Highschool Wife

Highschool Wife
Bikin greget



Tiba di Bandung, bukan artinya Tania dengan mudah menemukan pujaan hatinya. Banyak orang yang tahu keluarga Freiz tetapi tidak tahu pasti di mana mereka tinggal. Benar-benar hal yang membuat Tania hampir putus asa. Beberapa hari ia di sini, tetap tidak ada satu pun petunjuk keberadaan Andrean. Bahkan menelisik CV Andrean pun tiada berguna. Banyak hal yang disamarkan di sana. Alamat yang ditulis di CV itu merupakan kediaman keluarga Freiz tetapi dibiarkan kosong hingga beberapa tahun ini.


Ed mencoba menenangkan Tania yang sedang menatap kosong ke arah taman di belakang rumah saudaranya. "Pasti ketemu, Tan. Kalo jodoh gak akan kemana." Ed menyimpan segelas teh di atas meja.


"Makasih, Ed." Tania mengambil gelas itu dan meminum isinya.


"Aku nelpon Andrean tadi dan menanyakan rumahnya, ia menolak karean sedang ada masalah keluarga. Aku juga gak enak maksa, takut dia tersinggung dan marah." Ed merasa kasihan dengan Tania. Gadis itu begitu tulus menyukai Andrean tetapi pria yang dicintainya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan yang sama, entah jual mahal. 


"Justru itu membuatku semakin khawatir, Ed. Maksudku, keadaan keluarganya. Jika masalah itu tidak besar, ia tidak akan keluar dari kampus. Aku hanya ingin membantu. Aku gak mau terus berpikiran dia menderita sendirian."


"Kamu gak salah, Tan. Perasaan kamu bikin kamu peduli sama dia. Tapi kamu juga harus tahu, itu bukan masalah Andrean sendiri. Seluruh keluarga terlibat di dalamnya sementara kamu bukan siapa-siapa dan ikut campur. Jangan buat dia malah menjauh dari kamu," nasehat Ed.


Tania mengangguk. Ed ada benarnya juga. Ia memang harus hati-hati. Salah-salah ia malah membuat Andrean marah. Ia tidak mau kehilangan pria itu hanya karena terlalu terburu-buru. Dalam keadaan bimbang, Brussel tiba-tiba datang sambil berlari. Napasnya terengah-engah dan terlihat wajah tidak sabaran ingin mengungkap tentang apa yang ia temukan. 


"Aku mencari tahu ke banyak informan. Akhirnya dari CV yang berisi nama sekolah Andrean saat SMA, aku ingat jika punya saudara yang bekerja di sana sebagai staff administrasi. Aku tanyain tentang Andrean dan hasilnya ...." Brussel menunjukkan sebuah kertas yang di dalamnya ada sebuah tulisan alamat sebuah rumah.


"Ini apa, Brus?" tanya Ed.


Brussel terlihat bangga pada dirinya sendiri. "Alamat rumah Andrean yang sebenarnya," jawab Brussel.


Ed mengangkat sebelah alis. "Jika rumah kosong lagi bagaimana? Alamat di CV kampus saja bukan alamat asli. Apalagi alamat yang tercantum di formulir SMA." Ed tidak semudah itu mempercayai yang Brussel temukan.


" No, ini alamat asli. Ia yakin karena guru pernah melakukan kunjungan ke sana secara rutin sebagai bagian kegiatan sekolah."


Tania meraih alamat di tangan Brussel. Alamat itu bertuliskan nama sebuah perumahan mewah. Tania melakukan pencarian dengan mesin Google. Ia mendapatkan sebuah fakta jika keamanan perumahan itu terkenal ketat hingga tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana. "Masuk akal jika keadaannya seperti ini. Belum lagi aku lihat di maps, rumah-rumahnya juga luas. Jika kita ukur dengan keadaan rumah Andrean di Manchester, tentu rumah aslinya harus lebih mewah dari itu." 


Apa yang Tania pikirkan langsung disetujui Ed. "Apa kita langsung datang ke sana?" tanya Ed. 


"Gak yakin aku. Keamanan seketat itu pasti tidak mudah ditembus," komentar Brussel. Mendengar itu membuat Tania down.


"Satu-satunya cara kita masuk hanya dengan izin Andrean, cuman dia pasti ogah kasih izin. Apa segitu besarnya masalah dia sampai memutuskan hubungan dengan kita juga. Sekarang, ditelpon saja susah." Ed rasanya mulai emosi.


***


"Sudah coba jelasin soal Firli?" tanya Rai.


Andrean mengangguk. Ia semakin lama semakin merasa terganggu dengan sikap Ed dan Brussel. Setiap kali menelpon minta bertemu pasti membawa nama Tania. Andrean tidak keberatan bertemu mereka, tapi Tania? Lebih baik menjaga hati dan menjauhi sumber kekhilafan dibandingkan membuat semuanya runyam. 


"Mereka tidak percaya. Malah menganggapnya aku bercanda. Tidak tahulah, aku bingung. Akan lebih baik aku menjauh."


"Caranya?"


"Aku bilang ada masalah keluarga. Sementara ini Ed cukup pengertian tidak bertanya lebih dalam. Hanya saja tidak berhenti menjodohkanku dengan Tania."


Andrean rasanya sudah buntu memikirkan masalah ini. Jadilah ia sengaja keluar dan menemui Rai, orang yang paling bijak diantara teman-temannya yang lain. Kalau Gama, Rean yakin pria itu akan memilih main jotos. 


"Menurutku, ada lebih baiknya pertemukan saja. Biar mereka bertemu Firli sendiri. Jika melihat langsung tentu mereka akan percaya," saran Rai. 


Andrean menggeleng. "Aku takut Firli malah down. Tahu sendiri dia itu, belum apa-apa sudah curiga yang tidak-tidak."


Rai terkekeh. "Kamu itu suami tapi sama sekali tidak mengenal karakter istri kamu."


Alis Andrean bertautan. "Firli itu mudah, asal kamu ajak diskusi, ia akan mengerti. Namun sebelum kamu beritahu hal yang tidak enak, iming-imingi dulu dengan hal yang menyenangkan."  


Sepertinya berbicara dengan Rai sedikit memberikan Andrean pencerahan. "Baiklah, aku akan diskusikan dulu dengan Firli sebelum mengundang mereka ke rumah." 


Rai mengangguk. Ia menyeruput seteguk kopinya. "Bagaimana kamu sama Briana?" tanya Andrean. Rai tersedak saat mendengar pertanyaan itu. Rasanya seperti sedang ditagih menikahi anak gadis oleh ayahnya sendiri.


"Baik, meski kadang masih kurang nyaman dengan sikapnya yang blak-blakan," jawab Rai enteng.


Andrean terkekeh. "Kalian berdua memang dua orang yang jauh berbeda. Seperti air dan api. Tapi sepertinya Briana jauh lebih mendominasi. Memang tidak takut kalau menikah dia bikin kamu jadi suami takut istri?" Andrean menakut-nakuti Rai.


Namun Rai bukan orang yang mudah terintimidasi, kecuali oleh Briana. "Bukannya semua pria seperti itu? Jangankan oleh wanita yang terang-terangan seperti Briana. Oleh Firli yang imut saja Andrean takut."


Satu paraghraf yang membuat Andrean mati kutu. Ia tidak berani lagi membahas masalah dominasi wanita. "Itu bukan takut, hanya takut ia terluka," kilahnya. Namun malah mendapat respon tawa renyah Rai.


"Kalau dia terluka batinnya, dia akan sakit. Kalau sakit, siapa yang repot?" Lagi-lagi Andrean beralasan. Padahal Rai melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Andrean menunduk pasrah saat Firli mengomelinya akibat bermain game hingga lupa waktu. 


"Kau tidak marah?" tanya Rai. Ia masih merasa terganjal akan sesuatu.


Andrean menatapnya. "Maksudku, Briana harusnya dengan kakakmu," ucap Rai meski sempat tertahan karena merasa tidak enak.


Sama sekali Andrean tidak berat menimpalinya. Justru wajahnya terlihat enteng. "Aku malah lega ada orang lain yang menjaganya. Maksudku, selama kakakku sakit ia selalu kesepian. Ia memberikan perhatian pada Revan, tapi tidak mendapat perhatian yang sama. Dia pantas mendapat kebahagiaan kini. Jika memang kalian saling mencintai, keluargaku akan mendukung kalian. Hanya saja, tolong jaga dia selamanya."