
"Tenangkan pikiranmu, semua akan baik-baik saja," ucap Andrean. Firli mengangguk. Dia masih menatap lurus ke luar jendela. Kejadian hari ini masih menyesakkan batinnya. Andrean memeluknya dari belakang. "Lebih baik kau istirahat," saran Andrean sambil menuntun Firli ke tempat tidur.
Firli berbaring sambil memeluk Andrean. Bahkan ketika malam semakin larut dan Andrean sudah tertidur pulas, Firli masih membuka matanya. Ia setengah berbaring di atas tempat tidur. Wajah Andrean masih menjadi daya tarik untuk ia tatap. Wajah yang memberikannya ketenangan diantara semua yang merasuk dalam pikiran. Tangannya mengusap rambut pria itu.
"Jauh dalam hati mengingat apa yang terjadi pada sahabatku sendiri, aku merasa beruntung memilikimu. Pria yang mengambil tanggung jawab atasku, meski aku tidak memintanya," batin Firli.
Ia melihat ke sekeliling kamar. Setiap benda menjadi perhatiannya. Namun lagi-lagi ia terusik dengan rasa memuakkan di dalam perut. Firli turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi lalu mencoba memuntahkan rasa itu. Sialnya, meski mual menyerang ia tetap tak bisa muntah dan itu sangat mengganggu.
"Kenapa lagi?" tanya Andrean. Firli menggeleng. Ia keluar kamar mandi. Di depan pintu, Andrean memeluk dan mencium keningnya. "Istirahat lagi," saran Andrean. Kembali ia menuntun istrinya ke atas tempat tidur. Namun kali ini lain, Rean lebih memilih membawa Firli dalam pangkuan, menyandarkan kepala istrinya di pelukan lalu menepuk-nepuk lengan Firli pelan.
"Nyaman," ucap Firli hingga tanpa sadar ia mulai terlelap.
***
"Apa?" Firli rasanya tidak bisa berhenti khawatir sejak mengetahui kehamilan Ghea. Seminggu sudah Ghea dikurung di rumahnya dan selama itu ia tidak ingin memberitahu siapapun tentang ayah dari bayinya. Hari ini, lagi-lagi Ghea memberikan Firli kejutan.
"Dia kabur sepertinya dengan pria itu," jawab Elsa sambil memegang dan memijiti kepalanya.
"Bahkan sama sekali tidak ada petunjuk siapa yang melakukannya?" tanya Briana. Lagi-lagi Elsa menggeleng. Selama ini bagian aneh dari Ghea adalah ia lebih terlihat bahagia dari biasanya dan lebih senang memiliki waktu sendiri. "Kelihatannya dia memang sangat mencintai pria itu. Hingga jadi bodoh begini," komentar Elsa.
Nana terlihat datang mendekati mereka. Kehadirannya memang sudah dinanti-nanti untuk memastikan sesuatu. "Evano ada, ia datang ke sekolah dan mengobrol dengan yang lainnya. Gama bicara dengannya secara hati-hati dan Evano bilang Ghea dan dia sudah putus setahun lalu," jelas Nana.
"Jadi mereka pernah jadian?" tanya Firli.
Nana mengangguk. "Hanya bertahna beberapa hari. Gama sempat mencari tahu alasan mereka putus tapi Evano bilang itu privasi," lanjut Nana.
"Apapun yang dia lakukan, aku harap dia bahagia. Rasanya sudah cukup kecewa dengan sikap tertutupny itu, ssperti tidak mengakui kita sahabatnya," komentar Firli. Ia hendak bangun menuju kelas untuk membereskan semua peralatan sekolah yang tersisa. Namun Firli kaget melihat pria yang tidak ingin ia temui.
"Bapak untuk apa ke sini?" tanya Firli kaget.
Pria itu tersenyum. Ia memberikan Firli sebuah kotak kado dengan bungkus merah muda. "Apa ini?" tanya Firli.
"Putriku? Bukannya putri anda sudah dikeluarkan dari sekolah ini?" tanya Firli ketus. Ia terus berjalan meninggalkan Handoko. Namun kali ini Handoko tidak ingin menyerah.
"Apa tidak bisa Bapak mendapat kesempatan untuk kamu maafkan?" tanya Handoko.
"Untuk apa? Uang warisan nenek dan kakek tidak bisa bapak miliki. Aku sudah dewasa dan itu sudah menjadi miliku. Aku juga sudah tidak butuh wali," ucap Firli ketus.
Handoko menarik tangan Firli. "Bapak memang salah berniat seperti itu sejak awal. Namun bagaimanapun aku ini seorang ayah. Bagaimanapun ada satu waktu dimana aku rindu dengan anakku sendiri," ucap Handoko. Firli menatapnya tajam. "Kau ini darah dagingku satu-satunya. Keturunanki satu-satunya. Bagaimana bisa aku kehilanganmu begitu saja. Aku dengar kau bahkan akan pindah ke luar negeri. Apa sebelum itu tidak bisa Bapakmu ini memiliki waktu denganmu?" tanya Handoko memelas.
Firli menarik napas. "Hubungan kita sudah tidak bisa lagi seperti dulu sejak Bapak pergi," tegas Firli.
Handoko menunduk perih. Ia tahu kesalahannya memang tidak patut untuk dimaafkan. "Bapak hanya ingin memperbaiki segalanya. Walau tidak cukup, setidaknya sedikit saja bisa mengurangi dosa Bapak," ucapnya lirih.
Kali ini ucapan pria itu berhasil mengusik batin Firli. "Bapak tahu rasanya hanya makan nasi selama seminggu? Pergi ke sekolah yang jauh sendirian dan menangis sendirian padahal hanya anak berusia sebelas tahun. Bapak tidak tahu, kan? Bapak juga tidak tahu bagaimana rasanya tiba-tiba diserahkan pada keluarga lain seperti barang. Bapak juga tidak bagaimana rasanya rindu pada orangtua lalu tiba-tiba mendengar Mama gantung diri?" Firli mulai emosi. Ia tidak peduli orang lain akan mendengar cerita malangnya. Biar saja Bapaknya sadar seberapa jahat apa yang dilakukan pria itu padanya.
Handoko terdiam. Ia merasa bodoh karena tidak sadar efek yang terjadi setelah ia pergi. Ia kira istrinya akan bisa hidup dengan baik bersama Firli. "Bapak kira kepergian Bapak bisa membuat kalian diterima kembali di rumah keluarga Mamahmu," ucap Handoko.
Ia memegang tangan Firli. "Bapak hanya tidak tahan dengan sikap keluarga Mamahmu. Bapak sadar diri sejak awal tidak pantas menikahinya. Namun bodohnya, Bapak lupa jika memiliki kamu," ungkap Handoko.
Ia membenci keluarga mendiang istrinya. Saking benci hingga ingin mengambil harta warisan itu dan menghabiskannya. Benci karena selama pernikahan, ia selalu dipandang sebelah mata dan dihinan karena miskin. Handoko mengusap rambut Firli. Iya, dia lupa jika dibalik kesulitannya, senyum anak kecil itu membuatnya kembali tenang.
"Bapak sayang padamu," ucap Handoko. Meski hati anak itu telah dirasuki kebencian, tapi batinnya tetap saja merindukan sosok seorang Ayah. Ia masih mengingat dalam memori bagaimana Bapaknya mengajaknya bermain, bercanda dengannya meski lelah karena pulang bekerja. Ia ingat bagaimana Bapaknya selalu melindungi setiap kali Firli dijahili teman-teman di sekolah.
Tanpa sadar Firli menangis. Ia balas meraih tangan Bapaknya dan memeluk pria itu erat. "Firli rindu Bapak," ucap Firli sambil berlinang air mata.
Handoko balas memeluk putrinya. Ia cium rambut gadis yang kini sudah beranjak dewasa itu. "Bapak memang tidak hadir di pernikahamu. Namun Bapak senang karena kau memiliki suami yang menyayangimu. Bapak belum sempat mengucapkan doa. Namun Bapak restui dan harap pernikahamu akan selalu bertahan hingga maut memisahkan kalian," ucap Handoko.
Firli mengangguk. Andai saja jika Mamahnya ada di sini. Ia ingin mereka berdua memeluk Firli dan mengucapkan hal yang sama.