
Firli tidak habis pikir dengan sikap Andrean. Selesai mandi ia lebih memilih pergi ke perpustakaan dan belajar di sana. Bahkan ia juga sampai ketiduran di sofa ruangan itu hingga tidak tega untuk Firli bangunkan. Gadis itu hanya menyelimuti dan menyimpan bantal pelan-pelan di bawah kepala suaminya. Ketika pagi tiba, Andrean lagi-lagi tidak membangunkan Firli. Jika saja alarm ponsel tidak bersuara keras, mungkin gadis itu akan terlambat lagi.
Jadilah Firli duduk di atas kursi di ruang makan sambil menatap Andrean dingin. Firli menebak-nebak, jangan-jangan Andrean marah gara-gara masalah Firli menonton drama. Memang dia itu susah ditebak. Andrean bahkan tidak menatap Firli dan tetap terpaku dengan makanan di depannya.
“Masih marah?” sindir Firli.
Andrean menggeleng lagi-lagi tanpa menatap istrinya. Justru itu semakin membuat Firli kesal. Selesai makan, Andrean terlebih dahulu berjalan keluar paviliun tempat makan menuju teras belakang rumah utama karena Pak Bram sudah menanti dengan mobil jemputan di sana. Firli juga mengakhiri sarapannya dan menyusul suaminya. Ia melingkarkan lengannya ke lengan suaminya dan malah ditepis Andrean. Namun kali ini keduanya sama-sama kaget.
“Tuh, masih marah!” rengeh Firli sambil berjalan dengan menghentakkan kaki mendahului suaminya. Andrean menggaruk kepalanya. Ia bingung bagaimana menjelaskan pada istrinya itu. Menjadi pengantin remaja memang rumit. Apalagi Firli sangat polos.
Selama di dalam mobil keduanya tak juga saling berbicara. Beberapa kali Andrean mencuri pandang pada istrinya tapi Firli memilih menatap ke luar jendela mobil. Pak Bram sendiri memilih berkonsentrasi pada kemudi mobil. Sepertinya ia menangkap aura pertengkaran diantara pasangan itu belum mereda.
Begitu mobil sampai di samping entrance gedung sekolah, Firli lekas membuka pintu mobil dan turun. Cepat-cepat Andrean menyusulnya. Ia membayangkan Firli lagi-lagi akan menghampiri Rai untuk curhat, karena itu lebih baik ia menghentikannya.
“Tunggu, istriku!” panggil Andrean. Bukan hanya Firli tetapi beberapa siswa di entrance gedung sekolah yang mendengarnya langsung menatap Andrean heran. Pria itu menunduk malu sambil berjalan mendekati Firli dan meraih tangan Firli. Ia menarik istrinya dengan berlari kecil menuju sudut koridor yang sepi. Ia memeluk Firli erat tapi setelah itu ia berlari meninggalkan Firli tanpa berkata apa-apa. Jelas Firli mematung melihat perilaku suaminya itu, tidak tahu harus senang atau sedih menanggapi perilaku pria itu.
“Hei!” panggil sebuah suara hingga Firli kaget dan refleks menepuk lengannya. Ternyata itu Nana, ia baru saja tiba. Namun mata Firli terpaku pada sosok Gama yang berjalan melewati mereka seakan membuat kesan jika Nana dan Gama datang bersamaan. “Tunggu! Kalian berdua?” tebak Firli.
Nana mengangguk. “Ia tadi Gama jemput aku,” jawab Nana. Firli geleng-geleng kepala lalu menatap Nana jahil hingga gadis itu malu dan mencubit pipi Firli gemas. “Pokoknya doain saja supaya langgeng. Syukur-syukur bisa menikah seperti kamu,” ucap Nana.
Firli mengangguk. “Kapan mulai resminya? Kenapa gak kasih tahu aku?” tanya Firli.
“kemarin ‘kan kamu gak masuk sekolah. Mau telpon susah banget angkatnya. Nitip pesan sama Andrean juga gak enak malu. Jadi syukurannya diundur sampai kamu masuk,” jawab Nana.
“Syukuran?” Firli masih belum mengerti apa yang dimaksud sahabatnya itu.
Nana nyengir kuda. “Masa aku sama Gama jadian, tidak ada pengumuman secara resmi, sih?” protes Nana karena sahabatnya itu lambat sekali menanggapi. Firli tersenyum geli. “Pokoknya ajak Andrean juga,” tegas Nana.
“Ya pasti datanglah dia, Gama itu ‘kan ajudannya,” celetuk Firli menyindir pacar Nana yang sering membocorkan rahasia Firli pada Andrean.
@@@
Saat Firli mengambil makalah karya Sigmund Freud berjudul ‘Das Ich Und Das, Firli dikagetkan dengan kehadiran seorang wanita yang bersandar di rak buku sambil melipat tangan di depan dada. Firli menajamkan tatapannya. Kehadiran wanita itu sangat menganggu segala rencana belajarnya. Padahal guru sosiologi sudah menanti rangkuman makalah itu.
“Gladis?” tanya Firli.
Gadis itu tersenyum manis tak seperti biasanya. Firli takut ia kesurupan saat masuk ke ruangan ini atau itu makhluk halus yang menyerupainya. Gladis mengulurkan tangan. “Aku meminta maaf,” ucapnya lembut. Firli mengangkat sebelah alisnya. “Karena sikapku selama ini. Seharusnya aku tidak berbuat sekasar itu sama kamu,” tambahnya. Justru itu semakin membuat Firli takut. Jangan-jangan ia sedang berbicara kepada makhluk halus. Gladis masih mengasongkan tangannya.
Akhirnya Firli balas menjabat tangan Gladis walau masih tersirat keanehan di pikirannya. Ia yakin pasti ada batu di balik udang yang Gladis tebar. Gladis malah sempat menawarkan akan membawakan beberapa buku di tangan Firli. Namun gadis itu menolak. Ia tidak ingin memakan umpan karena bukan ikan.
“Ouh iya, kamu itu kan sudah seperti adiknya Rai. Anggap saja sekarang kita juga saudara. Bukannya lebih baik kalau kita semakin dekat?” tanya Gladis. Firli mengerutkan dahinya. “Rencananya aku mau kita kencan ganda,” tambahnya.
Ingin rasanya Firli menabok kepalanya. Bagaimana bisa dia merencanakan kencan ganda sementara Rean dan Rai sekarang sedang mengibarkan bendera merah gara-gara kemarin. “Kamu memang tidak bertanya soal luka di wajah Rai?” tanya Firli. Ia yakin kemarin melihat luka sedikit di pelipis Rai.
“Ouh, dia bilang kemarin dia jatuh,” jawab Gladis.
Firli mendengus. Bagaimana bisa ia mempercayai penjelasan itu? Jika dia pintar pasti sadar itu luka akibat pukulan bukan jatuh. “Dia bertengkar dengan Andrean,” ungkap Firli.
Gladis nampak kaget mendengar itu. “Pantas saja wajah Andrean terluka,” timpal Gladis membuat Firli heran. Pacarnya juga terluka kenapa lebih memikirkan suami orang?
“Memangnya kenapa kalau wajah Andrean terluka, kan wajah Rai juga terluka?” tegur Firli.
Gladis hanya megangkat kedua bahunya. “Pokoknya aku harap kita bisa kencan ganda. Baguskan, kalau mereka bisa kembali akrab.” Gladis menepuk lengan Firli. Namun sikap dia selama ini tidak akan mudah dipercayai jika tiba-tiba berbuat baik. Tentu saja Firli lebih memilih berhati-hati dengannya. Gadis itu lebih memilih berbalik dan meninggalkannya. Omelan Andrean masih lebih nyaman di dengar daripada kata-kata racun Gladis yang dulu sempat menghancurkan hubungan Rai dengan Firli.
“Kamu mau kemana?” tanya Gladis menyusul Firli. Gadis itu berjalan menyusul Firli lalu menarik lengan seragam Firli. “Jadi kamu nolak?” tanya Gladis. Dia terlihat memaksa sekali.
“Aku ‘kan perlu tanya Andrean,” jelas Firli. Gladis mengangguk, sepertinya ia sedang menahan diri untuk tidak
berkata kasar.
“Oke, aku tunggu, ya?” ucapnya. Sekarang dia yang malah ngeloyor duluan. Sepertinya pelajaran sosiologi di sekolah ini tidak pernah masuk ke dalam otaknya.