Highschool Wife

Highschool Wife
Tri semester awal



"Keadaan dia baik-baik saja, kan?" tanya Andrean khawatir. Ia masih memegang tangan Firli berharap sedikit energinya bisa ia berikan untuk istrinya itu. 


Hanya senyum terkembang di bibir dokter keluarga yang datang setengah jam setelah diminta hadir ke paviliun. "Selamat monsieur Andrean. Sepertinya anda akan menjadi seorang ayah. Namun tetap saja, sebaiknya anda membawa Lady untuk melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Usia janinnya masih terlalu muda sehingga sangat rentan," jelas dokter.


Andrean mematung. Ia masih mencoba meyakinkan dirinya jika itu nyata. Sementara itu Abellard dan Anita sudah tersenyum bahagia menyambut cucu pertama mereka. "Apa ini nyata dokter?" tanya Andrean. Ia masih belum percaya hingga akhirnya dokter memperlihatkan anggukan, Andrean terlihat sangat bahagia dan mengecup kening Firli. Baginya tidak ada yang lebih membahagiakan selain mendengar jika buah cintanya telah tercipta dan sedang tumbuh dengan baik. 


"Terima kasih dokter. Setelah Firli bangun saya akan membawanya ke rumah sakit ibu dan anak," timpal Andrean.


Ia masih menatap Firli dengan wajah penuh kebahagiaan. Andrean tidak sabar menunggu istrinya bangun dan memberitahu segalanya. Ia yakin Firli pasti akan senang mendengar kabar jika dalam waktu dekat ia akan menjadi seorang ibu. Hingga dokter dan kedua orangtuanya meninggalkan paviliun, Andrean setia berbaring di samping Firli sambil mengusap perutnya. 


"Selamat datang, Nak!" ucap Andrean.


***


Firli tersenyum dengan wajah berseri melihat janin kecilnya ada di layar USG meski belum terlihat jelas. Usianya baru tiga bulan dan masih sangat muda dan kecil. Ia mengusap perutnya yang masih belum terlihat membesar. "Ia mungil sekali," komentar Firli. Andrean sama senangnya. Meski ia juga tidak menyangka akan diberikan anak secepat ini. 


"Namun karena usia ibunya yang masih terlalu muda, kandungannya bisa lebih rentan. Sebaiknya jika ada rencana pindah ke luar negeri seperti yang kalian ceritakan tadi, akan lebih baik dibatalkan hingga kandungannya sudah cukup tua dan lebih kuat," jelas dokter kandungan yang memeriksa Firli.


Mata Firli menatap Andrean dengan wajah kecewa. Lain dengan suaminya yang seperti tidak terpengaruh dengan kalimat itu. "Sepertinya memang harus dibatalkan. Lagipula saya lebih tenang jika mengurus istri saya selama kehamilan." Andrean menggenggam tangan Firl seakan memberi keyakinan jika ia akan bertanggung jawab hingga akhir.


Hingga mereka meninggalkan rumah sakit dan duduk di jok mobil, keputusan Andrean masih mengusik batin Firli. Suaminya sudah berusaha keras untuk bisa diterima di kampus itu. "Bagaimana dengan kualiahmu?" tanya Firli.


"Anakku lebih penting," jawab Andrean.


"Tapi kampus itu salah satu universitas ternama," Firl mencoba menelaah dalam keyakinan Andrean. Namun tidak ada sama sekali keraguan di wajah suaminya.


"Banyak pengusaha sukses yang kuliah di Indonesia. Aku bisa pindah pertengahan masa kuliah atau melanjutkan di sana untuk S2. Apapun asal tidak meninggalkan bayi kita dan kamu," tegas Andrean.


Firli menggeleng. Ia tidak ingin egois. Dibanding satu tahu lalu, sekarang ia lebih dewasa. "Bukan pertama kali ini kau meninggalkanku. Aku akan baik-baik saja. Lagipula setelah anak kita membesar, aku bisa menyusul," saran Firli.


Ucapannya kali ini tentu langsung ditentang Andrean. "Apa aku tidak pantas melihat anakku semakin besar setiap waktu? Apa aku tidak pantas menjagamu?" tanya Andrean mencoba merubah pikiran istrinya.


Firli mengusap rambut Andrean. "Aku yakin kau pasti lebih bisa menjagaku daripada siapapun. Hanya saja jika kau ayah yang baik maka belajarlah yang rajin dan buat anakmu bangga. Meski kau harus pergi jauh. Itu bukan karena kau tidak menjagaku, justru itu bagian pengorbananmu untuk kami."


Andrean tidak menimpali. Jauh dalam batinnya rasa ingin pergi ke Manchester dan menempuh pendidikan di sana memang ada. Namun rasa itu tidak sebesar keinginannya melihat bayinya tumbuh di dalam perut Firli. Ia tidak ingin kehilangan masa-masa itu. "Ini anak pertamaku," ucap Andrean pilu.


Bahkan anggapan kedua orangtuanya juga tidak sejalan dengan keyakinannya. Sama seperti Firli, mereka menyarankan agar Andrean pergi lebih dulu dan Firli akan menyusul setelahnya. Aura di ruang keluarga kali itu terasa mendung karena pembicaraan yang pelik antara mereka. Firli terus memegang tangan suaminya agar Andrean bisa lebih mengerti dan berangkat lebih dulu.


Andrean menarik napas panjang. Ia mencoba menekan kelemahannya. "Baiklah, tapi satu bulan sebelum keberangkatan ini, biar aku tetap di Bandung untuk menjaga Firli," syaratnya yang langsung diiyakan kedua orangtuanya. Firli merasa senang akhirnya suaminya bisa sedikit mengerti dan mengambil keputusan yang tepat. 


Menurut dokter, usia tujuh bulan sudah mulai aman baginya bepergian. Jika Andrean pergi bulan depan, usia kandungan Firli sudah empat bulan. Artinya ia hanya butuh tiga bulan untuk menunggu. Waktu sesingkat itu pasti akan lebih mudah terlewati karena sebelumnya Firli menunggu Andrean hingga enam tahun. 


"Hanya tiga bulan, Papa," celetuk Firli sambil mencubit gemas pipi Andrean. Pria itu mengangguk. 


"Tapi tetap saja jika kau akan berangkat, biar aku yang menjemput ke sini," tegas Andrean yang dibalas dengan anggukan Firli.


"Kau, sih! Tidak sabaran sekali. Jadikan aku hamil," tegur Firli.


Andrean nyengir. Ia juga tidak menyangka jika kemampuannya sehebat itu. "Baguskan, nanti kamu bisa kontes dengan Ghea," ledeknya. Firli manyun. Ia lingkarkan lengannya di pinggang Andrean. Hari ini dia terlalu bahagian hingga tidak ingin tertidur. Ia takut semua hanya mimpi. 


"Kalau ia lahir kau ingin dipanggil apa?" tanya Firli.


Andrean sedikit berpikir. "Papa saja," jawabnya. Firli tertawa. "Kalau kamu?"


"Mungkin Mama saja," timpal Firli sambil tersipu malu. 


"Mama buntet maksudnya," ledek Andrean. Firli bangun lalu mengambil bantal dan memukul suaminya dengan bantal itu. Andrean malah tertawa. 


Firli mengusap perutnya. "Jangan mengucapkan hal buruk di depan anak kita!" omel Firli. Andrean mengangguk. Firli mengawang lagi. "Ia mungkin akan memiliki wajah yang sama denganmu," ucapnya lagi.


Andrean tersenyum jahil. "Percayalah, untuk bagian itu sebaiknya memang mirip denganku," celetuknya. Firli menatap Andrean heran. "Kasian dia kalau mirip denganmu. Meraih buku di rak ke tiga perpustakaan saja tidak sampai."


Lagi-lagi Andrean terkena serangan bantal dari istrinya. Padahal ia tahu Firli sangat emosian sejak hamil tapi sengaja memancing amarah istrinya terus. "Teruslah meledek. Lagipula meski aku pendek dan buntet, kau tetap saja nafsu melihatku!" Firli melancarkan serangan yang lebih mematikan.


Sayangnya Andrean tidak mudah kalan seperti itu. "Bukannya nafsu. Hanya terpaksa saja karena yang tersedia hanya ini," celetuknya. Meski dicubit dan dipukul Andrean tidak kapok. Ia memeluk Firli dengan gemas. "Kau ini sudah apakan diriku?" tanya Andrean.


Firli mengangkat sebelah alisnya. "Memang kenapa?" tanya Firli.


"Jelas Helen jauh lebih cantik. Bahkan Briana lebih lagi. Namun melihatmu, jangankan Helen dan Briana, pada diriku sendiri saja aku lupa," ucapnya membuat Firli merona. 


"Karena cinta," ucap Firli menyilangkan ujung jempol dan ujung telunjuknya membentuk simbol hati. 


Andrean tertawa. "Kita sudah jadi ibu-ibu dan bapak-bapak masih saja membahas masalah cinta," celetuknya. Firli tertawa. 


**Sambil iklan sedikit ya!


Dira, seorang idol populer yang digilai wanita di negaranya. Namun Bia, wanita pendiam memiliki rahasia tentang Dira. Pria itu adalah ayah kandung dari Divan, putranya.


😘😘 di WP : digi8saikai_nha Author punya cerita yang sama serunya loh. Tentang seorang wanita bernama Bia, yang hamil di luar nikah. Ia kehilangan hidupnya dimulai dari drop out dari kampus, hingga diusir dan dikucilkan. Bahkan Tantenya syok dan meninggal akibat serangan jantung mendengar kehamilan Bia.


Sementara itu, Dira - pria yang menjadi ayah dari bayinya menikmati hidup mewah sebagai seorang idol dan memberikan kisah cinta romantis untuk Cloe- tunangan Dira yang juga seorang pemain film.


Akankah Bia memperoleh kebahagiaab hidup dan membesarkan Divan - putranya dengan baik? Apakah Dira akan bertanggung jawab atas perbuatannya pada Bia?


Baca kisah : The Idol And My Baby di WP. Atau follow IG author digi8saikai_nha dan temukan link : https://linktr.ee/Elaramurako


klik lalu pilih The Idol And My Baby.


❤️❤️❤️❤️ Sampai Jumpa!❤️❤️❤️**