tania menatap daging yang ia potong dan merasa tidak ada yang salah. "Hei, Nona! Jika hendak memotong daging itu, kamu harus memotong melawan seratnya. Sehingga dia empuk. Bahkan kalau dipikir pakai logika juga bisa," jelas Andrean sambil menunjuk apa yang dimaksud serat daging. Tania mengangguk-angguk.
"Ok, Pak Bos! Aku mengerti," ucapnya. Tania mulai melakukan apa yang diinstruksikan Andrean. Sempat ada jeda di antara mereka. Tanpa sadar Tania menatap Andrean dengan lekat. Jantungnnya berdebar keras sekali. Apa Andrean akan mendengar degupan jantung itu? Ada rona muncul di pipi Tania tat kala Andrean terlihat tersenyum entah karena memikirkan apa. "Tampannya," batin Tania.
"Aw!" gadis itu tiba-tiba memekik kesakitan. Ia lihat bagian sakit di tangannya dan kaget melihat jarinya sudah berdarah. Bukan hanya Tania, bahkan Andrean juga ikut kaget. Kontan pria itu meraih tangan Tania dan menariknya ke wastafel. Andrean membuka keran dan membiarkan tangan Tania teraliri air.
"Aku ambil dulu kotak P3K." Andrean bergegas menuju bagian depan pintu dapur di mana di samping pintu itu tergantung kotak kaca tempat obat-obat P3K disimpan. Andrean membawa plester, kapas dan antiseptik.
"Bagaimana?" Ia mengecek darah dari tangan Tania yang sudah berhenti mengalir. Setelah itu Andrean mematikan keran. Ia membasahi kapas dengan revanol lalu membasuh luka di tangan Tania dengan itu. Sama sekali tidak ada rasa sakit yang Tania rasakan. Ia malah terpaku dengan wajah Andrean di depannya.
"Sudah," ucap Andrean begitu selesai memasang plester di jemari Tania. Ia kembali pada tempatnya semula. "Kau kembali saja. Memasak bukan bakatmu," ledek Rean lagi. Namun Tania tidak merasa sakit hati. Ia justru senang dan menganggap itu sebagai pernyataan kedekatan.
"Helen kemarin menanyakan alamat rumahmu lagi," Tania membuka topik sambil duduk di kursi dapur. Andrean tidak bergeming. "Kau memang tidak suka padanya, ya?" tanya Tania.
"Sejak dulu aku tidak punya perasaan apapun padanya. Aku lebih suka gadis mungil yang lucu dan manja," tegas Andrean.
Tania menunduk malu. Ia ingat Andrean pernah bilang jika ia adalah wanita yang mungil dan manja. Tidak tahu mengapa kalimat tadi terdengar seperti kode di telinga Tania. "Kamu pernah mencoba berbicara pada Helen dan mengatakan jika kamu tidak suka padanya. Kamu juga bisa katakan padanya jika ada wanita lain yang kamu suka."
Andrean mengangguk. "Bukan hanya pernah tapi sering. Helen itu bukan orang yang mudah dihentikan. Ia lebih seperti makhluk egois yang tidak akan berhenti sebelum apa yang ia inginkan menjadi kenyataan."
Kali ini Tania mengerti. Mungkin maksud Andrean, Helen itu lebih seperti manusia yang penuh obsesi. "Kenapa ia bersikap demikian?" tanya Tania.
"Karena sejak kecil terlalu dimanja. Papa dan Mamanya selalu menuruti kemauannya. Sehingga menjadi kebiasaan."
"Uhuk! Jangan berduaan, itu bahaya!" goda Ed yang muncul di depan pintu. Andrean dan Tania kaget lalu berpaling pada Ed. Pria itu masuk sambil menari-nari lincah. "Aku tidak tanggung jawab kalau sampai kalian jadian."
Tania yang tidak terima apa yang dikatakan Ed kontan bangun lalu memukul pria itu. Ed menyeringai kesakitan. Ia balas memukul Tania. "Jangan pura-pura jual mahal begitu!" ledek Ed. Tania kembali melancarkan serangan. Ed yang berusaha bertahan tanpa sengaja mendorong Tania hingga terjungkal. Andrean yang berada di belakang gadis itu kontan menahannya agar tidak jatuh. Tania kini ada di atas pangkuan Andrean. Sejenak mereka saling tatap hingga tak berkedip sekalipun.
***
Wajah Firli berseri melihat seorang bayi terbaring di atas kasur mungil yang disimpan di dalam box pengaman. Wajahnya sangat mirip dengan salah satu temannya meski tidak semua bagian. "Garis alis dan matanya lebih mirip Putra," komentar Firli.
Tawa terdengar dari mulut Ghea. Ia usap perut Firli. "Dedek bayi yang di sini mirip siapa nanti?" tanya Ghea.
Pertanyaan itu membuat Firli tersipu malu. "Kemarin aku periksa dan bayinya mirip sekali dengan Andrean. Bahkan keduanya," jawab Firli nampak senang.
"keduanya?" tanya Briana tidak mengerti kalimat Firli.
"Bukannya kemarin Firli sudah bilang kalau bayinya kembar?" Nana mengingatkan. Briana menggaruk kepalanya meski tidak gatal. Sepertinya kali ini ia lupa lagi. "Makanya kau ini jangan terus memikirkan Rai. Bebaskan saja pria itu, kalau cinta pasti akan kembali lagi padamu," nasehat Nana.
Firli mengangguk. "Mungkin Rai masih bingung. Tapi terlihat jelas ia suka padamu," timpal Firli mencoba meyakinkan Briana. Sementara itu Briana menunduk. Ia mengingat kejadian di restoran saat ia nekat mencium Rai. Berharap pria itu akan berubah, Rai malah pergi meninggalkannya begitu saja.
"Masalahnya ada pada Gladis. Ia terus saja menempel seperti ulat bulu pada Rai," komentar Elsa. Ghea menggendong bayinya karena putri kecilnya itu tiba-tiba menangis. Elsa nampak geli melihat Ghea menyusui bayinya. Ia tidak bisa membayangkan teman mainnya sejak SMP itu sekarang lihai menjadi busui.
"Siap-siap kau, Fir. Anak satu saja sudah sangat membuatku lelah, apalagi dua. Mana suami kamu jauh lagi di luar sana," ucap Ghea menakuti.
Firli menggeleng. Ia tidak akan terpengaruh ucapan Ghea meski pada kenyataannya, melihat Ghea ia juga takut sendiri. "Melahirkan itu sakit, ya?" tanya Firli. Ghea mengangguk. Firli sudah sering merasa kontraksi. Dokter bilang itu hanya sepuluh persen dari nyeri persalinan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya yang seratus persen.
"Pokoknya kamu harus tekankan agar Andrean ada ketika kamu melahirkan," tambah Ghea.
Mendengar itu, Firli sumringah. "Sebentar lagi Andrean pulang, lho!" pamernya. Wajah Firli bahkan merona dan senyumnya terkembang. Ia mengusap perutnya. "Nak, jangan nendangin perut mamah terus. Nanti ada Papa, kalian kena marah," ancam Firli.
Mendengar itu Briana tertawa. "Fir, itu anak Andrean. Pasti mereka sama-sama menyebalkannya dengan dia!" ledek Briana. Firli mengambil bantal dan meleparkannya pada Briana. Namun tidak lama Firli menyeringis kesakitan lagi. Ia merasa ditekan dari dalam. Bayinya pasti menendangnya lagi, tidak tahu yang cantik atau yang tampan.
"Tuh, kan! Belum apa-apa sudah terbukti!" ledek Briana lagi. Ia terlihat senang karena menang dalam perdebatan.
😘😘😘😘
Gimana? Sudah cukup buat kesel belum? 😁
Sabtu dan Minggu aku libur di MT, ya. Sampai ketemu hari Senin. Mau nabung Crazy Up di WP dulu 😁