Highschool Wife

Highschool Wife
Suami-istri



Andrean menggendong Firli. Ia sudahberusaha membujuk gadis itu berjalan sendiri tapi istrinya itu malah menangis. Komplek perumahan ini memang besar sehingga tidak mungkin suara istrinya akan terdengar sampai ke tetangga, hanya saja petugas keamanan yang berjaga di pos rumah lain akan tetap mendengar. Firli masih menyembunyikan wajahnya di bahu Rean sementara tubuhnya berbaring dengan dipangku kedua tangan kekar suaminya.


“Kamu berat, tahu!” ledek Andrean ketika mereka hampir sampai di depan pintu paviliun.


“Beban batin aku lebih berat,” kilah Firli. Mendengar itu membuat Andrean terpaksa menurunkannya. Firli berdiri sambil menatap suaminya dengan tatapan kecewa. Sementara Andrean memijiti tangan dan bahunya yang pegal. “Kenapa gak sampai kamar?” protes Firli.


Andrean menoyor jidatnya. “Dasar tidak sopan!” tegurnya. Firli menunduk. Andrean meraih tangan istrinya. Kemudian menuntun gadis itu masuk ke dalam rumah mereka yang tidak kecil. Tangan Andrean mendorong daun pintu dan membiarkan Firli masuk duluan kemudian ia susul. Gadis itu malah berbalik dan memeluknya. “Ini di dalam rumah mana ada hantu.” Andrean melepas pelukan Firli dan menuntunnya masuk.


“Jangan tinggalkan Firli sendiri, tunggu aku sampai tidur!” pinta gadis itu. Andrean tidak menjawab, ia tetap menuntun istrinya menuju kamar. Tiba di kamar mereka berdua, Andrea menutup dan mengunci pintu. Firli tentu tersenyum senang. Itu artinya Andrean akan tidur di sini.


Pria itu naik ke atas tempat tidur dan menepuk tempat tidur di sampingnya. Firli melepas sandal kemudian mengikuti arahan suaminya. Ia tidur di samping Andrean dan lagi-lagi memeluk pinggang Andrean erat. Rean mengusap rambut Firli. Tatapan keduanya saling beradu. “Kalau saja kamu tidak sukses buat aku ketawa, tidak akan aku maafkan,” celetuknya.


Firli mengerutkan jidatnya. “Kalau kamu gak nolong aku tadi juga, tidak akan aku maafkan,” balas Firli. Andrean tersenyum geli. Tangannya berpindah mengusap pipi istrinya. “Firli cemburu sama Helen. Aku takut Rean akan meninggalkan Firli sendirian,” ungkap gadis itu. Andrean mencium keningnya. “Sumpah, kok! Firli gak bermaksud apa-apa sama Rai. Firli hanya curhat tentang Rean dan dia bantu Firli berpikir. Itu saja,” jelas Firli.


Andrean hanya menanggapi dengan senyuman. Kecupan hangat bibir Andrean mendarat di pipi Firli. Pria itu semakin erat memeluk tubuh istrinya. “Hanya kamu yang bisa buat aku tertawa, buat aku cemburu, buat aku khawatir. Istri siapa, sih?” ucap Rean. Ia menempelkan jidatnya di jidat istrinya.


Firli menarik-narik pelan kerah kemeja Andrean. “Kita gak ganti pake piyama?” tanya Firli.


Andrean menggeleng. Ia menguap kemudian mencium jidat Firli dan dengan lembut mendorong kepala Firli ke dalam dekapannya. “Kita tidur, ya? Besok sekolah. Sudah cukup marahannya, capek!” titahnya. Andrean sempat menutup mata sedang Firli justru mendongak dan memperhatikan wajah suaminya, ada memar di pipi Andrean. Firli menebak itu pasti karena kena tonjokkan Rai tadi siang. Firli mengusapnya. Ia merasa bersalah pada Andrean. Sedikitnya ia mulai belajar satu hal, jika memiliki masalah lebih baik membicarakannya dengan suami sendiri daripada orang lain.


Tiba-tiba saja Firli dikagetkan dengan sesuatu. Andrean membuka mata lalu mencium bibirnya. Itu bukan hanya sebuah kecupan tetapi ciuman mesra yang sangat lama. Beberapa kali bibir itu melepas bibir merah muda Firli dan berpindah pada pipi juga kening kemudian kembali meraih bibir Firli dan kali ini disertai suara napas berat pria itu. Awalnya Firli pikir itu akan bertahan lama hingga tiba-tiba Andrean membuka mata, menatap Firli kaget dan berbalik.


Firli terlelap dalam mimpi, tapi bisa ia rasakan sensasi hangat tubuh Andrean. Bibir pria itu menyentuh pipi, leher, bahu dan lengannya. Firli tidak bergeming, rasa kantuk membuatnya lebih memilih tidak memedulikan apa yang suaminya lakukan. Namun hal itu tidak bertahan lama karena setelah itu Andrean kembali bergerak menjauhinya. Firli tersenyum geli. Gerak-gerik pria itu malah semakin aneh, semakin hari.


Hingga waktu berlalu begitu cepat, keheningan malam berganti dengan suara pagi dan juga cahaya mentari yang baru muncul dalam persembunyiannya. Terdengar suara gorden yang tersingkap namun jam tidur yang masih kurang membuat Firli menolak untuk membuka mata. Ia lebih suka berguling-guling mencari kenyamanan tanpa membuka matanya lalu menenggelamkan tubuh ke dalam selimut. Setelah itu suasana menjadi sangat hening dan Firli semakin terlelap.


Jika saja ponselnya tidak berdering, Firli mungkin tidak akan sadar jika cahaya matahari sudah menembus jendela dengan sangat kuat. Firli mulai membuka matanya sambil mendengus dan mengeluh karena tubuhnya begitu menempel pada tempat tidur. Firli bangun menatap jendela kaca tanpa gorden yang menghalanginya telah menunjukan pemandangan siang di luar sana. Firli menepuk jidatnya, ia duduk di atas kasur dan menatap jam besar di dinding dengan merk terkenal dari Swiss.


Mulut Firli terbuka melihat kemana jarum itu menunjuk, matanya pun ikut terbelalak. Pukul sebelas siang dan ia baru bangun. Mata Firli bergerak menemukan pemandangan di sekitarnya yang sepi. Andrean juga sudah tidak ada di atas tempat tidur. Firli ingat dengan ponselnya di nakas, kemudian meraihnya. Ada banyak sekali chat masuk dan kebanyakan berasal dari keempat sahabatnya. Bahkan deringan ponsel ini sejak tadi berasal dari telpon mereka. Sepertinya Elsa bercerita tentang masalah tadi malam.


Firli membuka grup chat, benar yang ia tebak. Ternyata ketiga temannya sudah memadati ruangn chat dengan pertanyaan seputar Firli dan Andrean. Bahkan mereka membuat penafsiran sendiri jika Andrean sudah berselingkuh. Firli tidak tahu bagaimana cara menafsirkan perselingkuhan. Apa ditempeli cewek mirip ulat bulu termasuk berselingkuh?


Firli            : Q baik2 sj


Setelah chat itu Firli langsung meninggalkan ponselnya. Ia turun dari tempat tidur berniat menuju kamar mandi tapi niatnya gagal ketika melihat selembar kertas di atas nakas. Karena terhalang lampu duduk, Firli tidak melihat kertas itu saat mengambil ponsel tadi. Ini catatan dari Andrean. Firli tersenyum ketika melihat nama pria itu di atas kertas kemudian membuka lipatannyan.


Kamu dan aku itu adalah reaktan dan pernikahan kita sebagai katalisnya. Ia mempercepat reaksi diantara kita berdua. Namun reaksi apapun tidak akan bisa merubah katalis menjadi bentuk lain. Dia tidak akan mengalami perubahan yang kekal baik jenis ataupun jumlah. Seperti hubungan kita, tetap terjalin sebagai suami – istri dan hanya kita berdua di dalamnya.


-Andrean-