
Firli masih menatap jauh ke luar jendela. Ia masih mengingat wajah kecewa Rai akibat perilaku Gladis. Sebelumnya ia memang ingin menyadarkan pria itu, tapi melihat wajahnya yang kecewa membuat Firli tidak tega.
"Besok Senin lebih baik kamu bicara dengannya," saran Andrean.
Firli menggeleng. "Dan membuat kamu kecewa?" Firli mendengus. Kemudian ia menepuk-nepuk pahanya. "Dia pasti bisa melewati semua itu. Aku lebih memilih meminta Misyel untuk membantunya," idenya. Andrean mengangguk. Ia juga sangat keberatan sebenarnya jika Firli harus berada dekat dengan pria itu.
Akhirnya mobil mereka menepi di depan rumah utama. Kabar jika Ayah dan Bunda sudah kembali dari Kanada membuat keduanya buru-buru turun dari mobil dan berjalan masuk menuju ruang tamu keluarga.
Ruangan itu masih terlihat megah seperti biasanya dengan ornamen keemasan. Yang lainnya memang hanya sekedar cat, tapi foto pernikahan Ayah dan Bunda dibingkai dengan emas sesungguhnya.
"Salam Ayah, salam Bunda," sapa Andrean. Ia menunduk di depan kedua orang tuanya diikuti Firli dari belakang.
"Kalian pergi ke mana?" tanya Bunda.
Andrean dan Firli duduk bersebelahan di sofa yang berhadapan dengan kedua orang tuanya. "Kami pergi menemui teman," jawab Andrean.
"Baguslah. Sekarang kau mulai belajar bergaul. Namun ingat, ada batasnya," Abellard menasehati. Andrean mengangguk.
Abellard menghembuskan napas dengan berat. Ia menatap Firli. "Nak, ayah harap apa yang kau dengar sekarang tidak menjadi beban batinmu," ucap Abellard. Meski mencoba bersikap biasa, kalimat ayah mertuanya itu tetap saja membuat Firli was-was. Abellard menyimpan sebuah amplop coklat besar di atas meja.
"Apa itu, Yah?" tanya Rean bingung.
"Han melayangkan gugatan hak asuh atas Lady. Ia melakukan gugatan atas pernikahan kalian," jawab Abellard.
Andrean tersenyum sinis. Sudah ia duga Handoko akan menempuh semua itu. Sementara itu justru Firli berubah takut. "Aku tidak ingin kembali padanya. Aku ingin di sini dengan kalian," tekan Firli.
Andrean menggenggam tangan kiri Firli. "Dia tidak bisa melakukan apapun karena secara hukum kau sudah menjadi istriku. Kita juga memiliki surat izin dari ibu dan nenek-kakekmu. Selain itu, Mamah juga sudah melakukan pengaduan atas penelantaran anak. Dia tidak memiliki celah," jelas Andrean.
Abellard mengangguk. "Namun tetap saja kita harus waspada. Kemungkinan masih bisa terjadi. Dia bisa saja memiliki bukti yang juga memberatkan kita."
"Kuncinya ada pada Lady. Jika kau sepakat merasa lebih senang berada di sini, mungkin itu akan semakin mempermudah kita," timpal Bunda.
Firli mengangguk. "Bagaimana bisa Firli menerima dia lagi, Bun. Dia meninggalkan kami hingga Mamah depresi dan bunuh diri. Jika tidak ada Bunda dan Ayah, tidak tahu bagaimana nasibku. Aku juga tidak diterima keluarga Nenek dan Kakek yang lain. Walau dia orang tuaku, bukan artinya aku harus selalu menurutinya," keluh Firli.
Andrean mengangguk. "Baktimu sekarang hanya milik suamimu, bukan lagi orang tua itu," tegas Andrean. Firli mengangguk.
"Tidak perlu takut, pengacara keluarga ada untuk memberikan pendampingan hukum. Kami juga meminta Mrs. Charlotte untuk membawa seorang psikolog untuk membuatmu lebih nyaman menghadapinya. Apa yang kau lalui selama ini terlalu berat bagi anak seusiamu, tapi Bunda yakin kau jauh lebih kuat," ucap Anita. Ia bangkit dan berjalan mendekati menantunya kemudian duduk di samping Firli dan memeluknya.
Tak tahu kenapa, mungkin karena sentuhan seorang ibu membuat Firlu bisa begitu terbuka. Ia tiba-tiba saja menjatuhkan air mata. "Bunda, Firli takut mereka memisahkan Firli dengan Bunda," adu Firli. Ia semakin erat memeluk Anita. Sementara itu tangan Anita menepuk punggung Firli.
"Tak apa, menangislah. Kau terlalu lama menahan amarahmu," saran Anita. Firli mengangguk. Terdengar sedu sedannya menumpahkan hati yang pedih. Ia berusaha untuk kuat dan bertahan selama ini, tapi nyatanya menerima keadaannya dengan Bapakanya tidak semudah itu.
"Kenapa ia tidak bisa seperti Ayah yang menyayangi aku dan Andrean. Ia lebih mementingkan harta dan wanita lain. Ia begitu membela anak tirinya, tapi Firli ia tinggalkan begitu saja. Belum Angie itu sangat jahat," lanjut Firli.
Andrean dan Abellard saling bertatapan. Mereka sama-sama melenguh. Biasa melihat Firli begitu ceria membuat mereka tersiksa mendengar tangisnya.
"Ayah dan Bunda tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu dari kami. Ingat itu, Lady. Kamu bagian keluarga ini dan selamanya akan seperti itu," tekan Abellard. Firli mengusap air matanya kemudian mengangguk. Ia melepaskan pelukan Anita sambil terisak-isak.
Malam berganti pagi, ketika Firli terbangun dengan matanya yang bengkak hingga ia harus mengompres matanya dengan es sambil berendam di dalam bathtub. Menangis semalaman juga membuat lehernya sakit. Namun karena Andrean terus memeluknya, perasaan Firli semakin tenang. Hari Senin nanti ia harus bolos untuk datang memenuhi panggilan pengadilan sebagai saksi anak.
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Itu pasti Andrean yang merasa heran karena Firli terlalu lama di kamar mandi. Pria itu memang tidak sabaran sekali. Firli bangkit dan meraih kimononya. Ia berjalan menuju kaca besar di atas wastafel dan berkaca untuk memastikan matanya sudah kembali normal. Ketika yakin semua kembali membaik, Firli membuka pintu kamar mandinya.
Andrean bebar sudah berdiri di sana sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Lama sekali, kau bisa ....," ucapnya terpotong karena tiba-tiba Firli bersin. Andrean geleng-geleng. "Benarkan, istriku sayang. Kau terkena flu karena mandi terlalu lama." Dengan gemas Andrean mencubit pipi Firli. "Berpakaian dulu sana, terus duduk duduk terlentang di tempat tidur. Jangan rebahan, itu akan semakin membuat flu memberat," nasehatnya.
Firli mengangguk-angguk. Ia langsung masuk ke dalam walking closet dari pintu luar kemudian memakai pakaian yang sudah disiapkan pelayan. Sementara itu Andrean memanggil dokter pribadi keluarga mereka. Besok Firli harus ke pengadilan dan sebaiknya ia dalam keadaan sehat, jika tidak Andrean semakin khawatir. Ia ingin menemani Firli tapi Ayah melarangnya.
Tak lama Firli keluar setelah berpakaian. "Duduk," titah Andrean sambil menepuk-nepuk sisi tempat tidur sebelah ia duduk. Firli menurut dan duduk di sana. Setelah itu Andrean tiba-tiba mengecup pipi Firli. "Yang kuat, kamu pasti bisa," ucapnya sambil mengusap rambut Firli dengan lembut.
Firli menatap dalam mata suaminya. "Rean, bisa cium Firli?" tanyanya. Mendengar itu Andrean sedikit kaget. Namun ia tetap meraih pipi istrinya kemudian menyentuh bibir istrinya dengan bibirnya. Tangan Andrean berpindah ke punggung Firli dan memeluknya erat gadis itu. Sementara Firli melingkarkan lengannya di leher Andrean. Bibir mereka masih bersentuhan dan bergerak dengan saling mengimbangi. Jatung keduanya berdetak membentuk sebuah harmoni.
*Jika ada alasan kita berpisah, haruslah karena berakhirnya hidup kita berdua di dunia ini.
-Andrean*-
**Wuh, sampai sini kalian suka, kah? Ada yang memberi saran agar mereka cepat kuliah. Spoiler : setelah masalah dengan Bapaknya Firli selesai, akan langsung ke bagian mereka lulus SMA. Kisah Ghea dan Putra juga akan ikut dibahas lebih dalam.
Ouh iya, di wp : digi8saikai_nha nanti akan ada novel romantis tentang cinta segitiga. Itu adalah bagian lain kisah novel author yang diusakan akan terbit tahun depan. Aamiin.
Nanti pas perilisannya author harap readers juga bisa ikut membaca dan menyumbang vote. Author akan memberikan jadwal rilis di sini. Latar novelnya akan berada di : Bandung, Paris, Austria, Aussie dan juga Amerika. 😍😍. Nantikan ya**.