Highschool Wife

Highschool Wife
Tidak Lengkap



"Mereka beda, ya?" Briana menunjukkan foto terakhirnya dengan tunangan yang sekarang masih dalam keadaan koma.


Firli mengangguk. Lain dengan Rean yang berwajah lonjong, Revan cenderung agak bulat. "Pasti kamu sangat merindukannya," tebak Firli.


Briana mengangguk. Mungkin ini terdengar gila, ia saat itu masih berusia sebelas tahun. Revan pria pertama yang membuatnya berdebar. Setiap kali Briana ketakutan menghadapi jarum suntikan dan infus, Revan yang membuatnya tertawa hingga lupa. Kamar mereka bersebelahan dulu, sehingga sering kabur dan bertemu di lorong untuk sekedar berbagi cerita.


"Sebelum operasi, aku sempat ketakutan. Ia yang menyemangatiku. Revan alasan utama aku ingin sembuh. Namun, aku tidak bisa menjadi alasannya untuk sembuh." Jelas sekali mata Briana terlihat berkaca-kaca. Ia menahan air matanya.


Firli mengambil tissue dari meja ruang tamu di paviliun dan ia berikan pada Briana. "Aku yakin ia juga berusaha dengan keras. Hanya saja kadang hidup tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan." Firli menepuk halus punggung Briana.


Saat itu keduanya sedang menunggu kedatangan ayah dan bunda di ruang tamu paviliun sementara Andrean sedang melaksanakan kelas konsultasinya.


"Rean berusaha sangat keras. Kamu juga pasti ikut menderita karena hal ini. Dipaksa menikah di usia semuda ini tentu sulit."


Firli menggeleng. "Awalnya memang berat. Namun ketika Rean kembali, semua terasa ringan. Ia banyak berbagi denganku. Bahkan membuatku lebih berani."


Briana tersenyum, ia menepuk punggung tangan Firli. "Syukurlah, walau aku masih sangat merasa bersalah karena membuat kalian menggantikan kami. Karena itu, aku tidak berani menemuimu selama ini."


Firli tertawa kecil. "Kenapa merasa bersalah? Lagipula aku yakin, sejak awal aku dan Andrean memang sudah berjodoh. Hanya saja jalannya melalui kalian berdua."


Briana mengangguk. Ia memandang fotonya dengan Revan lagi. "Rean itu benar-benar sayang padamu. Ia memang punya beberapa teman perempuan. Namun Rean sama sekali tidak tertarik dengan mereka. Ia hanya baik pada teman-temannya. Kadang yang perempuan memang salah paham, tapi ia dengan terbuka bilang jika ia sudah menikah," ungkap Briana.


"Rean?" tanya Firli tak percaya hingga akhirnya Briana mengangguk.


Pembicaraan itu terjeda karena Bunda dan Ayah akhirnya datang. Briana nampak senang dan mengahampiri calon mertuanya. Ia memeluk Bunda dengan sangat erat. Bahkan air mata yang sempat ia tahan akhirnya keluar.


Bunda memeluknya erat, sementara Ayah menatap ke arah Firli dengan wajah bingung. Firli yakin, Ayah pasti belum siap memberitahunya. Firli bangkit dan datang memeluk Ayah mertuanya.


"Aku pikir Ayah dan Bunda akan pulang lusa," ucap Firli. Ayah mengusap rambutnya lembut. Ia tuntun Ayah dan Bunda untuk duduk di sofa. Briana duduk ditengah-tengah mereka sementara Firli di sofa yang berhadapan.


"Maaf, aku melangkahi kalian untuk menceritakannya pada Firli." Briana nampak menyesal.


Firli menggeleng. "Bukan Briana, tapi Rean. Dia cerita semuanya. Ayah dan Bunda tidak perlu khawatir, justru Firli merasa beruntung."


Mendengar itu baik Ayah dan Bunda merasa kaget. "Lady, Bunda dan Ayah menjadikanmu pengganti Briana dan secara tidak langsung memanfaatkan keadaan keluargamu."


Katakanlah begitu, tapj justru bukanlah di sini Ayah dan Bunda yang paling banyak berkorban. Ia harus membagi waktunya untuk tiga orang anak. Padahal salah satu putranya sedang dalam keadaan koma, mereka justru menjaga anak orang lain.


Itu jelas menyentuh hati Bunda dan Ayah mertuanya hingga sisi terdalam. Bunda bangkit dan menghampiri Firli dan memeluknya erat. "Bunda sayang padamu seperti putri Bunda sendiri. Jadi jangan berpikiri jika kau ada di sini hanya sebagai orang lain. Kamu adalah keluarga ini." Bunda mengecup kening Firli. Gadis itu menyentuh tangan mertuanya.


"Lebih baik sekarang Bunda dan Ayah memikirkan Kak Revan dan Briana. Mereka sangat membutuhkan kalian," ide Firli.


"Kami masih memikirkan cara mendapatkan kamu dari Bapakmu." Akhirnya Ayah memperlihatkan kekhawatirannya tentang masalah itu. Sempat jantung Firli mencelat mendengarnya. "Tenang, tim pengacara kita menemukan banyak celah sehingga laporannya bisa dipatahkan. Mereka sedang berusaha menekannya agar menarik laporan."


Firli mengangguk-angguk. Rean juga sempat bilang tentang pernikahan mereka yang sudah jelas legal. Secara hukum walinya kini adalah suaminya.


"Intinya jangan pernah merasa takut. Bunda juga mendengar tentang masalah kamu dengan mereka di sekolah. Ayah juga sudah berbicara dengan Nyonya Magdalena. Mereka akan mempertimbangkan untuk penarikan laporan dengan syarat anaknya tidak dikeluarkan dari sekolah," timpal Bunda.


"Memang apa yang terjadi, Bun?" tanya Briana yang bingung dengan apa yang mereka bahas.


"Nanti kita akan cerita. Lebih baik kita makan malam dulu bersama. Makanan sudah siap di meja makan. Bunda harap Briana dan Firli bisa seperti kakak dan adik," ucap Bunda.


Baik Briana dan Firli sama-sama mengangguk. Setelah itu mereka pergi bersama ke ruang makan. Andrean tak lama menyusul ketika mereka tengah menikmati hidangan pembuka berupa potongan keju dari Prancis.


Banyak hal yang Briana ceritakan, terutama tentang alasannya datang ke Indonesia. "Jadi rencananya kamu akan ke sekolahku?" tanya Firli.


Briana mengangguk. "Aku akan belajar di sini hingga lulus SMA. Jadi kita bisa tinggal serumah, hanya aku tinggal di rumah utama ini," jelas Briana. Mendengarnya membuat Firli senang. Akhirnya ia bisa mendapat teman satu rumah yang sama-sama perempuan dan seusia.


Iya, Briana lahir di tahun yang sama dengan Firli dan Andrean. Sementara Andrevan lebih tua dua tahun darinya.


"Walau aku berharap Revan juga di sini," keluh Briana.


"Andrevan pasti akan kembali pada kita semua. Kalian berdoa saja." Ayah terlihat bersemangat. Setiap kali ia datang ke Amerika dan melihat putranya masih bernafas, ia selalu menaruh harapan jika anak itu akan kembali kepelukannya suatu hari nanti.


"Jika bangun nanti, ia mungkin akan bingung karena ia semakin menua," kelakar Andrean memecah suasana. Bunda dan Ayah tersenyum kecil. "Dia selalu memanggilku bocah. Jadi ketika ia bangun, ia akan kecewa tidak bisa mengataiku seperti itu. Malah aku menikah lebih dulu daripada ia."


"Kau dan kakakmu itu memang tidak pernah akur," komentar Ayah.


Andrean memutar ujung sendoknya di atas permukaan piring. "Bagaimana bisa akur, setiap bertemu dia selalu meledekku. Kadang ia bilang iri denganku. Padahal ia jauh mendapat perhatian kalian berdua," timpal Rean. Ketika sadar apa yang ia ucapkan mungkin bisa membuat orangtuanya terluka, ia mematung.


Firli menepuk lengan Rean karena Bunda dan Ayah langsung menunduk mendengar pernyataan itu. "Sungguh, aku merasa jika dia ada di sini semua lebih baik. Aku sayang padanya, walaupun jarang mengucapkan itu."