Highschool Wife

Highschool Wife
Kecelakaan



Wajah Andrean dan Firli masih memerah bahkan setelah ceramah panjang Bunda dan Ayah. Baru kali ini dalam hidupnya Rean merasa bodoh. Benar kata Ayah, ilmu tentang hubungan suami istri meski terkesan "vulgar" tapi wajib dipelajari oleh anak seusianya. Bukan masalah jika tujuannya justru untuk melindungi diri agar tidak sembarangan main berburu.


Bagian paling memalukan adalah saat Ayah bilang, " Bahkan kamu bisa gol di hari pertama itu luar biasa. Ayah saja dulu harus melewati beberapa kali." Itu sama sekali bukan prestasi yang patut dibanggakan bagi Andrean.


Malam ini tidak seperti biasanya. Firli dan Rean justru tidur dengan saling membelakangi. Bahkan bantal lebih nyaman untuk dipeluk malam ini.


"Bunda suruh kamu beli pil KB?" tanya Andrean.


"Hu-uh," jawab Firli singkat.


"Ayah bilang lebih aman pakai K****m karena tidak ada efek samping pada tubuh kamu," ucap Andrean malu-malu. Ia tidak ingin membahas ini, tapi Ayah bilang akan lebih baik jika dibahas dengan pasangan.


"Bunda bilang pil itu juga efek sampingnya tidak seberapa. Sekarang lebih modern dan lebih aman. Namun aku malu membelinya," jelas Firli.


Rean mengangkat selimut. "Minta pada Bunda saja," sarannya.


Firli menggeleng. "Aku juga malu minta pada Bunda," tolak Firli. Rean bangkit dan memandang istrinya.


"Masa aku harus menahan jika mau?" protesnya.


Firli berbalik. Ia lumayan kaget dengan reaksi suaminya. "Kenapa ku saja yang meminta. Bukannya kamu yang tidak bisa menahan?"


Ucapan Firli membuat Andrean mati rasa. Pria itu kembali tidur membelakangi istrinya.


Malam semakin larut. Mudah bagi Firli untuk tertidur pulas, tapi bagi Rean yang memiliki otak kanan paling dominan membuatnya terganggu dengan pikiran akan kelanjutan hubungan "kasur" mereka. Ia bangun pelan-pelan dan berjalan ke meja belajar. Syukur laptopnya bukan benda yang mengeluarkan suara gaduh. Ia mulai mempelajari apa yang harus dipelajari tentang seksologi.


Sedikitnya ia mendapat pencerahan. Bahkan ia memberanikan diri bertanya pada teman-temannya di luar negeri. Meski belum menikah anak-anak muda di sana sudah banyak yang melakukan hal semacam ini. Tidak kaget jika mereka justru lebih handal daripada Rean.


Melakukan penelitian seperti ini justru membuat panggilan jiwanya datang. Andrean menengok ke belakang dan melihat tubuh istrinya yang terbaring. Ia mengusap wajah. "Apa yang aku pikirkan, sih?" Tangannya menepuk kepala untuk menyadarkan diri.


Sama sekali itu tidak menolong. Benar kata Ayah, awalnya itu hanya sekedar penasaran kemudian jadi kebutuhan.


Rean menutup laptopnya. Ia hanya harus berhati-hati, bukannya harus menahan diri karena memang sulit. Bahkan meskipun pikiran sudah memberi instruksi tahan, tubuhnya tetap terpancing untuk naik ke atas tempat tidur dan menyingkap selimut yang menutupi tubuh mungil Firli.


Gadis itu menggeliat ketika selimutnya disingkap karena kedinginan. Namun justru itu menjadi panggilan alam bagi Andrean. Ia mulai nakal menciumi lengan Firli dari punggung tangan hingga leher. Bukan sekali kepala Andrean ditoyor Firli. Bahkan gadis itu akhirnya terbangun dan mendorong tubuh Andrean.


"Aku tidak mau!" tolak Firli. Wajahnya memerah. Ia belum siap melakukannya lagi. Bahkan yang pertama saja membuatnya malu setengah mati.


Lagi-lagi Firli menggeleng. "Pokoknya tunda sampai aku dapat pil KB. Aku tidak mau hamil sekarang," tolak Firli tegas.


Mendengar kata hamil sama sekali tidak membuat Andrean takut. Lagipula itu tidak memiliki efek baginya. Rean tersenyum jahil. Ia menghitung mundur dari lima dan dalam hitungan satu, ia tindih tubuh Firli dengan cepat. Dalam keadaan ini Firli jelas tidak berdaya. Jika ia teriakpun malah akan membuatnya malu. Andrean mungkin akan masa bodoh. Terlihat jelas bahkan di wajahnya sudah seperti serigala lapar.


Ia mulai menghujani Firli dengan ciuman. Tidak seperti malam pertama, Rean lebih fokus menikmati bibir Firli dengan bibirnya sementara tangannya yang menjelajah mencari bagian sensitif yang membuat istrinya ikut mendapat panggilan alam.


Satu per satu disela helaan napas, Andrean mulai melepas pakaian Firli. Dari situ ia mulai turun ke dada dan bertingkah laku seperti bayi besar. Rean berhasil karena Firli mendapat panggilan yang sama. Gadis itu mulai bernapas berat dan sesekali mengeluarkan suara lenguhan.


"Pelan-pelan!" ucap Firli ketika Rean meninggalkan tanda merah di dadanya. Ia sedikit kesakitan tapi menikmati bagian itu. Hingga akhirnya Rean menghujamkan bagian terpenting ke dalam tubuh Firli. Kedatangan pertama memang sedikit perih, mungkin karena efek malam kemarin. Namun selebihnya Firli ikut menikmati.


Andrean baca dari artikel di internet. Ternyata kunci keberhasilannya kemarin adalah membuat Firli naik hingga ke atas puncak panggilan sebelum mulai melakukan hubungan nyata. Hal itu membuat tubuh Firli nyaman sehingga posisinya siap untuk dirasuki.


"Banyak yang kesakitan setelah malam pertama tahu kenapa?" tanya Andrean seraya memindahkan posisi Firli agar menelungkup. Rean memegang pingga istrinya. "Karena kuncinya ada di godaan pertama." Andrean menjawab pertanyaannya sendiri sambil terbata-bata karena tidak kuat menahan kenikmatan.


Bahkan keadaan itu berlangsung lebih lama daripada kemarin. Hingga dibagian akhir pelepasan, Andrean lupa dengan strategi yang ia rancang. Semua tumpah di dalam. Bodohnya, Firli juga lupa akan hal itu.


Mereka berpelukan sambil saling mengusap wajah. Tatapan mata keduanya saling mengunci. "Capek?" tanya Andrean. Firli mengangguk. "Tidurlah! Besok ujian," sarannya.


"Kalau tahu kenapa menyuruhku bergadang?" tanya Firli.


Andrean tertawa. "Katanya ini paling mujaran untung menghilangkan stress," jawabnya terdengar konyol hingga membuat Firli ikut tertawa.


Tidak hanya malam ini, seminggu ujian berlalu dan seminggu pula mereka mengandalkannya untuk menghilangkan stress. Pil KB menjadi andalan utama walau kadang Firli sering mengalami insiden lupa.


"Ah, tidak apa mungkin kalau libur sehari," ucapnya enteng sambil menyimpan pil itu di laci meja belajarnya di hari terakhir ujian.


"Apa?" tanya Andrean yang terbaring di atas tempat tidur. Ia kewalahan karena hari ini ujian PJOK dan ia memilih materi basket.


"Bukan apa-apa. Ini hari terakhir ujian. Minggu depan kia sekolah bebas tanpa pelajaran. Mau rekreasi?" tawar Firli.


Andrean kontan bangkit dan duduk di sisi tempat tidur. Ia memandangi Firli yang masih duduk di kursi belajar. "Bagaimana kalau menginap?" seru Andrean. Firli mengangkat sebelah alisnya. "Ayah punya resort di Anyer. Kita menginap di sana. Bukankah sejak menikah kita belum pernah bulan madu?"


Mendengar itu Firli tersenyum. "Bulan madu?" pikirnya. Ia ingat adegan-adegan romantis dalam film, mulai makan malam dengan cahaya lilin, berenang bersama, berpegangang tangan di pinggir pantai dan menikmati suasan kamar penuh dengan bunga. "Aku mau!" jawab Firli.