Highschool Wife

Highschool Wife
Pria malang



"Andrean!" sapa Wili. Andrean mengangguk lalu tersenyum kecil melihat teman-temannya datang. Satu persatu Andrean menyapa mereka. Hari ini dia diundang untuk merayakan kedatangan Wili di Bandung setelah lama menetap di Hamburg. Wili hanya berkunjung selama satu minggu sehingga Andrean tidak ingin meninggalkan moment langka ini.


"Aku pikir Rean tidak akan datang," seru Helen kura-kura dalam perahu. Andrean menggeser kursinya ke dekat dinding agar Helen tidak bisa mendapat tempat di sampingnya karena ada Wili yang sudah duduk di samping pria itu itu. Namun Helen tidak ingin kalah, ia beberapa kali menepuk Wili dengan kuat dan memberi isyarat agar pria itu pindah.


Wili tertawa lalu ia bangkit dan membiarkan Helen duduk di sana. "Kamu dari rumah jam berapa? Kok datang lebih awal?" tanya Helen.


Andrean tidak menimpali. Ia lebih memilih menatap Gama yang duduk di hadapannya. "Gam, pesana kemarin jangan lupa!"


Melihat itu, Helen melipat kedua tangannya di dada. "Kamu kok mendiamkan aku begitu?" keluh Helen. Ia memegang pipi Rean dan memaksa pria itu melihat ke arahnya. "Aku tanya kamu, loh!"


Andrean menatap gadis itu datar. "Maaf, aku pikir kamu nanya Wili," jawab Andrean ketus. Helen lumayan dibuat kesal karena itu.


"Padahal kalian cocok, loh! Kenapa tidak jadian saja?" goda Wili. Median yang duduk di samping Wili mengangguk. Rean tentu tidak lupa jika teman-temannya selalu memaksa ia bersama dengan Helen.


"Kamu pasti gak tahu, 'kan? Helen belajar masak untuk kamu," Greta ikut berkomentar.


Helen tersenyum, ia merasa sudah menang karena mendapat banyak dukungan. "Apa aku peduli?" tanya Andrean ketus.


Helen menatapnya tajam. "Kamu kenapa, sih? Kita sedang ingin berkumpul dan bersenang-senang. Kenapa malah ketus begitu?" tanya Helen. Gama meneguk air liurnya.


"Aku juga berniat begitu. Namun sikapmu membuatku semakin muak," tekan Andrean. Pria itu bangkit dan meraih jaket yang ia sampirkan di sandaran kursi.


"Rean!" panggil Helen sambil menarik tangan Rean. Wanita itu ikut berdiri dan menatap lurus wajah pria yang sudah sangat lama ia sukai. "Apa salahku? Sejak dulu aku sudah mencintai kamu. Aku lebih dulu mengenalmu dan lebih dulu bersamamu. Tiba-tiba saja wanita itu datang dan kau dipaksa menikah dengannya. Harusnya kita bisa bersama," tekan Helen.


Selesai ia berucap terdengar suara tepukan tangan. Seluruh orang yang ada di ruangan itu kontan menoleh ke sumber suara. "Caramu bersikap seolah kau sudah memiliki hak paten atas adik iparku. Apa di jidat Andrean ada namamu, jika tidak jangan memaksa." Briana menghampiri Helen dan menoyor kening wanita itu.


"Penganggu datang!" umpat Greta. Helen menarik napas panjang. "Kenapa masih berani datang? Bukannya kau sudah keluar dari lingkaran pertemanan ini?" sindir Greta. Ia tidak terima sahabatnya diperlakukan tidak sopan oleh Briana.


Helen tersenyum sinis. "Ouh, kenapa aku lupa jika keluarganya bangkrut," tambah Helen.


Briana masih terlihat santai. "Setidaknya aku tidak mengekor pada pria yang tidak mau padaku. Lihat dirimu! Seperti wanita murahan saja, menggoda suami orang!" umpat Briana.


Andrean bergerak maju, ia menarik lengan wanita itu. "Ayo, Bri! Kita pulang saja, sebaiknya jangan bermasalah dengan mereka," nasehat Andrean. Briana menepis tangan pria itu. "Kau pulang saja, sebelum Firli tahu kau bertemu dengan iblis ulat ini!"


"Jaga mulutmu, ya! Orang rendahan sepertimu tidak pantas mengataiku!" balas Helen.


"Rendahan?" tanya Briana.


Setelah itu Helen terdiam karena tiba-tiba mendapat tamparan di pipinya lumayan keras. Helen yang sempat menunduk menahan sakit kembali menatap ke arah Briana dengan maksud membalas wanita itu. Namun ia kaget karena bukan Briana, ternyata Andrean yang melakukan itu.


"Saat mulutmu berkata seperti itu, tanpa sadar kau yang membuat dirimu rendah!" Rean menunjuk wajah Helen sambil menatap dengan tajam.


Briana sampai kaget melihatnya. "Rean! Kamu kenapa, sih? Kasian Helen!" Median sedikit mendorong tubuh Andrean dengan maksud menyadarkannya.


Sementara itu Briana tidak menimpali. Ia berbalik lalu berjalan pergi. Rean dan Gama langsung menyusulnya keluar restoran. Mereka tahu Briana pasti sakit hati karena ucapan Helen.


"Bri!" panggil Andrean. Ia sempat menahan gadis itu tapi Briana terus mendorongnya menjauh. "Dengar dulu! Tidak perlu pikirkan mereka," nasehat Andrean. Briana tidak menggubrisnya. Ketika Briana membuka pintu restoran, ia kaget karena berpapasan dengan seorang pria. Wanita itu bisa mengenalinya.


"Kau!" seru Briana. Wajahnya jauh berubah dari saat itu meninggalkan meja tempat kelompok itu berkumpul.


"Monsieur," sapa Rai begitu melihat Andrean di sana. Rean tersenyum membalas sapaan Rain. Sementara itu Briana kembali terlihat kesal.


"Halo!" panggil Briana sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Rai. Karena itu, Rai merasa terganggu dan menatapnya. "Kau ini benar-benar," ucap Briana kesal.


"Kau siapa?" tanya Rai bingung karena tiba-tiba ada seorang wanita yang berbicara sok akrab dengannya. Sebenarnya memang sudah sikap asli Rai yang tidak mudah terpana dengan wajah cantik wanita. Dengan Gladis, anggap saja itu kecelakaan.


Briana mengangkat tangan lalu menapar pria itu dengan keras. Andrean dan Gama langsung melongo, Rai jauh lebih lagi. "Beraninya kau melakukan ini padaku!" Karena suara Briana yang lantang membuat seisi restoran melihat ke arahnya. "Kau sadar tidak sudah melecehkanku!" bentak Briana lagi.


Rai masih terdiam kebingungan. Apa salahnya, ia baru turun dari mobil dan berniat makan karena sudah terlalu lapar pulang dari latihan sepakbola. Baru saja ia membuka pintu dan hanya berpapasan dengan wanita. Dimana bagian ia melecehkannya?


Briana mendengus lalu berjalan pergi meninggalkan mereka. Seisi restoran menatap Rai dengan tatapan kesal. Mereka pasti menganggap serius ucapan Briana. Andrean menepuk pundak pria itu. "Maaf, saudaraku itu memang agak tidak normal." Andrean menarik Rai keluar restoran sebelum ia habis dikatai pengunjung restoran yang lain. Gama mengikuti mereka.


Sementara itu Briana masih berjalan menuju mobilnya. Ia terus mengomel hingga tiba di depan mobil lalu mengeluarkan kunci mobilnya. Namun begitu ia menekan kunci otomatis mobil itu, pintunya tidak juga terbuka. Briana kesal dan menendang mobil hitam itu. "Sialan! Kenapa tidak mau terbuka?" Omel Briana.


"Itu mobilku," ucap Rai lirih ketika ia melihat mobil kesayangannya sudah habis ditendangi wanita yang tiba-tiba menamparnya tadi. Briana menengok merk yang menepel di bagian depan body mobil. Ia kaget karena ternyata mobil sedan itu memang bukan miliknya. "Siapa suruh beli mobil sama-sama hitam!" umpat Briana. Ia berjalan pada mobil sedan di samping mobil Rai dan ternyata saat menarik tuas pintu, bisa terbuka dengan mudah.


"Sengaja parkir bahkan di sampingku dan kau masih pura-pura tidak tahu aku siapa?" Briana mendengus. Sebelum ia tutup pintu mobilnya, ia kembali menendang pintu mobil Rai.


Andrean geleng-geleng kepala. Setelah ini, dia akan sibuk meminta ampunan Rai akan perbuatan gadis itu. Mobil Briana meninggalkan lapangan parkir. "Sial! Bagaimana bisa ia tidak ingat wajah cantikku? Ini namanya pelecehan! Ia menganggap rendah pesonaku!" Briana menepuk kemudi mobil dengan keras.


Rai masih menatap arah ke mana mobil Briana pergi dengan tatapan kosong. "Apa kalian sedang menjahiliku?" tanya Rai pada Andrean dan Gama. Kedua pria itu hanya nyengir kuda.