
Ghea berputar-putar di sekitar gedung sekolah. Ia berusaha menemukan sahabatnya yang terpencar tak tahu dimana. Firli katanya sedang di kantin, Nana seperti biasa nempel manja dengan buku-buku di perpustakaan sedang Elsa tak seperti biasanya ingin tidur di kelas karena semalaman ikut sharing tak penting dengan grup pecinta kpopnya.
Tinggalah Ghea sendirian untuk memaksa mereka berkumpul bersama karena ada sesuatu hal yang ingin ia katakan. Terutama tentang ia dan Evano.
Laki-laki itu belakangan memang bergerak cepat mendekatinya. Terutama sejak acara pesta di rumah Rai. Bukannya Ghea tak suka, hanya saja sepertinya Evano menyukainya setelah Ghea berubah lebih lugu. Hal itu yang membuat Ghea tidak yakin jika Evan benar-benar menyukainya.
"FIRLI!" panggil Ghea. Ia langsung duduk di samping Firli tanpa izin. Ghea sempat tertegun melihat Gama bersama cowok ganteng yang sedang menjadi bahan obrolan perempuan-perempuan di sekolah.
"Eh, ada Gama," ucap Ghea pura-pura malu. Ia melirik Firli sambil menyikutnya. "Fir, apaan ini? Dua cowok ganteng semua kau embat!" protesnya.
"Hai Ghea, Evan mana?" tanya Gama yang belakangan ini sering melihat Ghea dengan teman satu klub di taekwondo dengannya. Gama kenal betul dengan Evan jadi dia tahu Evan menunjukan ketertarikan pada gadis itu.
Ghea menggeleng. Ia dengan santainya mengambil jus strawberry Firli yang baru diisi ulang dalam sekali tegukan. "Tadi sih lagi diem di koridor kelasnya ngobrol sama Ridwan," jawab Ghea. Ia menyikut lengan Firli memberi kode tentang cowok ganteng di sampingnya. Ghea ingat cowok itu pernah ngamuk-ngamuk di ruangan OSIS karena Firli dibully Arlitha dan Putra.
"Ini suami gue," tunjuk Firli ke Andrean. Pria itu menunduk tanda salam pada Ghea. Ghea melambai-lambai sambil tersenyum sumringah. "Gak usah ganjen!" protes Firli. Ghea menggeleng-geleng.
"Terima kasih Ghea mau berteman dengan Firli," ucap Andrean sambil tersenyum memancing senyum Ghea yang semakin bertebaran. Mendengar itu Firli menatap Andrean dengan tajam, tapi pria itu malah tersenyum puas membuat istrinya cemburu
Ghea mengangguk. "Tentu tuan besar Freiz. Saya merasa terhormat berteman dengan istri anda tercinta," balas Ghea.
Mendengar itu justru Firli merasa geli. Ghea terlihat sekali sedang mencari perhatiannya. "Hati-hati bebeb, dia kalau sudah baik begitu ujungnya minta sogokan," ledek Firli sambil merangkul lengan Andrean. Ghea mencubit lengan Firli gemas.
"Sudah punya pacar?" tanya Andrean.
Ghea nyengir kuda. "Belum kok, Tuan muda. Kali saja ada gitu teman tuan yang masih jomblo dan butuh istri, saya juga mau seperti Firli," ucapnya sambil tersenyum malu. Kontan itu memancing koor 'hu' dari Gama dan Filri.
"Tak perlu panggil tuan muda, panggil saja Rean seperti Filri. Teman istri saya, berarti teman saya juga," timpal Andrean.
Ghea nyengir kuda sambil meremas tangan Firli. "Dia manggil lo istri so sweet banget!" Ucapan Ghea membuat Firli geli sendiri.
"Rean baru pulang dari London ya? Lama sekali sekolah di sana?" tanya Ghea.
Rean mengangguk. "Iya, sekitar enam tahun. Tak terasa, kok! Tahu-tahu Ayah menelpon meminta pulang kemari karena Firli nakal dan Ayah gak sanggup mendidik," kelakarnya. Firli menelototinya. "Ternyata memang iya, baru suaminya beberapa hari di sini sudah berantem saja sama orang lain."
"Aku gak berantem ya, mereka duluan yang jahat sama aku. Di sini Firli hanya membela diri sendiri," tegas Firli sambil menunjuk-nunjuk meja. Melihat itu justru membuat Andrean tersenyum geli. Ia usap rambut istrinya. "Lagipula emang Mrs. Charlotte saja terlalu banyak larangan. Pantas kalau aku bantah juga," dia membela diri.
"Banyak ngeles lo kayak maling sendal saja. Langsung aja bilang ke intinya. Lo kangen kan sama suami lo!" timpal Ghea.
"Habis ulang tahu Rai di rumah lo," ucap Ghea yang langsung diserbu Firli dengan menutup mulut sahabatnya itu menggunakan telapak tangannya.
Obrolan itu tak lama terhenti ketika melihat Arlitha, Bella dan Angie datang. Ketiganya berdiri di dekat meja dimana Firli duduk.
"Lady aku benar-benar minta maaf," ucap Angie. Dia sempat melirik ke arah Rean sambil tersenyum genit. Sayanya lirikan itu sempat terlihat Firli.
"Minta maaflah kau pada dirimu sendiri," sindir Firli. Mendengar itu Angie menahan napasnya sambil tersenyum sinis. Sepertinya ia masih belum sadar jika Firli tak akan memaafkannya.
Andrean menatap Firli seakan sedang membaca keadaan. Ia menatap gadis yang kini berdiri di dekatnya itu. "Kamu siapa?" tanya Andrean ketus membuat Firli dan Ghea membuka mulutnya lebar-lebar.
Laki-laki normal di sekolah ini pertama kali melihat Angie pasti akan tertegun kemudian menyapa dengan halus. Namun Andrean belum apa-apa sudah main ketus. Level Tuan Muda Freiz memang lain.
"Saya temannya Lady Firli," jawab Angie.
"Sejak kapan kita temenan?" sinis Firli. Ia jadi berani sejak ada Andrean. Benar juga kata Misyel, Firli ada di keluarga Freiz agar dihormati. Bukannya jadi bahan bullyan cewek ganjen sekolah.
"Maaf, saya sudah bilang jika saya menyesal. Saya, Bella dan Arlitha sengaja datang ke sini untuk meminta maaf," jelas Angie menyatakan maksudnya yang Firli yakin tidak tulus.
"Kamu tahu saya siapa?" tanya Andrean menengahi. Angie menggeleng. Dia hanya tahu Andrean pria tampan yang sedang dibicarakan seisi sekolah. "Saya suaminya dan saya tidak izinkan dia memaafkan kamu. Jadi silahkan pergi," umpat Andrean. Lagi-lagi membuat Firli dan Ghea terkejut bukan main. Peluru Andrean benar-benar kejam.
Angie tak kuasa menjawab perkataan Andrean. Dia hanya mengangguk lalu pergi bersama teman-temannya. Sementara Gama bertepuk tangan melihat itu semua. "Monsieur, pantas saja kau dipanggil es balok," ledek Gama membuat Andrean melemparinya dengan kacang atom
"Jadi dia anak tiri Bapak kamu?" tanya Andrean memastikan. Firli mengangguk. Andrean terlihat berpikir sementara. Kemudian ia mendapat sebuah pencerahan.
"Undang dia datang ke rumah untuk makab malam," ucap Rean tiba-tiba.
Mata Firli tebuka lebar. Tak lama ia mengerutkan jidatnya. "Aku benci dia kenapa malah kamu ajak makan malam? Jangan bilang kamu suka sama dia," omel Firli sambil menatap Andrean kesal.
Andrean berusaha menyentuh pipi istrinya tapi malah ditepis begitu saja. "Maksud aku ajak dia makan malam itu, agar kamu bisa menunjukan padanya 'siapa kamu'. Setelah itu dia akan takluk," ungkap Andrean.
Ghea dan Gama mengangguk-angguk. "Tuh, Fir. Contoh suami lo, cerdas!" puji Ghea.
Firli berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Andrean. Sekalian dia akan membuat Bapaknya ikut menyesal.