Highschool Wife

Highschool Wife
Kenapa aku suka coklat



"Rean! Tebak!" Firli berlari dan memeluk suaminya begitu turun dari mobil. Andrean bisa membaca dari ekspresi Firli. "Kita memenangkan persidangan?" tebak Andrean. Firli mengangguk. Tidak ada yang lebih membuatnya senang dibandingkan bisa kembali pada keluarganya kini.


"Jadi, mereka tidak bisa memaklumi alasan Bapak meninggalkan aku dan Mamah. Selain itu, mereka tidak bisa membatalkan pernikahan kita karena sudah sah," jelas Firli.


Andrean mengangguk. Ia usap rambut Firli dengan lembut. Namun Andrean sadar jika kebersamaan keduanya menjadi perhatian beberapa orang yang juga ada di sana.


"Ayah pasti lelah." Andrean melepas pelukannya pada Firli dan menunduk tanda hormat pada Ayahnya. Abellard tertawa melihat perilaku Andrean yang jelas sedang salah tingkah.


"Tak perlu pikirkan Ayah, lagi pula ada Bunda. Lebih baik kalian rayakan berdua kemenangan ini," timpal Abellard membuat putra dan menantunya menunduk malu. Abellard menuntun Anita masuk ke dalam rumah diikuti pelayan yang lain sementara Andrean dan Firli masih di sana menikmati wajah mereka yang merona.


"Briana mana?" tanya Firli karena melihat gadis itu tidak menyambutnya.


"Orangtuanya sudah tiba, jadi dia menjemput mereka ke bandara. Briana hanya menginap di sini sampai orangtuanya datang," jawab Andrean.


Ia mengasongkan tangannya pada Firli. Gadis itu sempat menatap Andrean dengan heran. "Tidak mau ke rumah kita?" tanya Andrean. Firli mengangguk lalu meraih tangan suaminya.


Mereka jalan memutar melalui jalan setapak yang memutari tembok luar rumah utama. Firli berjalan di atas tembok pembatas jalan setapak dengan taman di sisi tembok rumah. Sementara Andrean menuntunnya agar tidak jatuh.


"Kadang aku berpikir hidupku ini sulit. Tahu tidak, aku tadi di persidangan bertemu dengan anak perempuan seusiaku. Kami sempat mengobrol. Ia bilang dipaksa menikah dengan pria yang dua puluh tahun lebih tua darinya. Bahkan ia menangis saat bercerita padaku," cerita Firli.


Andrean tertawa. "Jika aku lebih tua dua puluh tahun, apa kau juga akan menangis seperti itu?" tanyanya jahil.


"Lain jika kau setampan Tom Cruise atau Ashton Kutcher," timpal Firli.


"Mungkin kau harus belajar jadi wanita kuat seperti Briana. Dulu ia memiliki Revan dan juga Papanya ketika sakit. Namun sekarang saat ia sembuh, justru Revan dan Papanya jatuh sakit," ucap Rean.


Firli menunduk. Ia sempat mendengar cerita Briana jika keadaan ekonomi keluarganya sedang mengalami kemunduran karena Papanya sakit parah. Bahkan biaya pengobatan Papanya di luar negeri sudah tidak mampu dipenuhi sehingga harus dipindahkan ke Indonesia. Bahkan Briana juga harus pindah sekolah.


"Apa Ayah akan berusaha membantu Briana sekolah di Bimasakti?" tanya Firli.


Andrean mengangguk. "Briana akan mulai masuk sekolah esok. Aku harap kau membantunya beradaptasi. Sejak kecil ia tumbuh di luar negeri. Belum ia baru tiga tahun merasakan bersekolah di sekolah biasa setelah bertahun-tahun homeschooling," lanjut Andrean.


"Ia pasti sulit bergaul," tebak Firli.


Andrean menggeleng. "Ia cukup mudah bergaul. Bahkan dengan teman masa SD sebelum ia masuk rumah sakit, ia cukup dekat. Hanya saja, ia terlalu banyak ...." Andrean tidak melanjutkan kalimatnya.


"Menyimpan kepedihannya sendiri?" tebak Firli.


Andrean mengangguk. Tanpa sengaja Firli melihat buku catatan suaminya. Membaca itu banyak membuat hatinya sesak. Ia selalu berpikir jika selama ini Andrean tidak memiliki beban, justru ia yang paling menderita dengan keadaan keluarganya. Ia merasa bersalah dengan banyak orang setelah Andrevan koma. Termasuk pada Briana dan kedua orangtuanya.


Andrean mengawang. Ia menyusuri kenangan masa kecilnya. Anak lain memiliki hari Minggu untuk menghabiskan waktu dengan orangtuanya. Namun Andrean tidak. Bahkan tidak setiap Minggu ia bisa menghubungi kedua orangtuanya.


Sudah belasan orang yang menenangkan Andrean agar berhenti merenung. Bahkan sudah lebih dari tiga jam ia duduk di atas ayunan tanpa menanggapi orang-orang yang mengajaknya bicara.


"Monsieur, bukankah sudah waktunya makan siang?" tawar Mrs. Charlotte pada anak laki-laki yang saat itu masih berusia enam tahun. Andrean lagi-lagi tidak menanggapi. Ia masih menunduk menatap kakinya yang menggantung hanya menyentuh ujung daun rerumputan.


Mrs. Charlotte hampir menyerah. Ia merasa bersalah dengan anak itu. Sejak pagi ia sudah bersemangat mandi dan pergi sarapan. Namun begitu kedua orangtuanya tidak menghubungi karena keadaan Kakaknya yang kembali turun, Andrean berlari ke halaman belakang dan duduk di ayunan hingga siang hampir berlalu.


"Tidakkah Monsieur sayang pada Monsieur Andrevan?" pancing Mrs. Charlotte. Andrean menggenggam erat rantai ayunannya.


Bahkan sejak ia berusia dua tahun, Bunda sudah sering meninggalkannya. Ia hanya tahu peluk hangat kakek dan neneknya juga Mrs. Charlotte. Semua itu terjadi karena Andrevan.


"Jika aku sakit apa Bunda akan memperhatikanku seperti Revan?" tanya mulut mungil Andrean dengan lirih.


"Tentu, anda sangat berharga bagi Bunda," jawab Mrs. Charlotte.


Andrean menggeleng. "Iya, 'kah? Minggu lalu aku demam dan Bunda hanya meminta Mrs. untuk memanggil dokter," bantah Andrean.


Mrs. Charlotte hanya bisa terdiam. "Apa Mrs. Charlotte perlu waktu enam bulan sekali untuk bertemu dengan orangtua?" tanya Andrean lagi.


Ia berdiri dari ayunan dan menatap mata pengasuhnya itu. "Katakan, siapa yang mengambil raportku ke sekolah? Nenek dan Kakek! Siapa yang merawatku ketika sakit? Dokter Edward! Siapa yang menyuapiku dan menyiapkan keperluanku? Mrs. Charlotte. Lalu apa yang Bunda dan Ayah lakukan untukku?"


Setelah berkata seperti itu, Andrean berlari masuk ke dalam rumah. Ia meneriaki setiap orang yang mengikutinya untuk menjauh. Mrs. Charlotte membiarkannya. Andrean hanya butuh waktu untuk sendiri. Begitu hari berganti dan malam berlalu, esok ia akan membaik karena satu hal ....


"Rean, mau plester?" tanya seorang anak perempuan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya lalu berdiri di sampingnya sambil mengasongkan sebuah plester.


Andrean mendongak lalu mengusap air matanya. "Mrs. Charlotte bilang, kau sedang terluka. Plester ini mudah menyembuhkan luka. Dimana aku harus menepelkannya? Lutus atau jidat?" tanya anak perempuan seusianya itu.


Andrean mengerutkan dahinya. "Hatiku yang terluka," jawab Andrean lirih.


Anak perempuan itu menyimpan plester di atas lantai lalu memeluk Andrean erat dan menepuk punggungnya. "Mamah bilang, luka di hati hanya hilang dengan pelukan. Kau boleh menangis sampai lukanya hilang," lanjut anak perempuan itu.


Andrean terdiam. Ia merasakan hatinya yang kedinginan mulai menghangat. "Menangis saja, aku janji tidak akan bilang-bilang. Kalau tidak percaya, aku akan berikan coklat jika aku bohong."


Andrean menenggelamkan wajahnya dalam pelukan anak perempuan itu. "Aku hanya ingin Ayah dan Bunda," keluh Andrean. Air matanya mengalir lagi. Ia semakin erat memeluk anak perempuan itu. Anak perempuan yang setelah itu menjadi tempatnya berbagi dan kini setelah sebelas tahun lamanya Rean tuntun ketika berjalan.


"Rean, aku janji akan bersikap baik! Kalau tidak percaya, aku akan berikan coklat jika aku bohong!" ucap Firli sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya. Andrean mengusap rambut Firli sambil tersenyum.


"Aku tidak butuh coklat, aku hanya butuh kau," ucap Rean sambil mengecup kening Firli.