Highschool Wife

Highschool Wife
extra part 2



"Andrean!" panggil Firli dari balkon kamar mereka. Rean yang sedang menemani Rio dan Gio main bola di halaman rumah kontan mendongak. Firli melambai-lambai sambil memperlihatkan wajah penuh kebahagiaan.


"Kenapa?" tanya Andrean heran. Lekas Firli berbalik lalu berlari melewati kamar, turun ke tangga lalu ke pintu belakang. Ia membuka pintu kaca yang menjadi sekat halaman luar dengan rumahnya.


Kini mereka punya rumah sendiri. Andrean sudah mulai membangun perusahaannya sendiri. Ia mulai mencicil rumah yang berada tak jauh dari rumah Abellard dan Anita. Tanahnya sangat luas. Lain dengan desain paviliun yang klasik, rumah ini memiliki desain modern. Cahaya matahari masuk ke dalam rumah sehingga hampir setiap sudut mendapat cahaya karena memilik jendela kaca yang besar.


Di halaman belakang ada lapangan basket yang juga bisa digunakan sebagai lapangan futsal juga ada sebuah kolam renang utama selain kolam renang di balkon kamar Andrean dan Firli.


"Rean! Rean!" panggil Firli lagi. Andrean menghampiri istrinya yang berdiri menghadap ke lapangan dari teras belakang. Terlihat wajah penuh cahaya dan goresan senyum di bibir wanita itu.


"Ada apa, istriku?" tanya Andrean. Firli memeluknya erat. Ia tak bisa berhenti mengeluarkan kata-kata penuh kebahagiaan.


"Aku tadi dapat undangan dari kampus. Mereka memberi link yudisium untuk di cek," jelasnya.


"Lalu?" Andrean tak sabar menunggu kelanjutan cerita dari istrinya.


Sambil tersenyum, Firli memainkan rok putihnya. "Aku cek namaku dan aku lulus!" jawab Firli sambil berjingkrak-jingkrak. Andrean tentu sama senangnya. Akhirnya setelah lama tertunda, Firli bisa juga menyelesaikan kuliahnya.


"Aku seneng banget! Akhirnya aku bisa benar-benar bebas dari beban kuliah. Aku bisa fokus ngurus Rio sama Gio."


Bukannya senang, kedua anak kembar itu malah menepuk jidat. "Gawat, Dek. Kalau Mamah gak sibuk, pasti kemana-mana kita diawasin." Rio menjatuhkan bola sepaknya hingga menggelinding ke rerumputan.


"Pasti kita kena omel. Mamahkan galak," timpal Gio sambil membuka topinya.


Kalau saja boleh memilih, mereka ingin Firli yang bekerja di kantor dan Andrean yang menjaga mereka di rumah.


"Hai anak-anak! Mamah kalian akan jadi sarjana, loh!" ungkap Firli. Rio dan Gio nyengir kuda. Mereka kelewat malas karena Firli pekerjaannya hanya melarang ini dan itu.


Sementara itu Andrean mengusap rambut istrinya bangga. Rasanya baru kemarin mendengar keluhan Firli tentang tugas kuliah yang sulit.


🌿🌿🌿


"Pah, bisa bilang Mamah, gak? Jangan galak-galak sama Rio dan Gio. Tahu begini mendingan Mamah bikin skripsi lagi," komentar Rio saat Andrean selesai membacakan buku dongeng untuk mereka. Sementara itu Firli sedang sibuk mengisi formulir untuk wisuda di kamar sebelah.


Rio dan Gio sempat akan diberi kamar sendiri-sendiri, tapi mereka tak mau. Katanya tak berani. Jadilah kamar dengan wallpaper bergambar kartun Cars ini menjadi kamar mereka berdua.


Kamarnya sangat luas karena ini kamar utama. Tadinya kamar ini akan jadi kamar Andrean dan Firli. Karena kedua anak itu butuh ruang yang luas, kedua orang tua itu akhirnya mengalah.


"Mamah kalian bukannya galak. Ia hanya ingin kalian baik-baik saja dan tidak celaka," ralat Andrean. Ia menutup buku dongeng dan menyimpannya di atas nakas lalu mengusap rambut ke dua putranya.


Gio mengangkat sebelah alisnya. Ia menyandarkan kepala di bahu Papahnya. "Tapi Papah gak marah-marah," timpal Gio.


Andrean terkekeh. "Kamu tahu, waktu kalian masih dalam perut Mamah, Papah ada di luar negeri. Mamah sendirian jaga kalian di perutnya. Waktu kalian bayi, Papah juga pergi, siapa yang rawat kalian? Mamah sendiri. Dia menyuapi kalian, menjaga kalian sampai tidak tidur. Apa Mamah marah-marah? Tidak."


"Lalu kenapa sekarang Mamah suka marah?" Rio menggaruk keningnya.


Rio dan Gio menggaruk telapak tangannya. "Mamah butuh teman?" tanya Rio. Ia kadang sering mendengar Firli menolak ketika teman-teman kuliahnya mengajak pergi. Wanita itu lebih memilih mengantar Rio dan Gio ke sekolah dan menjaga mereka di rumah.


Andrean mengangguk. "Demi kalian berdua, mamah kalian itu tak bergaul dengan banyak teman juga pergi ke luar rumah. Kalian tahu, sejak kecil mamah lebih banyak melakukan tugas di rumah."


Mendengar itu Rio dan Gio menunduk sedih. Mereka sering bepergian dengan nenek dan kakeknya. Sementara Firli jika tidak kuliah pasti mengurus rumah.


"Kasihan mamah. Pasti mamah sedih, Gio juga sering nakal dan buat mamah pusing." Gio menyadari semua kesalahannya.


Meski tak berkata apapun, Rio juga merasakan hal yang sama. Ia ingat pernah mengamuk dan menendang Firli saat wanita itu melarangnya main di luar. Akhirnya Firli menurut dan keesokan harinya Rio sakit. Semalaman Firli menjaganya sampai tidak tidur.


"Mamah sering bilang kalau dia marah, tapi tak pernah bilang kalau dia sedih. Rio hanya main dengan Gio dan Papah. Mamah gak pernah diajak," keluh Rio.


Ia menyingkap selimut lalu turun dari tempat tidurnya. "Rio, mau ke mana?" tanya Andrean.


"Ke mamah," jawabnya lirih. Bibir Andrean melengkung.


"Gio ikut!" Lekas Gio turun juga dari tempat tidur lalu berlari menghampiri kakaknya.


Sementara itu Firli selesai mengisi lembar form wisudanya juga mengunggah foto untuk ditempel di ijazah. Ia mengusap punggungnya yang nyeri karena terlalu banyak duduk.


"Mah!" panggil Rio dan Gio dari arah pintu yang terbuka. Firli berbalik dan menemukan kedua putranya di sana.


"Lho, anakku kenapa belum tidur? Papah mana?" tanya Firli. Rio dan Gio lekas berlari dan memeluknya. Mereka mencium pipi Firli.


"Ada apa ini? Tumben kalian manis sekali?" tanya Firli heran. Biasanya sikap manis itu hanya ditunjukan mereka pada Andrean.


"Rio sayang mamah. Rio senang mamah bisa lulus kuliah dan Rio janji jadi anak yang baik," ucap Rio. Pelukannya pada Firli semakin erat.


"Gio juga, mah. Mamah itu ibu terbaik di dunia!"


Mendengar itu membuat Firli merasa terharu. Matanya berkaca-kaca. "Mamah juga sayang kalian. Kalian berdua segalanya untuk Mamah." Firli mengecup pipi kedua putranya bergiliran.


Andrean melihat dari pintu kebersamaan ibu dan kedua anaknya itu. Dalam keluarga bukannya tidak saling memperhatikan, masalahnya hanya tidak saling mengungkapkan.


Kali ini Andrean menghampiri mereka dan memeluk keluarga kecilnya. "Apapun yang terjadi, kita inu keluarga dan selamanya akan seperti itu," tekan Andrean.


Firli mengangguk. Belakangan mereka melewati masa sulit. Andrean di luar negeri dan Firli sibuk dengan tugas kuliah. Sekarang kedua orangtua muda itu ingin melakukan hal yang sama, mengganti kebersamaan dengan anak mereka yang sempat hilang.


🌿🌿🌿


Beberapa hari lagi siap-siap untuk novel terbaru author. Hmm, penasaran? Baca terus extrapart Highschool wife untuk mendapat pengumumannya 😘