
Ketika manusia sudah merasa kecewa, jiwanya menyimpan rasa sakit yang akan kembali ketika bagian luka itu muncul. Bahkan ketika harus berpapasan dengan Bapaknya sebelun masuk ke pengadilan, Firli lebih memilih berlindung di belakang punggung Abellard.
Handoko hanya bisa menatap putrinya dari kejauhan. Tak sekali punĀ Firli melirik ke arahnya kecuali tanpa sengaja. Itu pun setelah tanpa sengaja temu pandang, anak itu langsung berpaling.
Magda mendengus. "Anak kamu itu tidak sopan, ketemu ayahnya malah pura-pura tidak kenal," komentarnya. Handoko tidak menanggapi. Ia malah seakan mengiyakan ucapan istrinya.
Di dalam ruang penyidikan, baik Abellard dan Firli diberikan sekitar 50 pertanyaan. Gadis itu bisa menjawab dengan lancar sambil didampingi psikolog dan juga empat orang pengacara pribadinya.
"Ayah, Firli harap mereka tidak mengambil Firli," keluh gadis itu. Abellard menggeleng. Ia mengusap rambut Firli dengan lembut.
"Dilihat dari segi manapun, anda jauh terlihat seperti ayahnya, Monsieur," komentar salah satu staff di pengadilan melihat Firli membuntuti ayah mertuanya kemanapun. Abellard tersenyum.
"Sejak menikah saya selalu ingin memiliki anak perempuan. Namun malah dikaruniai dua anak laki-laki," timpal Abellard mengundang senyum diantara orang-orang yang bersamanya di ruang tunggu.
Namun kebersamaan itu lenyap ketika Handoko datang bersama Magda. Keduanya sempat menunduk di hadapan Abellard. "Saya ingin berbicara dengan putri saya," izin Handoko.
"Bicaralah di sini. Bukankah sudah ditekankan oleh pengadilan untuk meminimalisir tekanan yang Firli alami, lebih baik bicara secara terbuka didampingi psikolognya," tekan Abellard.
Handoko mendengus. "Memang bisa dijamin jika selama tinggal di rumah anda, putri saya tidak didikte yang macam-macam?" sindir Handoko.
Abellard mencoba menahan amarah mendengarnya. Ia masih duduk dengan tenang di samping Firli. "Saya tidak perlu mendiktenya. Dia sudah besar dan bisa membuat pilihan sendiri. Saya hanya bisa menyayanginya seperti menyayangi anak saya sendiri," timpal Abellard yang terasa seperti anak panah yang menerjang langsung ke jantung Handoko.
"Kasih sayang seperti anak anda sendiri tapi akhirnya anda malah nikahkan dia dengan paksa," komentar Handoko.
Firli mengepalkan tangannya. Apa saat seperti ini pantas untuk membahas itu, harusnya Bapaknya bersyukur disaat ia pergi tanpa tahu kemana, justru ada keluarga yang senang hati mengurus anaknya dan memberikan fasilitas mewah.
"Pertama, Firli dan Andrean menikah atas persetujuan ibunya dan juga kakek-neneknya. Kedua, mereka menandatangani dokumen pernikahan dengan sukarela. Ketiga, jka bukan saya yang menjaga anak ini, lalu siapa? Ayahnya sibuk mengurusi wanita lain." Akhirnya Abellard langsung mengeluarkan serangan tajam.
Abellard bangkit. "Jika kau benar ayahnya, pernah sekali saja berpikir bagaimana perasan anak ini? Ia melihat ayahnya jarang pulang dan bertengkar dengan ibunya setiap hari, tiba-tiba saja ayahnya pergi meninggalkannya karena wanita lain, kemudian ibunya bunuh diri. Saat itu jiwanya terguncang, ia hilang kepercayaan kepada orang dewasa. Satu-satunya yang bisa mendekatinya hanya Andrean." Abellard menggenggam tangan Firli yang masih duduk di sofa dengan erat.
"Sebagai ayah, harusnya bukan jalur hukum yang anda ambil. Cukup datang meminta maaf padanya dengan baik dan ajak ia bicara. Bukannya menakuti putri anda yang jelas sudah terguncang dengan surat gugatan," nasehat Abellard.
Handoko tertawa sinis. "Bagaimana saya mengajak ia bertemu jika selama bertahun-tahun anda menyembunyikannya dariku?" Bukannya sadar Handoko malah semakin menjadi.
"Apa yang anda cari? Putri anda atau warisannya?" sindir Abellard langsung membuat Handoko terdiam.
"Saya akan selalu melindungi apa yang harus menjadi haknya. Secara hukum, ibunya sudah memberikan hak asuh anak ini pada istri saya. Saya yakin jika ia sudah berusia delapan belas tahun, anda tidak akan repot-repot melakukan semua ini karena kesempatan anda menguasai warisannya hilang, 'kan?" todong Abellard.
Pria itu semakin dekat pada Handoko. "Selama suaminya masih ada, hubungan anda dengan Firli sudah putus. Dan pernikahan itu sudah resmi di mata hukum. Anda dengar sendiri, 'kan?" tekannya.
Pembicaraan sengit itu akhirnya selesai ketika mereka semua mendengar keputusan untuk sidang lanjutan minggu depan. Firli menunduk kecewa, beberapa lembaga perlindungan hak anak menyarankan agar Firli tinggal sementara bersama mereka. Jelas Firli menolak hingga menangis dan memeluk Abellard erat. Firli bahkan memohon agar tidak dipisahkan dengan ayah mertuanya.
Melihat hal itu menjadikan mereka yang melihat iba hingga Firli tetap bisa tinggal di rumah keluarga Freiz hingga keputusan sidang berikutnya keluar. Justru gadis itu semakin was-was. Di dalam mobil, gadis itu kembali menangis.
"Kenapa tidak langsung saja diputuskan agar Firli kembali ke rumah? Kenapa harus ada sidang lanjutan?" protes Firli.
"Nak, semua harus sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini," jelas Abellard.
Firli mengangguk-angguk. Bagian yang paling ia takuti adalah pernikahannya dengan Andrean. Jika sampai mereka dipaksa melakukan pembatalan pernikahan, lebih baik Firli mengamuk saja. Orang-orang dewasa itu sebaiknya juga tahu jika Firli juga memiliki perasaan. Wanita mana yang bisa dipisahkan dengan suaminya begitu saja.
Tiba di rumah, Firli berlari ke paviliun. Ia tidak menemukan Andrean di kamarnya. Firli melihat jam besar di sudut ruangan. Memang belum waktunya pulang sekolah.
"Padahal aku rindu Rean," keluh Firli. Ia menempelkan jempolnya ke layar ponsel dan secara otomatis layarnya terbuka. Fotonya dengan Rean saat di Lembang masih tersimpan sebagai wallpaper.
Tiba-tiba ia dikejutkan dengan pesan yang masuk melalui aplikasi chatting. Andrean mengirimkan sebuah foto, pemandangan di taman sekolah.
Rean: itu kamu
Firli : mana? Bunga?
Rean : No
Firli : kupu-kupu?
Rean: bukan
Firli : Matahari?
Rean : bukan juga. Masa kamu tidak lihat?
Firli : Dimana? Di foto ini, 'kan?
Rean : di hatiku
Firli senyum-senyum sendiri membacanya. Dasar Andrean! Di saat hati Firli sedih begini, dia bisa saja membuat Firli kembali tertawa.
Firli : Rean.
Rean : Apa?
Firli : Sekolah apa kabar?
Rean : Baik-baik saja katanya, karena ada Andrean di sini.
Firli mendengusn lagi-lagi Andrean mengeluarkan kelakarnya.
Firli : cepat pulang
Rean : kenapa?
Firli : aku kangen
Rean : aku pikir kamu istriku
Lagi-lagi Firli tertawa. Gadis itu meraih boneka di atas tempat tidur kemudian memeluknya erat. Firli jadi gemas sendiri. "Cepat pulang Rean, soalnya Firli akan peluk kamu erat sekali," batin Firli.