Highschool Wife

Highschool Wife
Obrolan Hari ini



"Ini masih ada?" tanya Andrean kebingungan. Hari ini lagi-lagi ada barang baru yang dibeli orangtuanya. Andrean mengerti kakek dan nenek memang bersemangat menyambut cucu pertama. Namun membeli barang-barang bayi setiap hari tentu membuat kepala pusing. Seluasnya kamar bayi mereka, hampir tidak bisa menampung barang-barang itu.


"Sepertinya anak-anak butuh tempat mandi bola. Iya kan, Bun?" Abellard semakin menjadi. Bahkan Anita juga ikut-ikutan bersemangat.


Andrean dan Firli menepuk kening mereka. Entah bagaimana cara menyadarkan keduanya. "Ayah, Bunda. Anak-anakku ini ketika lahir, berguling saja tidak bisa, masa sudah disuruh mandi bola?" Andrean akhirnya harus meluruskan masalah ini.


Firli mengangguk-angguk. "Kalau tidak dipakai, kan bisa berdebu. Malah akan mempengaruhi kesehatan si kembar."


Abellard dan Anita mengangguk. Setidaknya itu membuat Firli dan Andrean sedikit lega. "Kalau begitu cukup ini saja." Abellard melihat ke sekeliling ruangan dan nampak lega karena cucunya tidak takut kekurangan apapun.


Firli dan Andrean nyengir kuda. Setelah kedua orangtuanya pergi, keduanya tiada henti menarik dan menghembuskan napas dengan berat. Bahkan karena mainan dan barang-barang membuat ruangan 10 x 12 meter jadi sempit.


"Mereka sama sekali gak kasih aku kesempatan membelikan anak-anak barang-barang," keluh Andrean. Rencananya ia ingin mengajak Firli belanja keperluan bayi. Namun selalu gagal karena apa yang mereka rencanakan beli, pasti orangtuanya sudah datang membelikan.


"Kalau nolak juga gak enak." Firli menggaruk tengkuknya.


Andrean mengangguk. Kalau saja ia tidak merasa iba karena masalah kakaknya, ia mungkin bisa sedikit keras. Apalagi Bunda dan Ayah hampir tidak bisa merasakan mengurus bayi. Sejak lahir, Andrevan dalam perawatan pihak rumah sakit sementara karena mengurus Andrevan, mereka harus rela membiarkan bayi Andrean diasuh Mrs. Charlotte.


"Belikan aku barang saja. Masa anak-anak terus." Akhirnya Firli memiliki ide. Setelah melahirkan, dia juga akan membutuhkan banyak hal. Seperti pakaian khusus ibu menyusui atau alat olahraga menurunkan berat badan.


Barulah Andrean sedikit senang. Ia mungkin tidak bisa memberikan hadiah untuk anak-anaknya, tapi ibu dari anak-anak itu berhak diberi penghargaan atas perjuangannya. "Santai, Fir. Nanti Rean belikan kamu piala," kelakarnya.


Firli yang merasa keinginannya tidak sejalan dengan rencana Andrean kontan mencubit lengan pria itu.


"Galak terus sama suami, nih! Mau suaminya nyari istri yang lembut?" ancam Andrean.


Firli mengangkat salah satu sudut bibirnya. Ia menyipitkan mata dan berkacak pinggang. Aura kamar bayi seakan berubah kelam. Andrean mulai mengambil bantal kecil di dalam box bayi untuk melindungi dirinya.


"Ouh gak bisa, kemarin Tania sudah ogah sama kamu, tuh!" Firli nampak merasa senang ketika ia mendengar sendiri Tania yang memutuskan kembali ke Inggris dan melanjutkan studinya.


"Masih ada Helen," celetuk Andrean.


"Ulet bulu?" tanya Firli bercanda.


Kali ini Andrean sukses dibuat Firli tertawa. Rasanya ia mendadak gatal-gatal mengingat bagaimana Helen terus menempel padanya meski sudah ia marahi.


Tiba-tiba ponsel Andrean berdering. Ada telpon dari Gama. Sejak sering dicurigai, Andrean menjadi kebiasaan mengangkat telpon di depan istrinya.


"Kenapa, bro?" tanya Andrean.


Gama cekikikan. Jelas itu membuat Andrean heran. "Kesurupan?" Apalagi yang bisa ia tebak jika seseorang yang menelponnya bukan bicara malah cekikikan.


"Gak lah, mau ngomong tapi malu. Aku mau memberikan pengakuan." Gama terdengar malu-malu saat mengatakannya. Tidak seperti biasa, dia sering blak-blakan hingga kadang menjadi bahan bulan-bulanan Andrean.


"Aku dengar Misyel sama Elsa mau tunangan." Gama menggaruk-garuk kepalanya. Ia masih merasa gugup.


"Terus?" Andrean gemas juga mendengar Gama yang tidak langsung pada intinya.


Jangankan Gama, Andrean lebih-lebih. Dulu ia menikah modal memaksa, mana tahu dia urusan begituan. "Tanya Putra saja."


Gama mendengus. "Maksud lu hamilin dulu anak orang?" Akhirnya ia kembali blak-blakan.


"Mau dibunuh bokapnya?" Andrean kesal juga. Kalau bukan sahabat sendiri sudah ia lenyapkan dia ke kutub utara.


Gama menggeleng. "Kasih saran kek?"


"Mana aku tahu. Nikah sama Firli juga modal dijodohin. Coba bilang dulu sama orangtua kamu. Mana ada ngelamar perempuan datang sendirian."


Gama manyun. "Itu masalahnya. Aku lebih takut sama orangtua daripada orangtua Nana. Orangtua Nana itu baik, orangtua aku ... tahu sendirilah."


Andrean sepakat soal itu. Papanya Gama kalau bicara tegas dan keras. Padahal anggota TNI saja bukan. "Memang sudah yakim gak boleh?"


"Gak tahu juga, sih! Cuman mereka mau aku kuliahnya lancar tanpa hambatan."


"Asal mau komitmen saja jaga keduanya," saran Andrean.


"Kalau belajar dari kalian sih kayaknya mana bisa." Ucapan Gama kali ini benar-benar menyentuh ulu hati Andrean.


"Bodo amat! Tanyain orang saja sana. Orang yang gagal kuliah ini sibuk!" Tak tanggung-tanggung Andrean langsung mematikan ponselnya.


Mendengar pembicaraan kedua pria itu membuat Firli tertawa terbahak-bahak. Andrean dan Gama itu memang seperti air dan minyak. Anehnya, persahabatan mereka awet seperti diberi formalin.


"Harusnya kamu bantuin dia ngomong sama orangtuanya," saran Firli.


Andrean langsung bergidik. Jangankan bicara soal ini, menanyakan keberadaan Gama pada orangtuanya saja Andrean tidak berani. Memang sih, kedua orangtua Gama seperti manut pada Andrean. Namun cara bicara mereka yang terlalu tegas seram juga.


"Duh," Firli menyeringis. Ia memegang perutnya yang lagi-lagi terasa sakit. Kali ini Andrean langsung sigap meraihnya.


"Pasti kelamaan berdiri. Baring dulu, ya?" sarannya sambil menuntun Firli menuju kamar. "Kalau saja rasa sakitnya bisa dibagi," keluh Andrean.


"Kita sama-sama berkorban, kan? Kamu juga capek jagain aku sama anak-anak."


Andrean mengangguk. Ia bantu Firli berbaring lalu membawakan air putih. Keringat terlihat bercucuran dari kening istrinya. Meski dokter bilang Firli baik-baik saja, tetap Andrean merasa tidak tenang. Apalagi semakin bayinya aktif, Firli semakin tidak bisa tidur nyenyak.


"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Andrean sambil memberikan segelas air putih pada istrinya.


Firli mengangguk lalu meneguk air putih itu. Ia berikan gelasnya pada Andrean untuk di simpan di atas nakas. "Aku mohon, bantu aku membesarkan anak-anak. Jangan tinggalkan aku sendirian," ucapnya lalu mengecup kening Firli.


Firli memeluk Andrean dengan erat. Ia mengusap rambut suaminya. "Justru aku yang harusnya minta itu. Jangan pergi jauh dan ninggalik kami, ya?" pinta Firli.


Andrean mengangguk. Ia mendongak lalu mengusap rambut istrinya. "Kan kita mau berpetualang sama-sama. Beli rumah sendiri, antar anak-anak sekolah. Kalau salah satu dari kita gak ada mana bisa."