Highschool Wife

Highschool Wife
Korban Kecemburuan



"Bunda!" sapa Briana. Ia berlari menghampiri Anita yang sedang duduk di sofa ruang santai rumah utama. Briana bahkan memeluk Anita dengan erat. Setelah Briana, giliran Firli yang memeluk Anita.


"Andrean mana?" tanya Anita bingung hanya melihat Firli pulang dengan Briana.


Briana memutar bola matanya. "Biasa, laki-laki jika sudah ada teman lupa rumah," jawab Briana santai. Ia duduk di samping Anita sementara Firli duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka.


"Bagaimana di sekolah?" tanya Anita pada Briana. Firli hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. Anita pasti akan marah jika tahu Briana sudah mengajak orang lain bertengkar.


"Tadi aku hampir menampar perempuan iblis!" celetuk Briana membuat Firli kaget. Firli menepuk jidat. Harusnya ia membuat kesepakatan untuk menyembunyikan hal itu dari mertuanya dengan Briana. Anita menatap Firli, tapi menantunya hanya mengangkat kedua bahu. "Baru keluar kelas ada wanita yang menghadang Firli. Bahkan sampai berani membentak," adu Briana.


Firli menyesal tidak mendengar nasehat Rean jika Briana sangat blak-blakan. "Benarkah?" tanya Anita. Firli nyengir kuda.


"Dia menuduh Firli menjadi penyebab ia dan pacarnya putus," lanjut Briana. Anita semakin menatap Firli dengan wajah heran. "Padahal pacarnya itu bukan pria baik. Bahkan baru pertama kali melihat, ia sudah mencoba menarik perhatianku."


Firli hampir menjatuhkan cangkir teh yang baru saja disediakan pelayan untuknya.


"Dia berani menggoda calon menantuku?" tanya Anita. Firli menggeleng-geleng.


"Tenang, Bunda! Revan masih jauh lebih tampan," timpal Briana.


Sepertinya Firli mengerti kenapa Briana sulit mencari bergaul. Bukan karena pemalu, tapi terlalu percaya diri. "Rean pergi kemana, Fir?" tanya Anita.


"Katanya ingin melihat kuda milik Misyel, pacaranya sahabat Firli. Seperti Andrean memang sangat tertarik dengan kuda tunggang," jawab Firli.


Anita mengangguk-angguk. Di London Andrea memang ikut kelas menunggang kuda. Bahkan sempat meraih kejuaraan bersama dengan Lucas, kuda coklat miliknya yang sampai sekarang masih berada di London.


"Lebih baik kau larang Andrean ikut klub berkuda di sini. Helen ikut klub yang sama." Briana memberikan Firli peringatan. Firli mengedip-ngedipkan mata. Andrean selalu latihan berkuda setiap Sabtu pagi dan ia tidak pernah bilang Helen satu klub dengannya. Firli meremas tangannya dengan kuat.


"Jangan bilang kau tak tahu," lanjut Briana. Firli mengangguk. Briana menepuk pundak Anita. "Bun, jangan lindungi Andrean dari istrinya hari ini. Paling besok dia tidak akan mausk sekolah karena sakit."


Mendengar itu membuat Anita tertawa. Lain dengan Firli yang masih kesal. "Ia benar-benar harus memberikan suaminya perhitungan. Helen itu seperti ulat keket. Dia menempel pada Rean," Briana semakin memanasi.


***


"Helen apa kabar?" tanya Firli ketus ketika Andrean baru pulang pukul delapan malam.


Rean yang sudah bersiap masuk ke kamar mandi langsung berhenti lalu berbalik. "Kenapa tanya padaku?"


Firli turun dari tempat tidur. Ia lipat kedua tangannya di dada. "Bukannya kamu ikut klub berkuda dengannya?" todong Firli.


Andrean mengangkat salah satu ujung bibirnya. "Briana!" umpat Andrean dalam hati. Ia berjalan menghampiri istrinya dan mengusap punggung wanita itu. "Anggota klub ada banyak. Bukan artinya aku bisa bertemu dengannya walau kita satu klub," jelas Andrean.


Firli bisa melihat raut dusta di wajah suaminya. "Kalau kau macam-macam lagi, jangan salahkan jika aku buat perhitungan lagi dengannya!" ancam Firli. Ia mendorong tubuh suaminya kemudian naik ke atas tempat tidur.


"Dia berani berbohong!" keluh Firli. Gadis itu sampai menggigit selimutnya.


Disela rasa kesal, Firli dikejutkan dengan suara dering ponsel Rean. Ada nomor tanpa nama di sana. Sepertinya Rean tidak menyimpan kontak itu. Iseng, Firli angkat telponnya.


"Rean? Bagaimana tadi? Kamu suka kuda yang aku perlihatkan?" tanya suara dari seberang sana tanpa memastikan siapa yang diajak bicara.


Firli manyun sambil bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya. "Ini siapa?" tegur Firli setelah mendengar suara wanita di balik telpon itu.


"Tidak sopan kamu buka telpon suami kamu!" bentak penelpon. Firli mendengus. "Tidak sopan kamu menelpon suami orang malam-malam," balas Firli.


"Andrean mana?" tanya orang itu semakin menjadi.


"Mati!" jawab Firli lalu menutup telpon itu. Ia bahkan membanting ponsel Andrean ke lantai. Bersamaan dengan itu, Andrean keluar dari kamar mandi. Ia mematung menatap ponselnya meluncur ke atas lantai dingin yang keras. Bahkan ponsel mahal dengan harga puluhan juta tiada arti melawan energi kemarahan seorang istri dan tangguhnya lantai marmer.


"Ponselku," ucap Andrean meratap. Ia berlari dan meraih ponselnya yang langsung mati dan memiliki retak di layar amolednya. "Firli!" bentak Andrean kesal.


Firli tidak mau kalah. Ia ambil bantal dan langsung ia lempar pada suaminya. "Berani kamu selingkuhi aku!" bentak Firli sambil menangis.


Melihat air mata istrinya memaksa Andrean untuk menurunkan emosi. Ia sudah cukup melihat keadaan mereka saat sama-sama memanas hingga tak saling bicara.


"Ada apa ini?" tanya Andrean dengan nada lembut sambil membawa ponselnya dan menyimpan benda itu di atas nakas. Firli mengambil bantal dan memeluknya erat. "Jangan marah dulu. Coba jelaskan."


"Kenapa ada perempuan menelponmu? Kau bahkan tidak menyimpan kontaknya karena takut aku temukan!" omel Firli sambil menangis.


Rean mengusap rambut istrinya. "Helen? Aku sudah memblokir nomornya berkali-kali. Ia bahkan mengganti nomor lagi. Tidak perlu dipikirkan, dia memang begitu. Semakin kau terpancing semakin ia senang," jelas Andrean.


"Paling tidak kau marahi dia!" tekan Firli.


Andrean menggeleng. "Memang kalau aku marahi dia akan mundur? Helen itu nekat. Kamu pikir dia ikut klub berkuda untuk apa?"


Firli terdiam. Briana benar, Helen akan selalu berusaha menempel pada Andrean. "Kalau begitu kau jangan ikutan saja," larang Firli.


Andrean mendekatkan keningnya dengan kening istrinya. "Itu hobiku. Mana bisa aku menolak. Lagi pula, aku sudah berapa kali tekankan. Tidak ada yang boleh memisahkan aku dan kamu," tekan Andrean.


Firli mengangguk. "Sekarang bagaimana ponselku?" tanya Andrean. Firli sempat melihat ponsel yang sudah pecah di atas nakas. "Layar itu dikenal dengan ketahanannya yang luar biasa. Bahkan digores pisau tajam saja tahan. Sekali kau banting langsung pecah." Andrean menggeleng-geleng.


Firli manyun. Ia turun dari atas tempat tidur lalu berjalan ke arah lemari besar tempat laci-laci dan pajangan. Ia membuka salah satu laci yang kuncinya menjadi bandul kalungnya. Dari sana ia mengeluarkan sebuah buku. Firli berjalan kembali ke arah tempat tidur dan memberikan buku itu pada Andrean. "Ini! Aku ganti dengan uang tabunganku," celetuk gadis itu.


Andrean tertawa geli melihat tingkah istrinya. Kemudian ia tarik tangan Firli hingga gadis itu jatuh ke pangkuannya. "Bayar dengan ini saja," ucap Andrean lalu mengecup bibir Firli sambil memeluk erat tubuh gadis itu.