
Alunan musik orchestra membahana di ruang tamu keluarga Abiyapta yang sudah diubah menjadi tempat pesta. Sekarang bukannya hanya Elsa dan Nana, Ghea juga hilang tak tahu kemana. Beberapa menit yang tadi ia bertemu dengan Evano, pria yang belajar taekwondo di club yang sama dengannya. Seperti yang Firli duga, tak selamanya pikiran Ghea rusak oleh Putra.
Menikmati segelas jus jeruk segar, Firli berkeliling mencari makanan untuk mengisi perutnya. Tadinya ia akan jual mahal selama pesta, berhubung pria yang ia sukai sudah menjadi milik wanita lain, Firli tak peduli lagi. Ia akan menikmati pesta ini meskipun cintanya tak bersemi, makanan jauh lebih menarik.
"Bisa kita bicara sebentar?" baru saja Firli mengangkat tangannya untuk mengambil kue keju di atas meja hidangan, Gladis menghampirinya. Wanita itu datang sendirian sedang Rai mengobrol dengan teman sekelasnya. Rai sempat melirik ke aras pacar barunya dan sahabat perempuannya itu. Hanya melirik, tanpa menghampiri. Firli menjawab dengan anggukan kepala. "Tapi gak di sini, ikut gue!" ajak Gladis.
Dengan hak sepatu setinggi itu, Gladis masih terlihat lincah berjalan. Sementara Firli kesulitan belum lagi karena ballgown-nya yang terlalu panjang. Memiliki tubuh kurang dari 150 cm memang kenyataan yang pahit. Bahkan untuk mengimbangi langkah Gladis saja Firli kesulitan. Melewati para tamu pesta, Gladis membawa Firli ke sisi kolam renang yang hanya dihalangi kaca jendela ruang tamu. Dari sini Gladis dan Firli masih bisa melihat Rai, keadaan yang menguntungkan karena dengan begitu Gladis tak akan macam-macam.
Gladis berkacak pinggang sambil menatap Firli dengan tatapan jijik. Bagus, akhirnya ia memperlihatkan dirinya yang sebenarnya. "Lo tahu gak kalau sebenarnya itu, lo gak pantes dekat-dekat cowok gue!" Dia mengucapkan kalimat yang paling Firli takuti terucap dari mulut pacar Rai, akhirnya ia mendengarnya juga. "Gue mau lo jauh-jauh dari cowok gue!" tekannya.
Firli membuka mulutnya kemudian mengulum bibirnya sendiri. Matanya sempat melirik ke arah Rai tapi laki-laki itu masih sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Firli ingin meminta perlindungan dan ia tahu hanya Rai yang bisa. "Maaf, tapi lo tahu alasan kenapa Rai dekat sama gue? Karena gue mirip adiknya. Gue hanya mau gantiin posisi adiknya jadi dia gak ngerasa kehilangan," jelas Firli.
Memang dasar hatinya busuk! Gladis tak sedikitpun memaklumi penjelasan Firli. Dia malah semakin geram dan menoyor jidat Firli. "Lo aja yang kecentilan!" ledeknya.
"Terserah lo mau percaya atau gak, tapi kenyataannya memang begitu. Lo boleh bertanya sama Rai juga keluarganya. Mereka juga tahu, kok! Lagipula kenapa lo harus takut Rai dekat sama gue, lo punya banyak hal yang gue gak punya," jelas Firli.
"lo 'kan bisa jauhin Rai. Bukannya merasa hebat mirip dengan adiknya dan tetap lengket sama di kayak ulet. Ganggu pemandangan, tauk!"
"Masa gue usir Rai kalau datengin gue, Glad? Gak enak lah gue. Apalagi Rai baik banget sama gue dan teman-teman. Soal lo yang gak nyaman, gue minta maaf. Kedepannya kami gak akan terlalu dekat," jelas Firli lagi.
"Alasan basi!" ledek Gladis. Ia mendorong bahu Firli.
Sungguh Firli tak tahan diperlakukan begitu. Ia ingin melawan tapi Gladis bukan lawan yang sepadan. "Kalau gue buat dia jauhin lo gimana?" tanyanya sambil melirik nakal ke arah Rai. Perkataan yang mengundang rasa takut Firli.
Merasa ada yang tidak beres, Rai berlari menembus orang-orang yang mendekati Firli. Ia menghampiri gadis itu dan menatapnya. "Gladis!" tunjuk Firli ke kolam. Rai melepas jasnya lalu terjun ke kolam begitu melihat pacarnya tenggelam. Tak lama ia berhasil membawa Gladis ke sisi kolam dan melakukan langkah CPR karena Gladis tak menunjukkan pergerakan.
Syukurlah tak lama Gladis kembali bernafas dan terbatuk-batuk. Karena khawatir, Rai memeluk kekasihnya itu. Gladis menangis ketakutan di pelukan Rai. "Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Rai.
Gladis mengintip ke arah Firli kemudian menunjuknya. "Kenapa?" tanya Rai yang kebingungan melihat Gladis yang menunjuk temannya itu. "Dia dorong aku ke kolam," ucapnya memancing keterkejutan Rai juga Firli dan para tamu yang hadir. Rai menatap Gladis kemudian berpaling pada Firli.
"Aku enggak ..., " kalimat Firli terpotong.
"Gladis gak bisa berenang. Dia mungkin akan celaka tadi. Haruskah lo sampai begini?" tanya Rai kecewa. Pertama kalinya selama Firli mengenal Rai, ia menatap Firli dengan tatapan benci seperti itu. "Lo pulang saja sana!" usirnya pada Firli. Sementara Gladis diam-diam tersenyum menikmati usahanya. Petir seperti menyambar kepala Firli malam itu. Gladis memang hebat bersandiwara.
Dengan sigap Rai menggendong Gladis masuk ke dalam rumah sementara Firli masih diam mematung di pinggir kolam. Ia menangis kehilangan bukan hanya orang yang ia cintai tetapi juga temannya. Melihat itu Nana, Ghea dan juga Elsa datang mendekati Firli dan memberikannya pelukan. "Sudah ada kita di sini!" ucap mereka sambil membelai rambut Firli lembut.
Sementara Misyel memandang Rai yang berjalan sambil menggendong Gladis. Ia tersenyum sinis, jelas-jelas Misyel melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang sebenarnya terjadi ketika ia hendak mengambilkan Elsa minuman. Pandangannya beralih pada Firli dengan iba. "Gak usah nangis, dia yang salah sudah buta segalanya," ucap Misyel sinis. Keempat sahabat itu menatapnya. "Gue lihat jelas, cewek itu yang rajin nyemplung ke kolam renang sendiri," tambahnya.
Elsa menatap Firli kemudian mengusap air matanya. Ia tak percaya ada orang yang bisa membuat fitnah sekejam itu bahkan pada Firli yang selalu bersikap baik. Akhirnya mereka memutuskan membawa Firli pulang. Misyel mengizinkan Elsa naik mobil Nana walau awalnya ia berjanji akan pulang dengan Misyel. Laki-laki itu tahu, Firli lebih membutuhkan sahabat-sahabatnya.
"Sudah, Fir. Lama-lama juga kebenaran bakalan terungkap sendiri. Gak perlu lo sedali, ya? Rai gak mungkin berpikiran sempit begitu. Lo lebih kenal Rai dari siapapun," Nana mengusap punggung Firli. Gadis itu masih sibuk menyetir mobilnya. Firli yang duduk di belakang masih menangis tersedu-sedu.
"Gimana, dong? Gue gak mau Ayah sama Bunda tahu, tapi gue gak bisa berhenti nangis," Firli menghapus air matanya dengan tissue.