
Nasehat itu memang tidak sepenuhnya salah. Malam ini baik Andrean juga Firli merasakan bagaimana rasanya tidak tidur. Jika bayinya satu, mungkin bisa bergiliran. Namun karena ada dua, mereka harus berbagi.
Beberapa malam ini dibuat bergadang, akhirnya mereka mengetahui penyebab utama kedua bayinya menangis berbarengan. Andrio, bayi yang paling aktif jika malam sering bangun. Kaki dan tangannya menendang-nendang. Tanpa sengaja, adiknya - Firgio terkena serangan itu dan menangis. Tangisan Gio itulah yang memancing Rio ikut menangis.
"Besok kita pisahkan saja ranjang bayinya." saran Andrean. Box bayi mereka ukurannya besar dan kedua bayi terpisah cukup jauh. Tidak tahu bagaimana bisa Rio menendang adiknya.
"Rio sejak masih diperut juga gak mau diam." Firli nyengir kuda. Untung Andrean tidak membahas, tapi Firli tahu itu sifat turun dari mana. Tentu ibunya, yang jika tidur menjelajah seisi ranjang jika saja Andrean tidak memeluknya.
"Sejak awal aku juga saranin beli box yang berbeda saja. Kamu maksa sekali beli satu box besar. Sekarang box bayinya masuk dalam barang lain yang tidak terpakai. Kita harus beli dua lagi yang lebih kecil." Andrean mengukur-ngukur ukuran box bayi yang pas di kamar itu.
"Habisnya Bunda sama Ayah. Tahu cucunya masih harus tidur di box bayi, malah sudah beli tempat tidur. Jadinya tidak ada tempat untuk box bayi." Kali ini Andrean berkacak pinggang.
Syukur si kembar sudah tidur lagi. Kedua orangtua muda ini tentu harus kembali tidur juga. Besok mungkin masih ada yang hadir menengok kedua bayi ini sebelum pesta penyambutan bayi minggu depan setelah Firli benar-benar pulih.
Andrean mengecup satu per satu kening bayinya. "Kalau tidur jangan nendang adiknya lagi, ya? Kakak kan baik," nasehat Andrean sambil mengusap kepala Andrio.
Kemudian giliran Firli yang mengecup kedua bayinya. Lampu kamar dimatikan. Tujuannya agar pertumbuhan kedua bayi optimal. Lagipula masih ada lampu tidur yang memberi sedikit pencahayaan.
Andrean menutup kamar bayinya. Terlihat ia tersenyum. "Akhirnya kealamin sendiri."
Firli tertawa. Meski beberapa hari ini mereka terus dikerjai bayinya tapi ada kepuasan tersendiri. "Terbayang kalau kamu masih di Manchester. Aku pasti pusing sendiri."
Andrean memeluk Firli dari belakang. "Aku kan bilang, akan selalu membantu. Lagipula ketika kita pindah ke luar negeri nanti, anak-anak sudah lebih besar. Ada pengasuh yang bisa mengurangi beban kamu. Kamu juga masih harus kuliah beberapa bulan lagi."
Firli menepuk jidatnya. "Aku lupa caranya belajar. Bahkan selama hamil yang aku baca hanya buku cara mengurus anak."
Andrean tertawa. "Kamu masih suka nulis?" tanyanya.
Firli mengangguk. Ia tidak pernah kepikiran ingin jadi apa dan ingin belajar apa. Sejak menikah dan hidup serba kecukupan di keluarga ini, yang ia ikuti hanya nasehat Mrs. Charlotte.
"Kalau aku kuliah sastra bagaimana?" tanya Firli. Andrean mengangguk.
"Kamu bisa mulai menulis lagi. Namun ingat, jangan yang seperti kemarin." Satu lagi yang Firli syukuri selain mertua baik hati dan kedua bayi tampannya, suami yang perhatian.
Tiba di kamar, Firli berbaring dalam pelukan Andrean. Rasanya ia ingat hati pertama bertemu suaminya lagi setelah enam tahun terpisah. Andrean sangat kaku, banyak memerintah dan tentu kekonyolan Firli yang tidak mengenali hingga menyangka itu orang lain yang tampan. Sejarah paling memalukan dalam catatan hidupnya.
"Fir, Rean pegangin. Percaya sama Rean, ya?" Tangan mungil Andrean memegang tangan Firli saat keduanya nekat berjalan di railing jembatan yang membelah kolam besar di belakang rumah.
Andrean memang melakukan janjinya, memegang tangan Firli. Bahkan ketika ia tercebur, Andrean masih memegang tangan Firli dan membuat Firli ikut tercebur juga.
"Kan, Firli jadi kotor badannya. Rean sih, ajakin main ginian." Firli kesal karena Andrean malah tertawa. Padahal Mrs. Charlotte pasti marah melihat semua ini.
Benar saja, hari itu sebelum dijemput Mamahnya, Firli habis terkena omel Mrs. Charlotte, Andrean juga kena sih. Hanya saja setelah itu ia bebas karena orangtuanya tidak di rumah. Namun Firli masih harus terkena omel Mamahnya.
Kini semua hanya kenangan yang mengundang tawa ketika mengingat. Saat itu Firli pasti tidak akan menyangka, anak laki-laki yang sering mengajari dia berbuat nakal akan menjadi suami juga memberikannya dua bayi laki-laki yang tampan.
Malam berganti pagi. Matahari terbit dan Firli sudah mendapat panggilan dari bayinya yang lapar. Seperti biasa Gio masih bisa diam ketika pahanya ditepuk-tepuk pelan. Ia bisa menunggu sementara kakaknya mendapat susu duluan.
"Kayaknya benar kata orang, justru yang lahir belakangan itu kakaknya. Buktinya Gio lebih bisa mengalah," batin Firli. Ia beruntung karena ASInya selalu cukup untuk kedua bayi.
"Anakku satu saja ASI tetap gak cukup," keluh Ghea di telpon yang speakernya diaktifkan. Kedua ibu muda itu sedang aktif di telpon grup.
"Makanya sering ngemil dan makan kayak aku. Gak apa-apa buat enam bulan pertama gemuk juga. Asal anak-anak ASInya cukup buat enam bulan pertama. Nanti bisa diberi MP ASI, kan?" nasehat Firli.
"Kamu enak, Fir. Andrean ada di rumah. Putra kuliah. Kalau aku gak langsing cantik kayak model majalah, dia bisa ditikung mahasiswa cantik." Ghea masih sibuk memandikan anaknya.
Sekarang giliran Gio yang dapat sarapan. Mrs. Charlotte membantu Firli dengan memandikan Rio dulu. Syukur Firli sudah mandi dan sarapan sebelum bayi-bayi ini lapar.
Tidak seperti Rio yang bergerak-gerak ketika sedang minum susu sampai wajah Firli ditendang, Gio diam saja. Tangan sesekali meraih wajah ibunya. Ketika Firli memanggil namanya, Gio menyeringai. "Kamu itu mirip Papah sekali, sih?" Firli mengecup kening Gio. Sifat Andrean seakan terbagi dua di kedua bayinya. Gio versi kaku dan kalem kemudian Rio versi nakal dan jahilnya.
"Nanti siang kita semua akan ke rumah. Pas aku sama Elsa libur kuliah, Fir." Nana terdengar tidak sabaran ingin melihat si kembar. Saat di rumah sakit, bayi Firli ada di ruang bayi. Ketika dibawa pulang ia juga sibuk di kampus. Akhirnya setelah dua minggu ada juga waktu untuk bertemu keponakan lucunya.
"Jangan lupa bawa kado buat Firli," pinta ibu muda itu.
Nana, Elsa dan Ghea tertawa. "Harusnya bayi kamu yang diberi kado. Ibu macam apa ini?"
Firli manyun. "Rio sama Gio sudah dikasih kado dari banyak orang. Satu pun gak ada kado buat Firli. Ada deh dari Andrean doank. Itu juga malah buku parenting. Nyebelin, kan!"