
Firli ingin berguling di atas tempat tidur, memendam wajah ke bantal dan bermalas-malasan seharian. Ia ingin membaca komik favoritnya, makan camilan enak atau bersantai di atas ayunan. Semua itu terjadi dalam angan-angannya, karena ...
"Fir, jangan lupa kemeja biru Rean siapkan untuk nanti malam. Kamu tahukan ada undangan makan malam dari Tuan Widjaja?" titah Rean lima menit lalu dan sudah Firli turuti. Sebelumnya ia meminta anggur, menyiapkan sepatu untuk ke sekolah besok, merapikan kembali buku yang ia baca ke rak dan memijiti punggungnya.
Sekarang Firli merasa seluruh tubuhnya remuk dan tiada kekuatan tersisa. Ia menatap kasurnya berkali-kali kemudian menatap Andrean yang sedang memeriksa tugas sekolahnya. Dulu sebelum Andrean datang Firli bebas ingin rebahan di mana saja, sekarang lain urusannya. Jangankan rebahan, duduk bersandar saja langsung memancing tatapan tajam Andrean.
"Kamu masih belum cerita apapun?" tanya Rean sambil menatap Firli kemudian membereskan buku-buku pelajarannya.
Firli menekuk jidatnya. "Apa?" tanyanya heran. Perasaan sejak tadi mereka tak membicarakan apapun, hanya ada titah dari Sultan Andrean saja yang terdengar di kamar ini setelah keduanya menyapa Ayah dan Bunda di rumah utama.
"Kita jalan ke taman," ajak Andrean. Dia menarik tangan Firli dan membawanya ke luar kamar. Mereka berjalan menuruni tangga dan berbelok ke arah pintu belakang paviliun. Beberapa pelayan yang sedang membersihkan barang menunduk ketika melihat keduanya.
Andrean membuka pintu belakang pavilun. Masih menuntun Firli, dia menuruni tangga dan menapakkan kakinya di atas rerumputan. Di halaman belakang pavilun ada beberapa pohon mangga dan delima. Sebuah kolam buatan yang ukurannya sangat besar dibuat di sana. Teratai ungu tumbuh melindungi ikan-ikan koi berwarna-warni yang hidup di dalamnya.
Rean mengajak Firli berjalan ke jembatan yang melengkung di atas kolam. Jembatan itu berwarna merah menyala dan terbuat dari kayu. Rean melepaskan tangan Firli kemudian memegang pinggang gadis itu dan mengangkatnya agar terduduk di railing jembatan kayu tersebut.
Filri sempat kaget ketika Andrean menggendongnya tadi. Saat duduk di railing pun ia sempat oleng kemudian memegang bahu Andrean hingga akhirnya benar-benar duduk dengan seimbang.
Rean duduk di samping Firli. Ia menatap wajah istrinya. "Mrs. Charlotte bilang kau selalu takut aku punya simpanan di London," celetuknya membuat Firli tertegun. Dia kaget karena Mrs. Charlotte rupanya menceritakan hal itu pada Rean.
"Lalu?" tanya Firli sambil menggaruk alisnya.
"Aku disana tinggal di asrama dan sekolah khusus pria. Sesekali memang keluar dan bertemu wanita. Tapi di sana kami dilarang memiliki alat komunikasi. Ponsel hanya digunakan untuk kegiatan pembelajaran dan menelpon keluarga di jadwal tertentu. Pikir saja, bagaimana aku menyimpan wanita lain di sana?" jelasnya.
Firli memperlihatkan susunan gigi putihnya. Ternyata apa yang Rean alami di London lebih sulit daripada yang ia alami. "Pasti sulit. Memang kau tak mau pacaran?" tanya Firli heran.
"Jika pulang ke sini aku bisa pacaran dengan istriku, kan?" godanya sambil mencolek hidung Firli membuat wajah gadis itu tersipu.
Mata keduanya saling pandang. Tatapan mata Andrean terasa hangat di hati Firli. "Kita bukan dua orang yang baru bertemu sehari lalu. Kita sudah bertemu sejak bayi, tumbuh bersama walau akhirnya berpisah," tambahnya.
"Jujur. Untuk Rean, Firli itu seperti sahabat. Rean ingin bermain dengan Firli karena itu Rean tak keberatan kita menikah. Rean tak mencintai kamu setidaknya sampai Rean memeluk kamu ketika tidur tadi malam, rasanya tak ingin berpisah denganmu. Hari ini Rean yakin, akan jadi suami kamu." Firli merasakan sentuhan hangat di pipinya.
Ada rasa yang mengalir ke dalam hatinya. Perasaan lembut yang menyentuh kemudian membuat tubuhnya seakan melambung. Jantung Firli berdebar dengan pipi yang semakin merona merah. Napasnya semakin cepat senada dengan napas Rean. Perasaan yang sama dengan ia rasakan pada Rai dulu.
"Rean, Firli juga gak mau Rean ninggalin Firli lagi," ucap Firli begitu spontan hingga dirinya sendiri kaget setelah mengucapkannya. Rean meraih tubuh istrinya dan memeluknya.
"Jadi istri yang baik sayang, aku juga janji akan menjadi suami yang bertanggung jawab," ucapnya sambil mencium kening Firli kemudian menyandarkan dagunya di bahu Firli dengan manja.
Firli membelai rambut Andrean. Ia menarik napas. Mungkin ini yang Andrean bilang begitu memeluknya tiba-tiba tak ingin berpisah. Firli pun mengalami hal yang sama. Lumayan lama mereka dalam posisi itu hingga Firli mengingat sesuatu yang mengganggunya. "Kau akhirnya tak akan meninggalkanku dengan wanita cantik kan? Seperti Bapak yang meninggalkan Mamah?" tanyanya. "Dan Rai yang meninggalkan aku dengan Gladis," kali ini dia ucapkan dalam hati.
"Jadi kau masih belum bercerita?" tanya Rean. Lagi-lagi Firli mengerutkan dahinya. "Kenapa bisa bermasalah dengan orang-orang kasar seperti itu?" tanyanya kali ini membuat Firli mengerti apa yang Andrean maksud.
"Itu karena sahabatku yang tampan dan menjadi rebutan banyak wanita," ungkap Firli. Rasanya aneh ketika mengucapkan hal itu.
"Lebih tampan mana denganku?" goda Rean.
Firli memanyunkan bibirnya tapi dalam hati ia ingin mengatakan jika jawabannya Andrean. "Pokoknya dia tampan dan di sekolah ada dua perempuan galak yang menyukainya," lanjut Firli.
Ia menceritakan segala hal yang membuat dirinya terlibat dengan Gladis dan Angie. Hanya dia masih menyembunyikan fakta jika menyukai Rai. Dia takut Andrean tahu, takut Andrean marah dan meninggalkannya.
"Lalu Firli harus bagaimana?" tanya Filri begitu ia menanyakan tentang dirinya yang pasti akan menjadi bulan-bulanan Angie ataupun Gladis.
"Siapa yang berani menyakiti istri Andrean Petter Freiz, dia yang akan aku singkirkan," ancam Andrean dengan mata dingin yang membuat Firli bergidik.
"Bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya Firli.
Rean tertawa. "Kita punya uang dan mereka butuh uang kita," celetuknya membuat Firli semakin tak mengerti. Melihat wajah heran istrinya malah mengundang tawa Andrean lagi.
"Dengar istriku, percayalah. Lebih baik menjadi menantu keluarga Freiz dibandingkan mengejar-ngejar anak Abyapta itu."
Firli tertegun. Abyapta kan nama keluarga Rai. Kenapa Rean? "Kamu?" tanya Firli heran.
"Apa yang istriku lakukan dan aku tidak tahu? Andrean punya mata dan telinga dimana-mana." Andrean turun dari railing jembatan dan menginjakan kakinya di lantai kayu jembatan. Ia menggendong Firli untuk turun hingga gadis itu kembali berdiri dengan seimbang.
Firli bergetar. Jadi selama ini Andrean selalu menerima laporan tentang dirinya. "Tentang laki-laki itu kita biarkan saja. Ayo kita pelan-pelan memulai rumah tangga kita. Kita sudah berpegangan tangan, berpelukan, dan bercerita. Lain kali ayo kita saling mengecup, berciuman dan kau tahu lah." Matanya nakal menatap mata Firli hingga gadis itu tersipu malu.
"Dasar laki-laki. Usia kita masih enam belas tahun. Tunggu kita punya KTP!" protes Firli.
Andrean tertawa lagi sambil menuntun istrinya itu berjalan melewati jembatan. "Besok kita tak ke sekolah. Ayah akan mengantar kita membuat buku nikah. Jadi tak perlu menunggu KTP," candanya nakal.
Firli melepas tangan Rean. "Dasar mesum!" teriaknya sambil mencubit pipi Andrean lalu berlari. Andrean mengejarnya dan Firli dengan gesit mencoba menjauhkan diri tapi tertangkap. Tubuh Firli sempat terjatuh ke atas rumput taman dan Rean memeluknya hingga keduanya berguling di atas rumput sambil tertawa. Kenangan Firli datang lagi, enam tahun lalu itu hal yang sering ia lakukan dengan Andrean, main kejar-kejaran, berguling di atas rumput dan tertawa lepas bersama.
**Cinta itu mudah untuk dipanggil, hanya berbagi sentuhan hangat dan kasih sayang. Yang sulit adalah mempelajari dan menyadarinya. Yang paling sulit adalah mempertahankannya.
_Author**_