
"Hai, salam kenal! Aku Briana," ucap perempuan setengah bule itu sambil mengulurkan tangan pada Firli. Lekas Firli meraih tangannya meski panas dalam hati tidak juga mereda. "Perlu kau tahu, aku seharusnya jadi menantu keluarga ini. Namun, sudahlah!" ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Firli melepas tangannya. Ia mendekati Andrean sambil memegang lengan suaminya seolah memberi tanda jika laki-laki itu adalah miliknya.
Briana tertawa. Sementara itu Andrean menepuk bahu Briana. "Jangan buat istriku salah paham!"
Mendengar itu Firli jadi bingung sendiri. Briana berjalan menuju sofa lalu duduk sebelum dipersilahkan pemilik rumah. "Harusnya kamar ini juga menjadi kamarku," tambah gadis dengan rahang tirus seperti artis-artis Korea. Firli yakin, itu pasti akibat bantuan benang atau malah meja operasi.
Andrean menuntun Firli untuk duduk di sofa. "Jika kau berpikir dia seperti Helen, kau salah besar. Dia hanya senang menggodamu," ucap Andrean membuat Firli bingung.
Briana menatap Firli dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Hmm, jika saja aku tidak sibuk pasti kita sudah bertemu sejak lama," ucapnya.
Tangan Firli bergerak ke belakang tengkuk kemudian menggaruknya perlahan. "Apa sih yang membuatmu suka pada lontong kari ini?" tanya Briana pada Firli.
Andrean membawa bantal sofa yang menjadi sandarannya kemudian ia lempar tepat ke wajah Briana. Firli sampai bingung mengartikan hubungan kedua manusia ini. "Kalian bersaudara?" tebak Firli.
Briana manyun. "Jika aku jadi saudaranya, lebih baik aku keluar dari daftar keluarga," protesnya.
Andrean memperlihatkan tinju ke arah Briana. Semakin lama Firli semakin bingung. "Jadi aku harus cemburu atau tidak?" batinnya.
"Bagaimana jadi menantu Bunda? Aku juga berharap benar-benar jadi menantunya. Andai saja pernikahanku tidak batal," keluhnya.
Firli menatap Andrean. Tunggu! Jadi sebelum dengan Firli, Andrean pernah akan menikah dengan perempuan ini? "Kau akan menikah dengan Rean dulu?" tanya Firli bingung.
Briana hampir saja tersedak. "Aku dan lontong kari ini? Tidak mungkin." Briana menggerak-gerakan tangannya jarinya.
"Firli belum pernah bertemu kakakku," ucap Andrean.
Begitu mendengar Andrean mengucap kata 'kakak', Briana langsung menunduk. Dia menghela napas kemudian kembali mendongak setelah melepas napasnya. Terlihat sekali ada beban dalam batinnya. "Pantas, siapa yang bisa bertemu dengannya dalam keadaan seperti itu," ucap Briana.
"Kakak?" tanya Firli bingung. Gadis itu menatap Andrean dan hanya melihat anggukan dari wajah pria itu.
"Bahkan ia tidak tahu kau punya kakak," keluh Briana.
Andrean tertegun. Terlihat jelas wajahnya memucat. "Butuh waktu bagiku menganggapnya antara ada dan tiada," ucap Andrean.
Sepertinya di sini hanya Firli yang masih kebingungan. Dia menantu tapi banyak hal yang tidak ia ketahui dari keluarga ini. Mendadak ingatannya tentang ucapan Ayah di pengadilan kembali terngiang. Iya, Ayah bilang ia ingin anak perempuan tapi malah diberi dua anak laki-laki. Itu artinya Andrean bukan anak Ayah satu-satunya.
Sementara itu Briana melipat kedua tangannya di dada. "Dia tunangan kakakku," tambah Andrean sambil menunjuk Briana. Firli menatap gadis itu lekat-lekat.
"Jadi ... itu." Firli bingung bagaimana harus menimpali. Ia kemudian ingat boneka clay di tas Andrean. "Andrevan Piere Freiz?" tanya Firli penasaran dan membuat Andrean tercengang. "Aku melihat namanya di boneka milikmu," jelas Firli. Ia mungkin akan terkena omel karena ketahuan membuka tas suaminya tanpa izin. Namun lebih baik diomeli daripada penasaran.
Jelas sekali Andrean memperlihatkan anggukan. "Aku dan Revan hanya berbeda dua tahun. Sebenarnya hari pernikahan kita itu ...." Rean tidak melanjutkan penjelasannya.
"Hari pernikahanku dengan Revan," timpal Briana.
Firli menatap Briana sambil tertegun. Gadis itu melenguh. "Ia selalu bilang, jika keinginan terakhirnya adalah menikah denganku. Namun hingga hari itu datang, ia tidak bisa bertahan," lanjut Briana.
"Bunda dan Ayah tahu, Kakaku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Sehingga mereka bertanya apa keinginan Revan. Bodohnya ia hanya bilang ingin menikahi Briana. Ia bilang jika menunggu dewasa takut tidak akan sampai. Jangankan menunggu dewasa, bahkan hanya menunggu dua hari sampai Ayah dan Bunda menyiapkan pesta ... ia tidak bangun pagi itu." Andrean melanjutkan penjelasan Briana.
Saat itu apa yang selalu menjadi pertanyaan Firli akhirnya terjawab. Hari itu untuk mempertahankan harga diri keluarga, keluarga ini terpaksa menikahkan Andrean. Hal sangat sulit untuk diterima pria itu hingga akhirnya ....
"Ia bilang bersedia menggantikan Revan dengan syarat harus Firli yang menikah dengannya." Briana kembali tertawa. Raut-raut kesedihan sedang coba ia tutupi.
Firli bingung. Ia ingin marah sebenarnya. Namun apa yang ia miliki kini lebih dari apa yang ia korbankan. Ia menatap Andrean dan memegang pipi suaminya. "Kau marah mendengar itu?" tanya Rean.
Firli menggeleng. "Jika bukan kau dan keluargamu yang membawaku ke sini saat itu, aku akan hidup dengan siapa?"
"Kalau aku jadi kau, sudah ku kabur hingga ke ujung dunia. Dulu saat mereka mengajukan agar aku menikah dengan anak ini, aku bilang lebih memilih mati," kelakar Briana.
Senyum terkembang di wajah Andrean. "Lalu Kak Revan dimana sekarang?" tanya Firli. Jika ia sudah meninggal tentu Firli juga harus hadir di acara pemakamannya. Namun tidak pernah ada acara duka di rumah ini.
"Dia tidak pernah bangun," Briana menimpali dengan suara lirih. Firli memandangnya dengan tatapan merasa bersalah karena telah bertanya.
"Sejak aku kecil, Ayah dan Bunda sering meninggalkanku sendirian dan menitipkan aku pada Mrs. Charlotte. Mereka membawa Revan ke berbagai rumah sakit agar penyakitnya bisa sembuh. Hingga akhirnya salah satu rumah sakit di Minnesota memberikan harapan. Sejak itu ia harus dirawat di sana sehingga setiap datang ke rumah ini, kau tidak pernah bertemu dengannya. Namun enam tahu lalu, ia dibawa pulang karena menurut dokter keadaannya sudah semakin membaik. Dalam bulan pertama, ia masih bisa bertahan walau hanya berbaring di tempat tidur. Namun pagi itu, ia tidak bangun hingga sekarang," cerita Andrean.
Revan dan Briana bertemu di rumah sakit yang sama. Di sana mereka mulai dekat dan berbagi cerita. Hanya saja, Briana lebih beruntung karena bisa sembuh lewat transplantasi hati. Keberuntungan yang tidak bisa didapatkan Revan. Meskipun ada denyut di otaknya, hingga kini ia masih dalam keadaan koma. Selama itu pula Briana selalu setia menunggu Revan. Meski akhirnya ia harus pulang pergi dari Sidney ke Minesotta setiap dua bulan sekali.
"Terserah kau akan bilang aku gila, bagiku Revan pasti akan bangun dan menikahiku seperti janjinya," ucap Briana sambil tersenyum tapi terlihat jelas kepedihan di wajahnya.