
Firli bolak-balikmelakukan pencarian dengan key word yang sama, mengatasi pertengkaran suami istri. Menyebalkan memang, tapi menjadi dingin dengan Andrean itu bukan hal yang mudah dan menyenangkan untuk dilakukan. Tetap saja Firli merasa bersalah. Berkali-kali pula ia membuka chat room di aplikasi dengan kontak bernama suamiku, akhirnya ia hanya bisa menutupnya kembali tanpa menekan pesan ataupun menelpon.
“Apa-apaan ini artikel? Kenapa bisa benar, sih?” Firli mengomel sendirian. Sejak tadi ia memang sudah seperti orang kurang waras. Firli duduk di taman sambil komat-kamit seperti dukun santet.
“Kenapa juga jika bertengkar efeknya harus paling besar untuk istri? Memangnya suami
hatinya dimana?” keluh Firli lagi.
Sendirian sejak tadi tak serta merta membuat seseorang ingin mendekatinya. Mungkin untuk sekedar menanyakan keadaan Firli atau membagi cerita dengan perempuan yang sedang pusing itu. Mereka takut. Hanya satu orang yang memiliki keberanian untuk mendekat dan duduk di dekat gadis itu.
“Kamu mengomel sendirian tidak takut jin di samping kamu kabur?” tanya orang itu. Firli mencelat, ia menghadap pada sumber suara. Kemudian wajahnya berubah sumringah melihat sosok Rai di sana.
“Rai!” panggil Firli dengan suara parau. Tak tahu kenapa bukannya senang, Firli malah ingin mengadu segalanya pada pria itu. Firli melihat ke sekitar takut Gladis datang dan mengacaukan semuanya.
“Ini coklat!” Rai mengasongkan sebatang coklat yang langsung Firli ambil dan ia masukan ke dalam sakunya.
“Aku makan coklatnya nanti, sekarang aku sedang dalam tahap pencitraan,” celetuknya.
Rai mengangkat kedua alisnya dengan jidat yang berkerut. “Pencitraan atas apa?” herannya.
“Aku sedang sedih. Pokoknya rumit. Intinya jika makan aku tidak akan terlihat menderita,” jelas Firli.
Sama sekali Rai tidak mengerti maksud gadis itu, tapi ia masih tertawa melihat wajah Firli yang begitu serius mengatakannya. Rai mengusap rambut Firli dengan gemas dan mengacak-acaknya. “Ada apa, cerita?” tanya Rai.
Firli mengadu-adu kedua telunjuknya di depan wajah. “Kamu kan laki-laki, Rai. Mungkin kamu bisa mengerti. Kalu kamu marah karena pacar kamu cemburu itu kenapa?” tanya Firli dengan wajah murung.
Rai semakin heran. “Lha, kalau pacar aku yang cemburu harusnya dia yang marah. Kenapa malah aku?” tanya Rai heran.
Firli mengangguk-angguk. “Iyakan betul! Dia saja memang aneh! Aku yang cemburu dia yang marah-marah!” omel Firli.
“Siapa?” tanya Rai. Wajahnya menyiratkan kewaspadaan. Mungkin memang sindrom seorang kakak yang langsung membangun tameng mendengar adiknya bercerita tentang pria lain. “Kamu punya pacar?” tanya Rai kaget.
Firli memutar bola matanya. “Iya, seperti itulah!” jawab Firli setengah berdusta. Sepertinya rumor pernikahannya belum sampai ke telinga Rai. “Jadi aku cemburu karena dia terlihat dekat dengan sahabat perempuannya. Lalu aku tendang perempuan itu ke kolam. Dia marah-marah karena kesal dengan perilakuku,” lanjut Firli.
Rai mendengus. “Jika dia marah artinya dia puny perasaan pada perempuan itu. Jika dia sayang padamu, dia akan membelamu sampai titik darah penghabisan,” jelas Rai.
Firli mengangguk-angguk. “Itu juga yang Firli maksud. Makanya aku marah padanya. Dia malah balik marah padaku.”
“Putus saja dengannya,” titah Rai pendek.
Firli tertegun. “Tidak bisa, Firli sayang dia,” tolak Firli.
“Tapi dia tidak sayang kamu,” dalih Rai.
Kalimat itu membuat perasaan Firli sakit. Apa iya Andrean tidak menyayanginya? Memang sih, Andrean bilang itu demi kebaikan Firli. Masa demi nama baik Firli, dia harus mengalah melihat suaminya ditempeli wanita gatal?
“Dia sayang Firli, kok! Hanya saja cara pandang dia yang salah. Dia menilai jika perilaku Firli akan membuat namaku jadi jelek. Sedang Firli menilai jika harga diri Firli akan jatuh melihat dia disentuh-sentuh sembarang oleh wanita centil itu,” ucap Firli lirih. Ia terdiam. Kenapa tidak ia pikirkan sejak tadi malam. Ia dan Andrean hanya berbeda paham.
Firli menatap Rai dengan tatapan penuh sesal. “Harusnya Firli bicarakan baik-baik dengan dia. Padahal dia sudah meminta Firli membicarakannya, tapi Firli lebih dulu marah-marah,” keluh Firli. Tanpa sadar air matanya mengalir. Ia takut sekarang akan terlambat jika bicara dengan Andrean.
“Hei, jangan menangis. Ada aku kan di sini?” ucap Rai. Ia menenangkan Firli dengan mengusap punggungnya dengan lembut.
Rai meraih Firli dan memeluknya. Ia menepuk-nepuk punggung gadis itu dan mengusap rambutnya. “Jangan takut! jika kau merasa berat aku akan membantumu. Aku ini kan kakakmu!” ucap Rai lembut. Firli mengangguk-angguk sembari menyandarkan dagunya di bahu Rai. Ia sejenak terkunci akan sesuatu. Rai memeluknya tapi Firli tak merasakan apapun. Ia malah merindukan pelukan Andrean. Ia akan tenang jika kini yang memeluknya adalah suaminya.
Tiba-tiba saja ada yang menarik bahu Firli dengan kasar. Firli kaget hingga berbalik pada orang itu. Setelah memisahkan Rai dengan Firli dengan paksa, ia menarik dasi Rai dengan kasar dan menatapnya tajam. Kontan Rai tidak menerima perlakuan seperti itu. “Siapa kau?” tanya Rai dengan nada tinggi.
“Beraninya kau peluk istriku!” bentak pria yang sudah menjadi suami Firli sejak enam tahun lalu itu.
Firli bangkit. Ia berusaha memisahkan Rai dan Andrean yang sudah saling tatap dan menarik kerah kemeja. “Rean, Firli bisa jelaskan,” ucap Firli. Namun Andrean tidak menggubrisnya.
“Istri apa?” tanya Rai heran.
Andrean mendorong Rai. Untung pria itu tidak sampai terjungkal. “Dia istriku! Dasar tidak tahu adat!” bentak Andrean.
Rai merapikan blazernya. “Ouh, Jika begitu kenapa kau tidak menjaganya dengan baik dan membuatnya menangis?” tanya Rai terdengar meremehkan dan membuat Andrean semakin kesal.
“Siapa kau berani ikut campur masalah rumah tanggaku!” lagi-lagi Andrean mendorong Rai tanda siap memulai peperangan.
“Rean, ini hanya salah paham,” ucap Firli.
Andrean memelototinya. “Salah paham? Ini bukan salah paham jika sebelumnya kau punya perasaan padanya! Sengaja kan kau membawa permasalahan kita agar dia iba dan memelukmu!” bentak Andrean.
Firli menghela napas. “Kenapa kau pikir Firli begitu? Sejak tadi Firli tidak berhenti memikirkanmu!” tegas Firli.
Namun Andrean malah tersenyum sinis. “Jika kau memikirkanku, kau tidak akan mesra-mesraan dengan pria yang sukai,” sindir Andrean.
Firli mengepalkan tangan. “Terserah jika kau tidak percaya. Kau ini memang keras kepala!” kali ini suara Firli dibuat lebih tinggi.
“Kau sebut dia istrimu tapi kau tidak percaya padanya. Payah!” ledek Rai. Hal itu memancing kemarahan Andrean hingga tinju melayang di pipi Rai.
Firli menjerit. Ia mencoba meraih Rai tapi tangannya langsung ditarik oleh Rean. “Jika kau mendekatinya, hubungan kita berakhir!” ancam Andrean. Firli menatapnya kesal. Kemudian ia menatap Rai yang memegangi pipinya yang kesakitan.
“Berani kau mengancam perempuan! Dasar banci!” umpat Rai sambil mendorong Rean hingga oleng dan dalam keadaan seperti itu, ia balas menonjok pipi Andrean. Lagi-lagi Firli menjerit dan ia berusaha meraih Andrean yang jatuh ke tanah. Namun pria itu menghempaskan tangan Firli. Ia bangun dan membalas perbuatan Rai.
Kedua pria itu saling baku hantam hingga beberapa kali sama-sama terjungkal. Firli sendiri kebingungan karena ia takut malah dirinya yang terkena pukulan. Mereka saling menarik kerah kemeja, saling adu jotos dan saling menendang. Namun keduanya sama kuat hingga beberapa menit keadaan seperti itu terjadi masih saja tidak ada yang mengalah.
“Sudah!” teriak Firli. Bahkan kali ini ia sudah mengucurkan air mata. Semua siswa yang melihat kejadian itu hanya bisa menonton dari kejauhan. Jika saja Gama dan Misyel tidak datang dan memisahkan keduanya, Firli tidak tahu apa yang akan terjadi.
Gama meraih Andrean sementara Misyel meraih Rai. Keduanya dengan sepenuh tenaga berusaha menghentikan kedua pria itu. “Rean! Sadar! Jika sampai Monsieur tahu kau akan dihukum!” ucap Gama dengan suara tinggi.
“Rai! Hati-hati dia putra atasan Papamu!” Misyel memperingatkan Rai. Jika saja tidak mendengar hal itu mungkin Rai tidak akan berhenti.
Sementara Andrean menghembuskan napas kesal sambil menarik tangannya dengar kasar dari tangan Gama. Gama melepaskannya karena sepertinya Andrean sudah berhenti menyerang, begitu juga dengan Rai.
“Andrean,” panggil Firli.
Andrean tidak menatap Firli. Ia membelakangi perempuan itu seraya berkata, “Jangan bicara padaku lagi!” tekannya lalu berjalan pergi diikuti Gama dibelakangnya.
Mendengar itu membuat Firli hancur. Ia duduk bersimpuh dengan air mata yang mengalir. Tubuh Firli bergetar dan bibirnya mengatup. Ia bisa merasakan tubuhnya menjadi dingin. Ia takut, akan kehilangan Andrean untuk selamanya dan ia tak bisa melakukan apa-apa.